RADARTUBAN- Dokter sekaligus ahli gizi masyarakat Tan Shot Yen, M.Hum, mengingatkan masyarakat agar tidak menjadikan takjil sebagai ajang makan besar saat berbuka puasa.
Ia menilai kebiasaan mengonsumsi makanan tinggi gula dan lemak secara berlebihan justru berisiko meningkatkan asupan kalori yang tidak dibutuhkan tubuh.
Menurut lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia itu, takjil memiliki fungsi utama untuk membatalkan puasa dan mengembalikan cairan tubuh, bukan sebagai pengganti makan utama.
“Tujuan takjil adalah rehidrasi. Rehidrasi itu air putih, bukan teh manis, bukan susu, apalagi sirup,” ujar Tan Shot Yen saat dihubungi ANTARA, Jumat.
Ia menyarankan berbuka puasa dilakukan secara sederhana, yakni dengan minum air putih dan mengonsumsi tiga butir kurma.
Pola tersebut dinilai mampu membantu menjaga kestabilan gula darah sekaligus memenuhi kebutuhan nutrisi awal setelah berpuasa.
Tan menjelaskan bahwa air putih merupakan pilihan terbaik untuk menggantikan cairan tubuh yang hilang selama puasa.
Sementara itu, kurma dalam jumlah terbatas berfungsi mempersiapkan sistem pencernaan tanpa memberikan beban kalori berlebih.
“Makanan kecil seperti kurma dapat membantu ‘membangunkan’ pencernaan sebelum sholat magrib, tanpa membebani tubuh,” ujarnya.
Bagi masyarakat yang ingin menjaga maupun menurunkan berat badan, Tan menekankan pentingnya pengaturan porsi dan penerapan prinsip gizi seimbang.
“Prinsipnya bukan lebih, bukan kurang, tetapi cukup,” katanya.
Ia juga menyarankan agar setelah berbuka dengan air dan kurma, masyarakat menunaikan sholat magrib terlebih dahulu sebelum melanjutkan dengan makan utama.
Untuk menu makan utama, Tan menganjurkan agar tetap mengacu pada panduan “Isi Piringku” yang dikeluarkan oleh Kementerian Kesehatan.
Pedoman tersebut menekankan komposisi setengah piring berisi sayur dan buah, serta setengah lainnya terdiri atas makanan pokok dan lauk pauk sumber protein.(*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni