Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Waspada Brain Rot! Dokter Saraf Ungkap Bahaya Scrolling TikTok dan Reels Berlebihan Bagi Kesehatan Otak

Nadia Nur Riyadotul Aicha • Sabtu, 7 Maret 2026 | 20:35 WIB

Ilustrasi Media Sosial
Ilustrasi Media Sosial

RADARTUBAN – Fenomena scrolling media sosial (medsos) seperti TikTok, Instagram, hingga YouTube Shorts kini bukan lagi sekadar hobi pengisi waktu luang.

Di balik asyiknya konten-konten pendek yang menghibur, ada ancaman nyata bagi kesehatan saraf yang dikenal dengan istilah populer brain rot atau pembusukan otak. Kondisi ini membuat seseorang menjadi sulit fokus hingga kehilangan motivasi.

Fenomena Brain Rot Akibat Konten Pendek

Dokter Spesialis Saraf, dr. Lilir Amalini, Sp.N, menjelaskan bahwa brain rot sebenarnya merupakan kondisi di mana otak mengalami over stimulasi akibat paparan dopamin yang instan dan terus-menerus.

Hal ini dipicu oleh kebiasaan mengonsumsi konten-konten pendek yang serba cepat.

"Konten-konten pendek itu akan membanjiri otak dengan dopamin yang tinggi, cepat, dan instan. Jadi kayak junk food dopamin overload di otak kita," ujar dr. Lilir dalam bincang-bincang di kanal YouTube Gritte Agatha.

Baca Juga: Terlalu Sering Scrolling Bisa Picu Brain Rot, Ini Penjelasan Pakar Saraf

Dopamin Berlebih Bikin Otak Mudah Bosan

Dopamin merupakan zat kimia di otak yang bertanggung jawab atas motivasi, sistem reward, hingga kemampuan belajar. Namun, jika terus-menerus diguyur "snack dopamin" dari scrolling medsos, sensitivitas otak terhadap dopamin justru akan menurun.

Akibatnya, seseorang akan merasa cepat bosan dan membutuhkan stimulasi yang lebih kuat lagi untuk merasa senang.

Dalam jangka panjang, fungsi eksekutif otak seperti kemampuan perencanaan dan pengambilan keputusan pun ikut terganggu.

Tak jarang, penderitanya menjadi labil, gampang gelisah, hingga emosi yang mudah meledak.

Detoks Dopamin Jadi Solusi

Kabar baiknya, dr. Lilir menyebut kondisi ini bukan kerusakan permanen dan masih bisa diperbaiki.

Salah satu cara paling efektif adalah dengan melakukan detoks dopamin atau membatasi waktu layar (screen time).

"Batasi scrolling-nya, mungkin cuma 30-60 menit maksimal sehari. Terus harus dipaksa stimulasi kognitifnya dengan membaca buku fisik, bukan di gawai," pesannya.

Membaca Buku Fisik Bantu Stimulasi Otak

Membaca buku secara fisik memberikan stimulasi berbeda bagi otak karena melibatkan gerakan mata ke kanan dan ke kiri secara manual, yang tidak didapatkan saat menatap layar.

Selain itu, membiasakan diri melakukan satu aktivitas dalam satu waktu (single tasking) tanpa dibarengi scrolling ponsel juga sangat membantu proses pemulihan.

Waspadai Gejala Gangguan Saraf Sejak Dini

Selain masalah brain rot, dr. Lilir juga mengingatkan masyarakat untuk lebih peka terhadap gejala gangguan saraf lainnya. Mulai dari pusing, migrain, hingga kesemutan yang tidak kunjung hilang.

Ia menekankan pentingnya mendeteksi dini sebelum gejala tersebut berkembang menjadi penyakit berat seperti stroke.

Bahkan, dr. Lilir mengungkapkan fakta mengejutkan mengenai usia penderita stroke yang kian muda.

Ia pernah menangani pasien stroke yang masih berusia 19 tahun akibat gaya hidup yang tidak sehat dan adanya kelainan jantung yang tidak terdeteksi.

"Intinya kalau sesuatu yang tadinya tidak ada terus tahu-tahu ada, tolong segera dipastikan itu bukan sesuatu kegawatan. Penanganan semakin cepat, hasilnya juga semakin baik," pungkasnya. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#Brain Rot #konten pendek #dokter saraf #scrolling media sosial