RADARTUBAN — Olahraga lari dan endurance yang kini tengah tren di masyarakat, termasuk di wilayah Tuban dan sekitarnya, ternyata menyimpan risiko kesehatan yang tidak bisa dipandang sebelah mata.
Fenomena sudden death atau kematian mendadak saat berolahraga sering kali dipicu oleh gangguan irama jantung atau yang secara medis dikenal sebagai aritmia.
Aritmia, Gangguan Irama Jantung yang Bisa Berakibat Fatal
Dalam bincang medis bersama dr. Tirta di channel YouTube Tirta PengPengPeng, dr. I Made Putra Swi Antara, SpJP(K), seorang ahli kelistrikan jantung, membedah secara mendalam mengapa skrining awal menjadi “harga mati” bagi siapa pun yang aktif berolahraga intensitas tinggi.
“Aritmia itu sederhananya jantung tidak berirama dengan baik. Bisa terlalu cepat, terlalu lambat, atau lompat-lompat,” jelas dr. Putra.
Ia menekankan bahwa penyebab tersering aritmia yang berujung fatal adalah faktor genetik atau bawaan lahir, seperti Brugada Syndrome.
Celakanya, gejala pertama dari kondisi ini sering kali justru berupa kematian mendadak tanpa keluhan sebelumnya.
Faktor Elektrolit dan Risiko pada Olahraga Jarak Jauh
Selain faktor genetik, ketidakseimbangan elektrolit juga menjadi pemicu utama, terutama pada olahraga jarak jauh seperti maraton.
Dr. Putra menjelaskan bahwa kehilangan elektrolit akibat keringat berlebih di iklim tropis dapat mengganggu stabilitas listrik jantung.
Bagi orang dengan jantung normal, kondisi ini mungkin hanya menyebabkan pingsan (syncope). Namun bagi mereka yang memiliki kelainan jantung tersembunyi, risikonya bisa berkembang menjadi henti jantung.
Skrining EKG Terbukti Tekan Angka Kematian Mendadak
Kabar baiknya, risiko ini dapat ditekan secara drastis melalui langkah sederhana, yakni pemeriksaan elektrokardiogram (EKG) atau rekam jantung.
“Skrining EKG massal pada atlet di Italia mampu menurunkan angka kematian mendadak dari 7 per 100.000 menjadi hanya 0,6 per 100.000. Ini bukti bahwa skrining itu efektif,” imbuhnya.
Dokter lulusan Universitas Indonesia yang sempat menempuh fellowship di Melbourne ini menyarankan agar setiap orang yang rutin melakukan olahraga intensitas sedang hingga berat—seperti lari di atas 5 kilometer—melakukan EKG setidaknya satu kali dalam setahun.
Ia juga menambahkan bahwa fasilitas EKG kini sudah tersedia di hampir seluruh puskesmas, dengan biaya terjangkau bahkan ditanggung BPJS.
Jangan Abaikan Sinyal Tubuh Saat Berolahraga
Dr. Putra mengingatkan masyarakat agar tidak mengabaikan tanda-tanda tidak biasa dari tubuh saat berolahraga.
“Kalau biasanya lari 10 km aman, tapi tiba-tiba di kilometer ke-8 dada terasa berat atau nyeri yang tidak biasa, segera berhenti. Itu tanda badan memberikan sinyal ada yang tidak beres,” tegasnya.
Tetap Berolahraga, Tapi Lakukan dengan Bijak
Ia menekankan bahwa risiko kematian mendadak seharusnya tidak membuat masyarakat takut berolahraga.
Namun, aktivitas fisik perlu dilakukan dengan bijak, memahami kondisi tubuh sendiri, serta rutin menjalani pemeriksaan medis secara berkala agar manfaat olahraga tidak berubah menjadi ancaman bagi kesehatan. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni