RADARTUBAN – Makanan instan bukan lagi sebuah hal yang aneh untuk masyarakat modern, tapi siapa yang bakal menyangka makanan yang diproses secara massal di industri-industri besar ini justru menjadi sumber dari banyak penyakit seperti obesitas, kanker, dan diabetes.
Sebenarnya apa itu Ultra-Processed Food (UPF)? Secara ilmiah proses pembuatan UPF melibatkan metode hydrolysis atau pemecahan molekul menggunakan air, dan enzim yang sangat mirip dengan sistem pencernaan manusia.
Akibatnya, makanan yang dihasilkan dari proses ini akan sangat cepat diserap oleh tubuh karena molekulnya sudah dihancurkan terlebih dahulu.
Proses ini juga berdampak pada kemampuan sistem alami pencernaan manusia. Tubuh akan menyerap nutrisi, dan gula dengan kecepatan yang tidak wajar yang menyebabkan tubuh memicu lonjakan dopamin di otak yang memicu ketagihan yang mirip dengan kecanduan. Akibatnya tubuh akan merasa terus-menerus merasa lapar.
Dalam video YouTube-nya Kiana Docherty, menjelaskan bahwa UPF adalah makanan yang tidak dapat dibuat di rumah, makanan UPF terlahir karena teknologi modern yang memungkinkan jenis makanan ini untuk tercipta.
Bahkan Ultra-Processed Food sudah mendominasi 73 persen pasokan makanan di Amerika Serikat, dan sampai saat ini masih merambah secara masif.
Kiana Docherty juga mengutip perkataan Dr. David Katz dalam videonya yang mengatakan apabila makanan yang diciptakan dari proses UPF hanya merupakan ‘ilusi’ dari makanan yang telah ada.
Dampak Ultra-Processed Food
Studi klinis menunjukkan bahwa konsumsi makanan ultra-proses secara terus-menerus terbukti meningkatkan risiko obesitas, diabetes tipe 2, penyakit jantung, hingga depresi.
Dalam sebuah uji coba, peserta yang mengonsumsi diet UPF mengalami kenaikan berat badan rata-rata 0,9 kg hanya dalam waktu dua minggu, meskipun jumlah kalori, gula, dan seratnya disamakan dengan peserta yang mengonsumsi makanan segar.
Bagi produsen, memecah makanan menjadi molekul dan merakitnya kembali jauh lebih murah ketimbang menjaga kualitas bahan baku segar.
Dengan menyuntikkan perasa buatan, pewarna, dan pengemulsi, produk murah dapat diubah menjadi makanan yang lezat dan tahan lama di rak toko, dengan tujuan utama memaksimalkan margin keuntungan korporasi besar. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni