RADARTUBAN – Memasuki usia kepala tiga dan empat, banyak perempuan mulai mengeluhkan perubahan kondisi tubuh.
Mulai dari rasa panas yang tiba-tiba menjalar (hot flashes), suasana hati yang gampang berubah (mood swing), hingga sulit tidur.
Sering kali, gejala-gejala ini dianggap remeh sebagai efek kelelahan belaka. Padahal, bisa jadi itu adalah alarm tubuh tanda memasuki fase perimenopause.
Dalam perbincangan di kanal YouTube Rory Asyari bersama pakar gizi klinik Putri Sakti, terungkap bahwa fase transisi menuju menopause ini sebenarnya bisa terjadi lebih awal dari yang dibayangkan.
Kurangnya edukasi membuat banyak perempuan “terjebak” dalam ketidaktahuan yang justru memperparah kondisi kesehatan mereka di masa mendatang.
Baca Juga: Memasuki Usia Menopause? Ini 6 Nutrisi Penting yang Wajib Dikonsumsi untuk Menjaga Kesehatan Tubuh
Waspada Perimenopause Dini di Usia 30-an
Secara medis, perimenopause adalah periode transisi sebelum seorang perempuan benar-benar berhenti menstruasi (menopause). Secara normal, fase ini terjadi di rentang usia 45 hingga 55 tahun.
Namun, dr. Putri Sakti mengingatkan bahwa saat ini banyak perempuan usia 30-an yang sudah mulai merasakan gejalanya.
“Faktor lifestyle sangat berpengaruh. Konsumsi ultra processed food, karbohidrat sederhana seperti tepung-tepungan, hingga kurangnya asupan protein harian menjadi pemicu utamanya,” jelas dr. Putri dalam video tersebut.
Ia juga menyoroti kebiasaan perempuan Indonesia yang sering melakukan self-diagnose.
Ketika siklus menstruasi mulai kacau atau perut terasa begah, kondisi tersebut kerap dianggap masuk angin atau sekadar stres kerja, padahal bisa jadi itu adalah fluktuasi hormon estrogen yang mulai tidak stabil.
Gaya Hidup “Lampu Kuning” bagi Penggemar Seblak dan Mie
Bagi perempuan yang masih gemar mengonsumsi makanan tinggi tepung dan gorengan, dr. Putri memberikan peringatan keras. Makanan seperti mie instan, seblak, hingga aneka gorengan dapat memperburuk gejala perimenopause.
Konsumsi karbohidrat sederhana membuat gula darah naik-turun bak roller coaster, yang berujung pada mood swing lebih parah.
Selain makanan, asupan kafein juga perlu diperhatikan. Kopi memang dapat meningkatkan performa, namun bagi perempuan perimenopause, kafein berisiko mempercepat pengeluaran kalsium melalui urin.
“Bukan berarti tidak boleh ngopi, tapi harus ada effort lebih. Misalnya dengan menambah asupan air putih tiga kali lipat dan menjaga kecukupan kalsium serta vitamin D agar tidak terjadi pengeroposan tulang atau osteoporosis,” imbuhnya.
Baca Juga: Apakah Kalau Haid Pertama Lebih Awal, Berarti Menopause Lebih Cepat? Berikut Penjelasan Ahli
Empat Pilar Penyangga Kesehatan di Masa Transisi
Untuk melewati fase ini dengan nyaman atau bahkan tanpa gejala sama sekali, dr. Putri menekankan pentingnya menjaga empat pilar kesehatan:
- Nutrisi seimbang
- Aktivitas fisik
- Kecukupan tidur
- Manajemen stres
Terkait olahraga, ia menyarankan kombinasi antara kardio intensitas sedang (Zona 2) dan latihan beban.
Latihan beban dinilai sangat krusial karena setelah usia 40 tahun, massa otot manusia akan menurun secara alami (sarkopenia).
“Otot itu adalah kompor tubuh. Semakin baik massa otot, semakin stabil metabolisme dan hormon kita,” tuturnya.
Di akhir sesi, dr. Putri berpesan agar para perempuan tidak ragu berkonsultasi dengan tenaga medis jika merasakan perubahan signifikan pada tubuhnya.
Dengan penanganan yang tepat dan perubahan gaya hidup sejak dini, fase perimenopause bukanlah momok menakutkan, melainkan fase kehidupan yang tetap bisa dijalani dengan bahagia dan produktif.(*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni