RADARTUBAN – Bulan Ramadan sering kali menjadi momen bagi masyarakat untuk mengubah pola hidup, namun tak jarang kebiasaan baru tersebut justru menyimpan risiko kesehatan.
Salah satu yang paling sering dilakukan adalah tidur kembali sesaat setelah menyantap hidangan sahur. Fenomena ini pun dikupas tuntas oleh dr. Tirta Mandira Hudhi dalam sebuah diskusi kesehatan terbaru.
Dokter yang dikenal dengan gaya bicaranya yang ceplas-ceplos ini memperingatkan bahwa langsung tidur setelah makan sahur bukan hanya memicu masalah pencernaan, tetapi juga mengacaukan ritme tubuh secara keseluruhan.
Menurut dr. Tirta, kebiasaan tidur setelah sahur dapat merusak sirkadian ritem atau jam biologis tubuh. Pada pagi hari, hormon kortisol dalam tubuh biasanya sedang tinggi-tingginya untuk mempersiapkan aktivitas.
Jika tubuh dipaksa tidur kembali setelah makan besar, proses pencernaan akan terganggu.
"Enzim pencernaan itu seperti di-lock atau menurun drastis aktivitasnya saat kita tidur. Kalau perut baru diisi makanan lalu dibawa tidur, makanan akan tertahan terlalu lama di lambung. Akibatnya bukan gerd, tapi dispepsia, perut terasa kembung, begah, dan penuh seharian," jelasnya.
Dalam kesempatan tersebut, dr. Tirta juga menjawab keresahan netizen mengenai perbandingan bahaya mie instan dengan rokok.
Lulusan Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta itu menegaskan bahwa keduanya memiliki dampak buruk yang berbeda dan tidak bisa dibanding-bandingkan secara langsung.
Mie instan termasuk Ultra Processed Food (UPF) yang berisiko menyebabkan obesitas dan resistensi insulin jika dikonsumsi berlebihan.
Namun, ia menyoroti rokok sebagai benda karsinogenik yang lebih berbahaya karena tubuh tidak memiliki mekanisme pertahanan alami terhadap asapnya.
"Tubuh punya pertahanan untuk makanan, tapi tidak untuk asap industri seperti rokok. Sekali masuk, sel darah putih langsung bereaksi," tegas dokter lulusan UGM tersebut.
Tips Sehat Tanpa 'Balas Dendam' saat Buka
Menjelang waktu berbuka, dr. Tirta mengingatkan masyarakat untuk tidak melakukan 'balas dendam' dengan mengonsumsi makanan berat secara mendadak.
Dia menganalogikan lambung yang kosong selama 12 jam seperti karyawan yang baru selesai cuti namun langsung diberikan beban kerja lembur yang sangat berat.
"Jangan arogan jadi manusia. Lambung kosong itu jangan langsung dihajar rendang atau gorengan banyak-banyak. Kasih air putih dulu, kurma, atau pisang. Biarkan lambung beradaptasi pelan-pelan supaya asam lambung tidak naik drastis," pesannya.
Di akhir pemaparannya, dr. Tirta menekankan bahwa kesehatan adalah bentuk rasa syukur yang harus dijaga melalui ikhtiar.
Olahraga tidak mengenal kata terlambat, bahkan bagi mereka yang sudah menginjak usia 50 tahun.
Menurutnya, yang terlambat adalah jika seseorang berhenti berusaha menjaga tubuhnya hingga ajal menjemput.
Dia juga menyarankan masyarakat Indonesia untuk lebih memperhatikan asupan protein, seperti telur, tahu, dan tempe, serta mencukupi kebutuhan vitamin D3 dan B kompleks yang sering kali terabaikan dalam pola makan sehari-hari. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama