RADARTUBAN – Tren temuan orang dengan Human Immunodeficiency Virus/Acquired Immune Deficiency Syndrome (HIV/AIDS) di Kabupaten Tuban menunjukkan peningkatan dalam empat tahun terakhir.
Fenomena ini kerap dianalogikan seperti gunung es: semakin masif skrining dilakukan, semakin banyak kasus yang teridentifikasi.
Data Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) Tuban mencatat jumlah orang dengan HIV/AIDS (ODHIV) pada 2022 sebanyak 162 orang.
Angka tersebut sempat menurun menjadi 147 orang pada 2023. Namun, pada 2024 jumlahnya melonjak menjadi 227 orang dan kembali meningkat menjadi 254 orang pada 2025.
Baca Juga: Jelang Hari AIDS Sedunia, Apple Gelar Kampanye Donasi Lewat Apple Pay
Sekretaris Dinkes P2KB Tuban, Atiek Supartiningsih, mengatakan peningkatan tersebut tidak serta-merta mencerminkan kegagalan upaya pencegahan.
Sebaliknya, kenaikan angka justru menunjukkan keberhasilan deteksi dini melalui skrining yang digencarkan sejak 2022.
“Angka yang tercatat setiap tahun itu bersifat kumulatif. HIV/AIDS tidak bisa sembuh, sehingga data terus bertambah seiring ditemukannya kasus baru,” ujar Atiek saat diwawancarai Jawa Pos Radar Tuban.
Menurutnya, program skrining difokuskan pada populasi kunci, antara lain penghuni lembaga pemasyarakatan, pekerja tempat hiburan malam, kelompok dengan aktivitas seksual berisiko, serta ibu hamil.
Upaya tersebut dilakukan untuk memastikan kasus dapat ditemukan lebih awal dan segera ditangani.
Atiek menekankan, ketiadaan laporan kasus justru perlu diwaspadai.
“Tidak adanya temuan bukan berarti tidak ada kasus. Bisa jadi skrining tidak berjalan. Padahal, semakin dini ditemukan, semakin besar peluang pengendalian,” katanya.
Dia menjelaskan, AIDS merupakan tahap lanjutan dari infeksi HIV, yang terjadi ketika sistem kekebalan tubuh penderita telah melemah.
Karena itu, kepatuhan mengonsumsi obat antiretroviral (ARV) menjadi kunci utama bagi ODHIV.
“HIV adalah virus yang tidak bisa dimatikan, hanya ditekan agar tidak berkembang. ARV harus diminum seumur hidup meskipun virus sudah tidak terdeteksi,” jelasnya.
Tanpa pengobatan yang teratur dan pola hidup sehat, penderita berisiko memasuki fase AIDS, yang ditandai dengan gejala berat seperti diare berkepanjangan, muntah, hingga kelelahan kronis.
Atiek berharap masyarakat tidak memberi stigma terhadap ODHIV, melainkan mendorong kesadaran untuk melakukan tes HIV secara sukarela.
Dia juga mengingatkan pentingnya menjaga pola hidup sehat dan perilaku seksual yang aman.
“Bagi penderita, kepatuhan berobat sangat penting agar virus tidak berkembang dan kualitas hidup tetap terjaga,” pungkasnya. (saf/ds)
Editor : Yudha Satria Aditama