Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

60 Ribu Lebih Pemuda Tuban Jadi Perokok Aktif, Dokter Soroti Bahaya Nikotin

Shafa Dina Hayuning Mentari • Jumat, 29 Mei 2026 | 16:17 WIB
Ilustrasi rokok.
Ilustrasi rokok.

RADARTUBAN - Kendati kesadaran generasi muda Tuban terhadap bahaya rokok lebih mendominasi. Namun, jumlah perokok muda di Bumi Ronggolawe terbilang masih tinggi. Totalnya mencapai 60 ribu lebih.

Berdasarkan Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Timur, dari total 255.264 pemuda usia 16 sampai 30 tahun di Kabupaten Tuban, yang menyandang status sebagai perokok aktif tercatat sebanyak 23,59 persen atau 60.216 orang.  

Rinciannya, sebanyak 21,89 persen atau 55.877 pemuda tercatat mengonsumsi rokok setiap hari tanpa absen, sedangkan 1,70 persen atau 4.339 pemuda masuk dalam kategori perokok situasional atau tidak merokok setiap hari. 

Sementara itu, warga usia muda yang bersih dari asap rokok sebanyak 76,41 persen atau sebanyak 195.047 orang. Hanya saja, anak-anak tidak masuk dalam survei.

Baca Juga: Belanja Warga Tuban Masih Didominasi Kebutuhan Pokok, Rokok Jadi Pos Terbesar Kedua

Padahal, jumlah anak-anak yang merokok juga tidak sedikit. Itu dapat kita amati dari keseharian di warung-warung kopi. Tidak sedikit anak usia SMP sudah merokok, bahkan ada pula yang masih SD.

‘’Kategori perokok tersebut merupakan mereka yang mengonsumsi produk rokok batangan, baik jenis kretek maupun non-kretek,’’ kata Statistisi Ahli Muda BPS Tuban Triana Pujilestari. Sedangkan pemuda yang menggunakan rokok elektrik atau vape tidak dimasukkan ke dalam data survei. 

Dokter Spesialis Paru dan Pernapasan RSUD dr. R. Koesma Tuban dr. Deny Perdana Putra. Sp.P. mengatakan, meski jumlah pemuda yang tidak merokok masih mendominasi, namun jumlah generasi muda Tuban yang merokok masih tergolong tinggi.

Menurutnya, fase usia muda yang diwarnai rasa ingin tahu tinggi dinilai menjadi celah paling rentan terhadap paparan zat adiktif.

‘’Awalnya pasti sekadar coba-coba agar terlihat keren di lingkungan pergaulannya. Namun, karena di dalam rokok terdapat zat adiktif, mereka dengan cepat merasa ketagihan lalu meneruskannya hingga menjadi kebiasaan," katanya.

Dokter kelahiran Surabaya itu memaparkan, nikotin menjadi zat utama di balik efek kecanduan yang dialami oleh para perokok. Selain nikotin, asap rokok juga membawa ratusan ribu zat berbahaya yang dapat merusak tubuh dari ujung rambut hingga ujung kaki.

Dampak buruknya tidak main-main, mulai dari memicu sensasi kenyang palsu yang merusak pola makan hingga berujung pada penyakit lambung dan rentetan penyakit lainnya.

Lebih lanjut, Deny menegaskan bahwa efek destruktif ini tidak hanya mengancam organ pernapasan. Zat beracun yang dihirup akan masuk ke dalam paru-paru, kemudian mengalir ke sirkulasi darah, lalu dipompa jantung menuju seluruh tubuh termasuk organ vital seperti otak dan pembuluh darah.

Alhasil, rokok berkontribusi memicu berbagai penyakit mematikan seperti stroke, diabetes, gagal ginjal, kanker, masalah pada janin bagi perokok perempuan, hingga Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK). Dampaknya tidak hanya mengintai perokok aktif, tapi juga perokok pasif.

Baca Juga: Kemenag Tegaskan Terduga Pelaku Cabul di Pekalongan Bukan Pimpinan Pesantren

‘’Dan justru perokok pasif menanggung risiko kerusakan organ lebih parah karena saluran pernapasan mereka tidak siap menerima asap kiriman. Bahkan, zat beracun yang menempel di serat kain baju perokok aktif yang tidak langsung dicuci pun tetap menjadi racun yang membahayakan keluarga di rumah," urainya secara mendetail.

Meskipun sulit, lulusan Kedokteran Universitas Brawijaya ini menyebut, peluang sembuh bagi pemuda masih terbuka lebar melalui metode klinis smoking cessation.

Langkah penanganan ini bertumpu pada tiga hal utama, yaitu niat yang kuat, tindakan berupa pengurangan rokok secara bertahap untuk menghindari sindrom putus zat atau sakau, serta pemanfaatan obat substitusi seperti permen dengan kandungan nikotin yang dibuat sedemikian dan dikonsumsi selama 2–3 bulan. 

‘’Obat substitusi rokok itu bentuknya seperti permen karet yang setelah dihisap dan dikunyah, kemudian dibuang," katanya.

Tujuannya, dokter yang sempat bekerja sebagai dokter umum di RS Bhakti Rahayu Surabaya ini melanjutkan, dengan mengonsumsi permen obat tersebut, ketergantungan akan nikotin pada perokok lambat laun akan menurun dan keinginan untuk merokok perlahan hilang. 

Lulusan studi spesialis jurusan Pulmonologi dan Ilmu Kedokteran Respirasi Universitas Airlangga ini juga menjelaskan, untuk anak-anak muda masa pemulihannya disinyalir dapat lebih cepat dibanding perokok dewasa. Sebab, tingkat ketergantungan pada perokok muda berbeda dengan perokok dewasa yang telah lama kecanduan zat adiktif. 

‘’Harus ada edukasi yang gencar terkait hal ini. Sebab generasi muda adalah penerus bangsa, dan mereka harus sehat. Pesan saya, sayangi diri sendiri, keluarga, dan juga masa depan," pungkasnya. (saf/tok) 

Editor : Yudha Satria Aditama
#Tuban #bps #dokter #perokok