Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Jangan Salah Kaprah! dr Gia Pratama Jelaskan Perbedaan GERD dan Serangan Jantung yang Sering Disangka Sama

Nadia Nur Riyadotul Aicha • Sabtu, 7 Maret 2026 | 20:05 WIB

Ilustrasi seseorang merasakan nyeri dada
Ilustrasi seseorang merasakan nyeri dada

RADARTUBAN – Seringkali masyarakat dibuat panik saat merasakan nyeri di dada yang disertai sesak napas.

Tak jarang, banyak yang langsung mengaitkan gejala tersebut dengan serangan jantung, padahal bisa jadi itu adalah gejala Gastroesophageal Reflux Disease (GERD).

Dalam sebuah bincang sehat di kanal YouTube Daging Talk bersama Atta Halilintar, praktisi kesehatan dr Gia Pratama memberikan penjelasan mendalam mengenai fenomena ini.

GERD dan Serangan Jantung Sering Disalahartikan

Menurut dokter yang juga aktif di media sosial tersebut, GERD dan serangan jantung adalah dua kondisi medis yang sangat berbeda, meski gejalanya seringkali mirip di mata orang awam.

Ia menegaskan bahwa keduanya berasal dari sistem organ yang tidak sama.

"Tidak mungkin GERD berubah jadi serangan jantung. Itu dua monster yang berbeda," tegas dr Gia Pratama.

Asam Lambung Naik Bisa Picu Sensasi Terbakar di Dada

Dalam narasinya yang lugas, dr Gia menjelaskan bahwa GERD atau asam lambung yang naik ke kerongkongan memang memberikan sensasi terbakar (heartburn).

Hal ini dikarenakan lambung memiliki lapisan pelindung asam, sementara kerongkongan tidak. Saat asam naik, dada akan terasa panas luar biasa.

"Lambung itu organ yang indah, punya dua pintu. Tapi kalau pintu atasnya (katup) longgar, asam lambungnya naik. Nah, kerongkongan itu nggak punya pelindung asam, makanya rasanya seperti terbakar," jelasnya.

Serangan Jantung Terjadi Karena Sumbatan Pembuluh Darah

Sementara itu, serangan jantung terjadi karena adanya penyumbatan total pada pembuluh darah koroner, sehingga jantung kekurangan oksigen.

Rasa sakitnya pun sangat khas, yakni seperti ditindih beban berat dan menjalar ke bagian tubuh lain.

Kenali Tanda Serangan Jantung yang Harus Segera ke IGD

Mengingat Tuban merupakan daerah dengan mobilitas tinggi, kesadaran akan kesehatan jantung menjadi krusial. dr Gia memberikan tips sederhana untuk mengenali gejala serangan jantung yang harus segera ditangani di Instalasi Gawat Darurat (IGD).

"Hafalin saja, kalau ada nyeri dada yang tidak bisa ditunjuk lokasinya, lalu menjalar ke tangan kiri atau rahang kiri, plus keringat dingin segede biji jagung, jangan ragu langsung ke IGD," pesan dr Gia.

Ramadan Disebut Turunkan Kunjungan Pasien IGD

Menariknya, dr Gia mengungkap data bahwa kunjungan pasien di IGD cenderung menurun selama bulan Ramadan.

Hal ini diduga karena pola makan yang lebih terkontrol dan kebiasaan menahan diri. Ia pun menyoroti tiga pilar utama kesehatan atau "tripod imunitas" yang harus dijaga: nutrisi, olahraga, dan tidur yang cukup.

Baca Juga: Puasa Sehat bagi Penderita GERD: Hindari Asam Lambung Naik dengan Pola Makan Tepat

Olahraga Disebut Investasi Kesehatan Terpenting

Terkait olahraga, dr Gia menyebutnya sebagai investasi paling berharga. "Kalau ada satu obat yang bisa menggantikan seluruh fungsi olahraga, obat ini akan jadi obat termahal di muka bumi.

Sayangnya nggak ada, jadi kita tetap harus olahraga," tuturnya dengan nada menginspirasi.

Menjaga Kesehatan Demi Kualitas Hidup di Masa Tua

Di akhir sesi, dr Gia menekankan pentingnya menjaga kesehatan sejak dini bukan karena takut mati, melainkan untuk menjaga kualitas hidup di masa tua agar tidak merepotkan orang lain.

"Gusti Allah sudah nulis di buku takdirmu as you wish (sesuai keinginanmu). Jadi, mau sampai umur berapa kita sehat, itu kita sendiri yang nentuin lewat ikhtiar menjaga tubuh," pungkasnya.

Bagi masyarakat Tuban dan sekitarnya, edukasi seperti ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran untuk beralih ke pola hidup sehat, memperbanyak konsumsi air putih, dan rutin melakukan aktivitas fisik demi jantung yang lebih kuat. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#nyeri dada #dr gia pratama #serangan jantung #gerd