RADARTUBAN - Praktik memberikan asupan tambahan berupa madu atau air gula kepada bayi yang baru saja lahir, atau yang secara medis disebut sebagai pemberian makanan pralakteal, ternyata masih sangat umum dijumpai di tengah masyarakat Indonesia.
Kebiasaan ini menjadi salah satu pemicu utama kegagalan program pemberian ASI eksklusif bagi bayi.
Selain faktor tradisi tersebut, tingkat latar belakang pendidikan serta status profesional seorang ibu turut memegang peranan penting dalam menentukan keberhasilan masa menyusui selama enam bulan pertama.
Riset BRIN Petakan Faktor Kegagalan ASI Eksklusif
Seorang peneliti dari Pusat Riset Kependudukan BRIN, Yuli Astuti, telah melakukan kajian mendalam untuk memetakan berbagai unsur yang berdampak pada praktik pemberian ASI eksklusif.
Penelitian tersebut dilakukan dengan menggunakan metode campuran yang melibatkan sebanyak 706 ibu yang memiliki buah hati dalam rentang usia 6 hingga 59 bulan sebagai subjek penelitian.
Baca Juga: Jadi Tren Ibu Muda di Medsos, ASI Bubuk Belum Diketahui Dampaknya
Pendidikan Ibu Berpengaruh Besar terhadap Pola Menyusui
Berdasarkan temuan riset tersebut, terungkap bahwa tingkat pendidikan memiliki pengaruh yang sangat signifikan.
Para ibu yang hanya menamatkan pendidikan di jenjang SMP atau di bawahnya memiliki kecenderungan hingga 8,84 kali lebih besar untuk tidak memberikan ASI secara eksklusif jika dibandingkan dengan para ibu yang mengenyam pendidikan di tingkat universitas.
Status Pekerjaan Jadi Tantangan Pemberian ASI
Dinamika pekerjaan juga menjadi tantangan tersendiri, di mana anak-anak dari ibu yang berstatus bekerja memiliki risiko 6,45 kali lebih tinggi untuk tidak mendapatkan ASI eksklusif daripada anak-anak dari ibu yang tidak bekerja.
Data penelitian memperlihatkan bahwa sekitar 58,1% anak dalam kelompok sampel tidak mendapatkan ASI eksklusif selama enam bulan awal mereka.
Kondisi ini mencerminkan betapa besarnya kendala sosial maupun struktural yang masih menghalangi keberhasilan proses menyusui.
Tradisi Pemberian Madu dan Gula Tingkatkan Risiko
Studi yang dilakukan di wilayah Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah ini menegaskan bahwa kombinasi antara tingkat pendidikan, profesi ibu, serta kebiasaan pemberian asupan pralakteal merupakan faktor penentu yang paling kuat.
Secara khusus, pemberian madu atau gula pada bayi baru lahir diketahui dapat melonjakkan risiko kegagalan ASI eksklusif hingga 5,67 kali lipat.
Sekitar 36,1% partisipan dalam penelitian ini mengakui masih menjalankan tradisi tersebut karena adanya kepercayaan budaya bahwa rasa manis pada awal kehidupan akan mendatangkan nasib baik bagi masa depan anak.
Faktor Sosial, Gender, dan Budaya Turut Berperan
Selain permasalahan budaya, riset ini juga membedah aspek ekonomi, sosial, dan gender. Ditemukan fakta unik bahwa bayi berjenis kelamin laki-laki memiliki risiko lebih tinggi untuk tidak menerima ASI eksklusif dibandingkan bayi perempuan.
Hal ini berkaitan dengan adanya konstruksi gender di lokasi penelitian yang menganggap anak laki-laki sebagai penerus garis keturunan yang harus terlihat kuat dan besar, sehingga muncul anggapan bahwa asupan ASI saja tidaklah cukup dan harus ditambah dengan makanan lain sebelum waktunya.
Baca Juga: Tangis Bayi Efektif Mendorong Keluarnya ASI, Ilmuwan Ungkap Faktanya
Tekanan Keluarga dan Faktor Ekonomi
Masalah ekonomi juga turut berperan, di mana keluarga dengan tingkat pendapatan rendah memiliki peluang lebih tinggi untuk mengabaikan praktik ASI eksklusif.
Penelitian ini mempertegas bahwa keputusan untuk menyusui bukan hanya menjadi beban individu seorang ibu, melainkan hasil dari negosiasi di dalam lingkup keluarga.
Sering kali terdapat tekanan dari lingkungan keluarga yang menganggap bayi berbadan besar sebagai simbol kesehatan, sehingga ibu sering didorong untuk memberikan susu formula atau makanan tambahan lebih cepat dari jadwal yang disarankan.
Rekomendasi BRIN untuk Kebijakan dan Dukungan Ibu Menyusui
Yuli Astuti menyarankan agar kebijakan pemerintah dan program promosi kesehatan disusun berdasarkan bukti lapangan dan memperhatikan konteks budaya lokal.
Langkah intervensi harus menyentuh seluruh lapisan mulai dari ibu, keluarga, hingga komunitas luas.
Selain itu, diperlukan penguatan dukungan secara struktural, seperti penyediaan fasilitas dan kebijakan yang mendukung ibu menyusui di lingkungan kerja, karena perubahan perilaku yang menetap akan sulit tercapai tanpa adanya dukungan sistem yang memadai. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni