RADARTUBAN – Sakit kepala sering kali dianggap sebagai keluhan enteng yang bakal hilang sendiri setelah istirahat atau minum obat warung.
Padahal, di balik rasa nyut-nyutan itu, tersimpan potensi gangguan kesehatan yang jauh lebih serius. Mulai dari sekadar otot kaku hingga ancaman tumor otak maupun stroke.
Perbedaan Nyeri Kepala Primer dan Sekunder
Dokter Spesialis Neurologi, dr. Iswandi Erwin mengungkapkan bahwa masyarakat perlu membedakan antara nyeri kepala primer dan sekunder.
Nyeri kepala primer seperti migrain atau tension type headache biasanya disebabkan oleh gangguan otoregulasi atau kekakuan otot. Namun, yang perlu diwaspadai adalah nyeri kepala sekunder.
Baca Juga: Stop Campur Buah Sembarangan! 4 Kombinasi Ini Bisa Picu Mual, Perut Kembung hingga Sakit Kepala
"Nyeri kepala sekunder itu ada penyebabnya, seperti tumor otak, stroke, hingga meningitis atau radang selaput otak," jelas dr. Iswandi dalam sebuah sesi edukasi kesehatan.
Kenali Tanda Bahaya atau Red Flag
Kapan seseorang harus benar-benar waspada? dr. Iswandi menyebutkan adanya istilah red flag atau tanda bahaya yang mengharuskan pasien segera ke fasilitas kesehatan.
Salah satunya adalah muntah projektil, yakni muntah yang menyemprot dan terjadi terus-menerus tanpa henti saat sakit kepala menyerang.
Selain itu, waspadai jika nyeri kepala disertai demam tinggi atau gangguan penglihatan yang semakin kabur. Gejala lain yang tak kalah ngeri adalah thunderclap headache.
"Ini adalah nyeri kepala yang baru pertama kali dirasakan dan sangat hebat. Bisa jadi itu sinyal perdarahan subaraknoid atau salah satu jenis stroke," tambahnya.
Gaya Hidup dan Pemicu Migrain
Bagi penderita migrain, pola hidup memegang peranan kunci. Gangguan tidur, pola makan yang tidak teratur, hingga dehidrasi sering kali menjadi pemicu utama.
Menariknya, dr. Iswandi menyebut bahwa perempuan lebih rentan terkena migrain karena faktor hormonal, terutama menjelang atau saat masa menstruasi.
Untuk mengurangi frekuensi kekambuhan, disarankan untuk memperbaiki pola tidur dan rutin berolahraga.
Namun, olahraga harus dilakukan saat kondisi tubuh sedang fit, bukan saat serangan sakit kepala terjadi.
"Olahraga harus terukur dan teratur. Ini membantu memicu morfin alami dalam tubuh yang bisa meredakan nyeri," tuturnya.
Bahaya Konsumsi Obat Berlebihan
Kebiasaan masyarakat yang hobi menenggak obat pereda nyeri (abortif) setiap kali merasa pusing juga mendapat sorotan.
Jika dikonsumsi setiap hari tanpa resep, hal ini justru bisa memicu medication overuse headache.
Bukannya sembuh, tipe nyeri kepala justru bisa berubah menjadi kronis yang terjadi setiap hari.
"Jangan diremehkan. Nyeri kepala Anda bisa menjadi alarm bagi sesuatu yang terjadi di dalam kepala Anda. Jika sudah ada tanda-tanda tidak wajar, segera periksakan ke dokter," pesan dr. Iswandi. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni