RADARTUBAN - Perbincangan mengenai emosi dan kesehatan kembali mencuat seiring meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap hubungan antara kondisi mental dan keluhan fisik.
Banyak orang meyakini bahwa memendam emosi berbahaya bagi tubuh, namun di sisi lain, meluapkan emosi secara berlebihan juga kerap dikaitkan dengan berbagai risiko kesehatan.
Dokter sekaligus praktisi kesehatan, dr Zaidul Akbar, turut memberikan pandangannya terkait persoalan ini dalam berbagai kesempatan edukasi kesehatan.
Dia menilai bahwa tubuh manusia tidak hanya merespons asupan makanan dan aktivitas fisik, tetapi juga bereaksi terhadap kondisi batin dan emosi yang dialami.
Menurut dr Zaidul Akbar, emosi yang tidak dikelola dengan baik berpotensi menimbulkan gangguan pada keseimbangan tubuh secara menyeluruh.
Dalam sebuah pernyataan yang dikutip media nasional, dia mengatakan bahwa emosi negatif yang disimpan terlalu lama dapat menjadi beban bagi tubuh.
“Banyak orang fokus pada makanan, padahal yang lebih berbahaya justru emosi yang dipendam,” ujar dr Zaidul Akbar dalam salah satu tayangan edukasi kesehatannya.
Pandangan tersebut mengaitkan erat antara emosi dan kesehatan, khususnya ketika emosi tidak mendapatkan ruang ekspresi yang sehat.
Di sisi lain, dr Zaidul Akbar juga tidak menganjurkan pelampiasan emosi secara berlebihan atau tidak terkontrol.
Dia menilai bahwa kemarahan yang meledak-ledak justru dapat memicu lonjakan hormon stres yang berdampak buruk bagi tubuh.
Kondisi ini sejalan dengan konsep stres emosional, di mana tubuh terus berada dalam situasi siaga akibat tekanan perasaan yang tidak stabil.
Menurut sejumlah kajian medis, stres emosional berkepanjangan dapat meningkatkan risiko tekanan darah tinggi hingga gangguan jantung.
Dalam konteks inilah, dr Zaidul Akbar menekankan pentingnya pengelolaan emosi yang seimbang.
Ia menjelaskan bahwa emosi yang ditekan maupun yang diluapkan secara ekstrem sama-sama berpotensi memicu gangguan kesehatan.
Gangguan tersebut sering kali muncul dalam bentuk penyakit psikosomatis, yaitu keluhan fisik yang dipengaruhi oleh kondisi psikologis.
Gejala penyakit psikosomatis dapat berupa nyeri kepala, gangguan lambung, hingga rasa lelah berkepanjangan tanpa penyebab medis yang jelas.
dr Zaidul Akbar menyebut bahwa tubuh memiliki cara sendiri untuk “berbicara” ketika beban emosi tidak tertangani.
“Tubuh akan mencari jalan keluar jika emosi tidak diselesaikan,” ujarnya dalam salah satu penjelasan yang dikutip media daring.
Pandangan ini menempatkan emosi dan kesehatan sebagai satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.
Meski demikian, dr Zaidul Akbar juga menegaskan bahwa faktor emosi bukan satu-satunya penyebab penyakit.
Ia mengingatkan bahwa pola makan, gaya hidup, dan faktor genetik tetap berperan dalam kondisi kesehatan seseorang.
Pendekatan ini menunjukkan sikap berimbang dalam melihat hubungan antara emosi, stres emosional, dan penyakit.
Para ahli kesehatan jiwa pun menilai bahwa pengelolaan emosi yang sehat dapat membantu menurunkan risiko penyakit psikosomatis.
Cara tersebut dapat dilakukan melalui komunikasi terbuka, relaksasi, olahraga, maupun pendampingan profesional.
Dengan demikian, baik memendam emosi maupun meluapkannya secara tidak terkendali dinilai sama-sama tidak dianjurkan.
Pengelolaan emosi yang tepat menjadi kunci penting dalam menjaga keseimbangan emosi dan kesehatan secara menyeluruh. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama