Matcha vs Daun Kelor, Mana yang Lebih Sehat? Ini Perbedaan Manfaat dan Kandungan Nutrisinya

Rosiana Dwi Ramadhani • Dipublikasikan Kamis, 6 Agustus 2026 | 11:09 WIB
Perbandingan lengkap matcha vs daun kelor. (RADARTUBAN/AI)
Perbandingan lengkap matcha vs daun kelor. (RADARTUBAN/AI)

RADARTUBAN– Konsumsi teh herbal kini telah berkembang menjadi bagian dari gaya hidup modern masyarakat untuk menjaga kesehatan tubuh di tengah padatnya aktivitas sehari-hari.

Teh merupakan salah satu minuman terpopuler di dunia yang nikmat disajikan dalam berbagai suasana, baik saat musim panas maupun musim hujan. Saat ini, matcha atau teh hijau bubuk khas Jepang tengah menjadi primadona di kalangan anak muda dan mahasiswa.

Kepopulerannya di berbagai kafe bahkan disebut-sebut bersaing ketat dengan kopi. Matcha diolah dalam berbagai tingkatan kualitas—mulai dari culinary grade,  premium grade, hingga ceremonial grade—dan disajikan sebagai minuman maupun sajian penutup modern.

Namun, tak banyak yang menyadari bahwa Indonesia memiliki tanaman herbal khas bernama daun kelor (Moringa oleifera) yang kerap disebut sebagai 'kembaran' matcha karena penampilannya yang mirip ketika diolah menjadi bubuk hijau.

Baca Juga: Makna Lagu Teh Hijau dari Tulus: Ketika Bahagia Tiba-Tiba Terasa Hilang

Melalui sebuah video edukasi yang diunggah di kanal YouTube Hydrofarm Wellness, dipaparkan ulasan komprehensif mengenai perbandingan keunggulan nutrisi antara teh matcha dan teh daun kelor. 

Meskipun keduanya sama-sama dikenal kaya akan senyawa antioksidan yang baik untuk imunitas tubuh, masing-masing minuman ini memiliki profil nutrisi, rasa, serta manfaat kesehatan yang berbeda dan saling melengkapi.

Tumbuhan daun kelor yang banyak ditemui di daerah tropis seperti Indonesia sejatinya telah dimanfaatkan dalam sistem pengobatan tradisional selama ribuan tahun.

Sebelum populer diolah menjadi bubuk teh, masyarakat Nusantara umumnya mengonsumsi daun kelor sebagai hidangan sayur bening yang memiliki cita rasa gurih khas dengan sentuhan sedikit pedas.

Menurut data National Institute of Health, daun kelor kaya akan senyawa antioksidan kuat seperti asam askorbat, flavonoid, fenolik, dan karatenoid.

Selain itu, mengutip dari Medical News Today, daun kelor menyimpan spektrum nutrisi yang sangat luas, meliputi vitamin A, B1, B2, C, kalsium, potasium, zat besi, magnesium, hingga fosfor.

Dalam 1 sendok teh bubuk daun kelor (sekitar 5 gram), terkandung 3 gram protein, 1 gram serat, 90 mg kalsium, 210 mg potasium, dan 1,4 mg zat besi.

Kombinasi nutrisi ini memberikan manfaat melimpah, mulai dari meredakan peradangan (antiinflamasi), membantu mengatur kadar gula darah (antidiabetes), menjaga kesehatan jantung, hingga melancarkan sistem pencernaan seperti mengatasi kembung dan sembelit.

Keunggulan utama lainnya dari teh daun kelor adalah bebas kandungan kafein. Hal ini menjadikan teh kelor sangat aman dikonsumsi di malam hari tanpa mengganggu kualitas tidur, serta cocok bagi individu yang mengalami intoleransi kafein.

Kendati demikian, penderita hipotensi (darah rendah) disarankan untuk berhati-hati karena konsumsi teh kelor dapat membantu menurunkan tekanan darah.

Baca Juga: Lagu Teh Hijau dari Tulus dan Fenomena Burnout pada Generasi Muda

Sementara itu, matcha asal Jepang sangat tersohor akan konsentrasi antioksidannya yang jauh lebih tinggi dibandingkan teh hijau biasa. 

Senyawa unggulan dalam matcha adalah epigallocatechin gallate (EGCG) dan katekin, yang berfungsi efektif menetralisir radikal bebas, mencegah kerusakan sel tubuh, meredakan peradangan kulit seperti jerawat, hingga mencegah penuaan dini.

Berdasarkan studi tahun 2023 yang dipublikasikan dalam The Journal of Nutrition, Metabolism and Cardiovascular Diseases, rutin mengonsumsi teh hijau matcha terbukti dapat membantu menurunkan risiko penyakit jantung koroner.

Dalam 1 sendok teh bubuk matcha (5 gram), terdapat 2 gram protein, 2 gram serat, 160 mg potasium, 0,7 mg zat besi, dan tanpa kandungan kalsium (0 mg). Menurut publikasi Healthline,  batas konsumsi matcha yang disarankan adalah 1 hingga 2 cangkir per hari (sekitar 10 gram).

Kombinasi kafein dan asam amino L-theanine dalam matcha mampu meningkatkan fokus, mendukung fungsi otak, serta membantu pembakaran lemak metabolisme tubuh. Namun, penderita anemia dianjurkan untuk tidak mengonsumsi matcha secara berlebihan karena dapat mengganggu proses penyerapan zat besi dalam tubuh.

Secara keseluruhan, baik teh matcha maupun teh daun kelor merupakan minuman herbal bernutrisi tinggi yang sangat baik untuk menjaga daya tahan tubuh.

Apabila Anda membutuhkan dorongan fokus, energi untuk beraktivitas, program penurunan berat badan, serta perlindungan antioksidan tinggi untuk kulit, teh matcha adalah pilihan yang ideal. 

Namun, jika Anda mencari asupan vitamin dan mineral harian yang kaya tanpa efek gelisah akibat kafein serta menyukai rasa yang lebih lembut, teh daun kelor lokal adalah alternatif yang tak kalah luar biasa.(*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
kelor antioksidan matcha teh hijau