RADARTUBAN - Patah hati selama ini sering dipandang sebagai bagian dari kisah cinta yang hanya menyiksa jiwa.
Namun ada fakta yang lebih mengejutkan, kondisi "putus cinta" atau kehilangan orang terdekat ternyata mampu memicu reaksi pada fisik yang sangat nyata, bahkan hingga mengganggu fungsi organ tubuh.
Hormon Stres Meningkat, Jantung Terbebani
Ketika seseorang mengalami penolakan emosional yang intens, otak akan mengirimkan sinyal bahaya.
Tubuh secara otomatis melepaskan hormon kortisol dan adrenalin dalam jumlah besar.
Dampaknya tidak kecil, jantung dipaksa bekerja lebih keras, detaknya menjadi tidak teratur, hingga memicu sesak napas yang sering disalahartikan sebagai serangan jantung biasa.
Baca Juga: Studi Ungkap Pria Lebih Rentan Meninggal Akibat Sindrom Patah Hati, Begini Faktanya
Peradangan Tubuh Akibat Kesepian
Ilmu pengetahuan membuktikan bahwa perasaan terisolasi atau ditinggalkan bukan sekadar beban mental. Dampaknya bisa menyerang sistem kekebalan tubuh melalui reaksi peradangan.
Tubuh yang sedang patah hati berada dalam mode "waspada tinggi" yang justru dapat merusak sel-sel sehat jika dibiarkan berlarut-larut.
"Perasaan terancam atau kesepian akibat ditinggalkan dapat memicu peradangan," ungkap Steve Cole, seorang profesor di Amerika Serikat, sebagaimana dikutip dari laporan ilmiah dalam Chanel YouTube BBC News Indonesia
Otak Menafsirkan Luka Hati sebagai Luka Fisik
Hal yang paling mengejutkan adalah cara kerja otak kita. Penelitian menggunakan alat pemindai menunjukkan bahwa area otak yang aktif saat seseorang mengalami cedera fisik, ternyata juga "aktif" di titik yang sama saat seseorang merasakan sakitnya penolakan sosial atau patah hati.
Bagi otak, rasa sakit hati itu sama nyatanya dengan rasa sakit saat kulit terluka atau tulang yang patah.
Waktu untuk Pulih dan Bangkit
Meski terasa berat, kondisi fisik yang terganggu ini dapat diperbaiki. Kuncinya adalah memberikan waktu bagi diri sendiri untuk memproses duka tanpa tekanan. Mencari dukungan sosial, menjaga pola makan, dan tetap aktif bergerak dapat membantu menyeimbangkan kembali hormon-hormon yang sempat kacau.
Patah hati memang sulit, namun memahami bahwa tubuh kita sedang berjuang secara biologis bisa menjadi motivasi untuk lebih peduli pada kesehatan mental. Sebab, tubuh yang kuat berasal dari jiwa yang sehat. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni