RADARTUBAN– Kebiasaan duduk terlalu lama kini menjadi ancaman serius bagi kesehatan masyarakat modern.
Bahkan, sejumlah penelitian menyebutkan bahwa gaya hidup sedenter atau kurang gerak ini memiliki risiko kesehatan yang jauh lebih berbahaya dibandingkan dengan merokok.
Hal tersebut diungkapkan oleh spesialis bedah tulang belakang (spine surgeon), dr. Niko, dalam sebuah diskusi kesehatan di kanal YouTube Grace Tahir baru-baru ini.
Menurutnya, kondisi Lower Back Pain (LBP) atau nyeri punggung bawah kini tidak lagi hanya menyerang kelompok usia tua, melainkan mulai banyak dialami oleh anak muda usia produktif.
Baca Juga: Bahaya Duduk Terlalu Lama, Alodokter Ingatkan Bisa Picu Diabetes hingga Gangguan Jantung
Tren Nyeri Punggung di Usia Muda
Banyak yang menganggap nyeri punggung adalah penyakit orang tua. Namun, fakta di lapangan menunjukkan pergeseran tren yang signifikan.
dr. Niko menjelaskan bahwa rentang usia 18 hingga 35 tahun kini menjadi kelompok yang rentan terkena LBP akibat penggunaan punggung yang salah selama masa produktif.
"Masalah utama low back pain adalah simpel, kita duduk pakai beban yang berlebihan di lower back. Selagi kita punya pekerjaan yang mengharuskan duduk lebih dari 20-30 menit, maka saat itu juga faktor risiko sudah ada di kita," terang dr. Niko.
Analogi Beban Statis dan Pentingnya Jeda
Untuk memudahkan masyarakat memahami risiko ini, dr. Niko memberikan sebuah analogi sederhana menggunakan sebuah benda ringan.
Sebuah benda seberat 300 gram tidak akan menjadi masalah jika diangkat sebentar. Namun, benda yang sama akan menjadi beban berat bagi tubuh jika ditahan dalam posisi statis selama 30 menit.
Upaya pencegahan yang paling mudah adalah dengan menerapkan prinsip rilis beban secara berkala.
dr. Niko menyarankan bagi para pekerja kantoran atau pengguna gadget untuk memasang alarm setiap 30 menit sekali sebagai pengingat untuk berdiri dan melakukan peregangan ringan.
"Setiap 30 menit itu getar (alarm), berdiri. Berdiri, cuci tangan, atau apa saja. Rilis bebannya. Jadi kalau duduk, simpelnya adalah berdiri selama 5 sampai 10 menit," tambahnya.
Penanganan Tanpa Operasi
Meskipun dr. Niko adalah seorang dokter bedah, ia menegaskan bahwa tidak semua kasus saraf kejepit atau HNP harus berakhir di meja operasi.
Banyak kasus yang bisa ditangani melalui edukasi postur, pengaturan berat badan, hingga fisioterapi yang tepat.
Ia juga menyoroti pentingnya menjaga kesehatan tulang melalui aktivitas fisik yang rutin dan terukur.
Menurutnya, tubuh memiliki kemampuan alami untuk menyembuhkan dirinya sendiri (natural healing) dalam waktu sekitar tiga minggu, asalkan diberikan proteksi dan penanganan awal yang benar.
"Tugas saya mencari red flags atau tanda bahaya. Kalau itu tidak ada, kita bisa tenang dan tidak perlu buru-buru melakukan tindakan medis berat. Tubuh kita tidak akan bohong, kalau posisi salah pasti ada rasa nyeri," pungkasnya.
Dengan teknologi medis yang semakin maju, seperti teknik teropong tulang belakang (endoskopi), prosedur medis kini menjadi lebih minimal invasif dengan masa pemulihan yang jauh lebih cepat dibandingkan metode konvensional.
Namun, pencegahan melalui gaya hidup aktif tetap menjadi kunci utama kesehatan tulang jangka panjang. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni