Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Orang Tua Wajib Tahu, Ini Alasan Terjadinya Lonjakan Obesitas pada Jutaan Anak

M Robit Bilhaq • Jumat, 30 Januari 2026 | 13:35 WIB
Ilustrasi balita obesitas.
Ilustrasi balita obesitas.

RADARTUBAN – Laporan dari badan dunia untuk anak-anak, UNICEF, mengungkap fakta mengkhawatirkan.

Pada 2025, sekitar 188 juta anak dan remaja usia 5–19 tahun di dunia mengalami obesitas.

UNICEF memperingatkan bahwa kelebihan berat badan pada usia muda membawa ancaman serius berupa komplikasi medis jangka panjang yang dapat berdampak hingga dewasa.

Jajanan Manis Jadi Pemicu Utama Obesitas Anak

Salah satu faktor utama meningkatnya kasus obesitas pada anak adalah kebiasaan mengonsumsi camilan manis.

Saat ini, jajanan dengan rasa manis dominan, desain unik, serta warna krim dan cerah semakin marak beredar.

Popularitasnya didorong oleh tren media sosial yang membuat produk-produk tersebut cepat viral dan diminati anak-anak.

Perpaduan tampilan visual menarik dan rasa manis membuat jajanan ini laris di pasaran, meski menyimpan risiko kesehatan.

Tinggi Gula dan Pewarna Sintetis Jadi Ancaman Tersembunyi

Di balik kesuksesan penjualannya, muncul kekhawatiran terkait tingginya kandungan gula dan penggunaan pewarna sintetis dalam jajanan tersebut.

Jika dikonsumsi secara rutin dan berlebihan, makanan ini dikhawatirkan berdampak buruk bagi kesehatan anak.

Dokter Ingatkan Dampak Fatal Konsumsi Gula Berlebihan

Seorang ahli medis, dr. Yusuf, melalui laman resmi IPB pada Kamis (29/1), menegaskan bahwa konsumsi gula berlebihan dalam jangka panjang dapat menimbulkan dampak serius.

Menurutnya, asupan gula tinggi berkaitan erat dengan peningkatan risiko obesitas, kerusakan gigi, serta gangguan metabolisme tubuh.

Bahkan pada beberapa anak, konsumsi gula berlebih dapat memicu masalah perilaku dan menurunkan kemampuan konsentrasi.

Anak Lebih Rentan terhadap Efek Zat Tambahan

Meski bahan perasa dan pewarna buatan umumnya berstatus food grade, dr. Yusuf mengingatkan bahwa bahaya tetap ada jika dikonsumsi berlebihan atau dalam jangka panjang.

Risiko ini jauh lebih besar bagi anak-anak karena organ dan sistem tubuh mereka masih berada dalam fase pertumbuhan yang belum sempurna.

Baca Juga: Obesitas Bukan Halangan: Cara Mudah dan Efektif Jalani Pola Hidup Sehat

Krisis Nutrisi di Balik Jajanan Warna-Warni

Maraknya jajanan dengan warna mencolok dinilai berkontribusi pada krisis nutrisi anak.

Produk-produk tersebut umumnya tinggi kalori, lemak, dan gula, namun rendah serat serta nutrisi penting yang dibutuhkan tubuh.

Jika pola makan buruk ini dimulai sejak dini, risiko obesitas akan meningkat dan berpotensi berkembang menjadi penyakit kronis di masa depan.

Baca Juga: Bedah Bariatrik: Solusi Efektif Atasi Obesitas Parah dan Diabetes dengan Teknik Potong Lambung

Ancaman Penyakit Kronis Sejak Usia Muda

Dr. Yusuf menyebut anak obesitas berisiko mengalami berbagai penyakit serius, seperti tekanan darah tinggi, penyakit jantung, hingga diabetes tipe dua, bahkan di usia yang relatif muda.

Kebiasaan Makan Buruk Sulit Diperbaiki

Dampak konsumsi makanan manis sejak dini tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga membentuk pola makan jangka panjang.

Anak yang terbiasa dengan rasa manis cenderung mengalami kecanduan gula dan kesulitan beralih ke makanan sehat yang dianggap kurang menarik.

Selera makan, menurut dr. Yusuf, terbentuk sejak masa kanak-kanak.

Pengawasan Lemah Jadi Celah Masalah

Dalam hal pengendalian, dr. Yusuf menilai regulasi sebenarnya sudah tersedia.

Namun, pengawasan di lapangan masih menjadi tantangan, terutama terhadap jajanan industri rumahan, produk viral musiman, serta penjualan melalui platform digital.

Celah pengawasan terlihat pada pengaturan dosis gula, penggunaan pewarna, dan zat tambahan lain yang kerap luput dari kontrol rutin.

Perlu Regulasi Ketat dan Edukasi Orang Tua

Dr. Yusuf menekankan perlunya langkah nyata dari otoritas, mulai dari pengetatan pengawasan jajanan anak, transparansi label kandungan gula dan bahan tambahan, hingga edukasi berkelanjutan kepada sekolah dan orang tua.

Ia menutup dengan menegaskan pentingnya regulasi yang mampu menciptakan ekosistem pangan sehat, sehingga anak dapat mengonsumsi makanan bergizi, aman, dan tetap menarik secara visual. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#obesitas #kelebihan berat badan #unicef #cemilan manis #gula #anak