Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Bisa Picu Kematian, UDD PMI Tuban Sebut Golongan Darah O Kini Tak Boleh Lagi Ditransfusikan Secara Universal

Shafa Dina Hayuning Mentari • Minggu, 12 Juli 2026 | 17:34 WIB
Salah seorang petugas UDD PMI Tuban melakukan pengambilan darah dari seorang pendonor. (RADAR TUBAN)
Salah seorang petugas UDD PMI Tuban melakukan pengambilan darah dari seorang pendonor. (RADAR TUBAN)

RADARTUBAN - Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi kedokteran mengubah sistem transfusi darah. 

Praktik yang dahulu masih dianggap aman, seperti penggunaan darah golongan O untuk pasien dengan golongan darah lain, kini tak lagi menjadi pilihan utama. Keselamatan pasien menjadi pertimbangan yang tidak bisa ditawar.

Di Unit Donor Darah (UDD) PMI Tuban, setiap kantong darah yang akan ditransfusikan harus memiliki kecocokan secara menyeluruh, baik jenis maupun golongannya. Prosedur ini diterapkan seiring berkembangnya pemahaman mengenai respons tubuh terhadap darah donor.

Humas UDD PMI Tuban Sarju Efendi menjelaskan, anggapan bahwa golongan darah O merupakan donor universal kini tidak lagi diterapkan secara bebas dalam praktik klinis.

Baca Juga: PMI Tuban Musnahkan 48 Kantong Darah Reaktif HIV, Hepatitis, dan Sifilis Selama Semester I 2026

"Sekarang, seiring berkembangnya ilmu pengetahuan, kami mencari aman saja, sehingga untuk transfusi darah harus sesuai dan sejenis. Dokter-dokter sekarang juga tidak mau mengambil risiko," ujarnya kepada Jawa Pos Radar Tuban beberapa waktu lalu.

Kehati-hatian ini tidak berhenti pada pencocokan golongan darah. Sebelum darah diberikan kepada pasien, petugas terlebih dahulu melakukan uji silang serasi atau crossmatch untuk memastikan sel darah donor benar-benar kompatibel dengan tubuh penerima.

"Apabila indikator menunjukkan hasil yang tidak cocok, pihak kami maupun dokter dipastikan tidak akan berani mengambil risiko untuk memberikan darah tersebut meski golongannya sudah sama," terang Sarju.

Menurut dia, langkah tersebut penting karena darah bukan sekadar cairan tubuh, melainkan jaringan hidup yang mengandung berbagai komponen, seperti eritrosit, leukosit, dan sel-sel lain yang dapat memicu respons imun pada tubuh pasien.

"Kadang ada penyakit-penyakit tertentu yang membuat tubuh pasien menolak ketika diberikan darah pendonor. Jadi tidak menjamin darah yang masuk itu benar-benar langsung direspons tubuh dan tidak ada reaksi, pasti ada reaksi," katanya.

Alumnus Universitas Dr Soetomo (Unitomo) Surabaya itu menuturkan, setiap transfusi tetap dapat menimbulkan respons tubuh. Namun, risiko tersebut jauh lebih kecil dibandingkan apabila pasien menerima darah dengan golongan yang tidak sesuai.

"Reaksi dan respon tubuh setelah menerima donor tetap ada, tapi tidak sefatal jika salah golongan. Kalau salah golongan bahkan bisa membuat pasien meninggal dunia," ujarnya.

Karena itu, pemeriksaan dilakukan secara berlapis. Mulai dari pemeriksaan awal terhadap pendonor, skrining komponen darah, hingga pencocokan terakhir sebelum kantong darah diserahkan kepada pasien.

Di sisi lain, komposisi stok darah di UDD PMI Tuban juga menunjukkan karakteristik yang berbeda pada setiap golongan. Dari 6.955 kantong darah yang berhasil dihimpun, sekitar 40 persen merupakan golongan darah O. Sebaliknya, golongan darah AB menjadi yang paling sedikit tersedia, hanya sekitar 4 hingga 7 persen dari total persediaan.

Kondisi tersebut membuat penanganan pasien bergolongan darah AB memerlukan koordinasi lebih cermat ketika persediaan menipis. "Sehingga jika stok AB kosong, maka kami akan koordinasi dengan dokter yang menangani. Solusi cepatnya dari keluarga yang memiliki golongan serupa, jadi bukan memberikan pasien kantong darah golongan yang lain," pungkas pria 37 tahun itu.(saf/ds) 

Editor : Yudha Satria Aditama
#Tuban #UDD PMI #Golongan #kantong darah