RADARTUBAN —Meningkatnya kasus penyakit degeneratif seperti kanker, stroke, hingga gagal ginjal yang kini banyak menyerang usia muda menjadi perhatian berbagai pihak.
Ancaman kesehatan tersembunyi (hidden killers) tersebut dibahas dalam diskusi antara Prof. Rhenald Kasali dan pakar DNA forensik, dr. Djaja Surya Atmadja.
Dikutip dari tayangan di kanal YouTube milik Prof. Rhenald Kasali, dr. Djaja mengungkap sejumlah faktor yang kerap luput dari perhatian masyarakat, tetapi berpotensi memicu berbagai penyakit serius.
Salah satu ancaman terbesar adalah paparan mikroplastik yang kini telah mencemari udara, air hujan, hingga rantai makanan.
Menurutnya, berbagai penelitian menunjukkan bahwa mikroplastik bahkan telah ditemukan pada plak pembuluh darah yang berkaitan dengan peningkatan risiko penyakit jantung dan stroke.
Baca Juga: Air Hujan Jakarta Mengandung Mikroplastik yang berbahaya! Apa Penyebabnya? Berikut Penjelasannya
Selain mikroplastik, penggunaan Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) jenis galon isi ulang berbahan plastik dengan kode nomor 7 juga perlu mendapat perhatian.
Jenis plastik tersebut umumnya mengandung Bisphenol A (BPA), yakni senyawa kimia yang berfungsi mengeraskan kemasan agar dapat digunakan berulang kali.
"Karena sintetik hormon, dia bisa mengganggu hormon. Kalau dikasih minum begitu-begituan, anak kecil bisa gangguan konsentrasi, gangguan tumbuh kembang, gangguan perilaku. Perempuan, gangguan hormon, gangguan kesuburan," ujar dr. Djaja.
Ia menjelaskan, BPA dapat larut ke dalam air dan bertindak sebagai hormon sintetis yang berisiko mengganggu sistem hormon tubuh, memengaruhi kesuburan, menghambat tumbuh kembang anak, hingga meningkatkan risiko kanker.
Untuk mengurangi paparan BPA, masyarakat diimbau lebih cermat dalam memilih dan menggunakan kemasan air minum.
Penggunaan galon plastik berkode nomor 7 sebaiknya tidak melebihi masa pakai satu tahun agar tidak terjadi pelarutan zat kimia akibat pemakaian berulang.
Galon juga perlu diganti apabila sudah terlihat kusam atau buram. Selain itu, kemasan plastik tersebut sebaiknya tidak terpapar sinar matahari langsung maupun dipanaskan di dalam microwave karena suhu tinggi dapat mempercepat pelepasan BPA ke dalam air.
Ancaman lain yang tak kalah berbahaya adalah penumpukan racun yang dapat memicu kerusakan ginjal. Apabila fungsi ginjal telah mengalami kerusakan total, pasien harus menjalani cuci darah secara rutin.
Dalam kondisi tersebut, transplantasi ginjal menjadi satu-satunya tindakan medis yang dapat memulihkan fungsi organ, meski proses memperoleh donor yang sesuai tidaklah mudah.
Baca Juga: Ancaman Mikroplastik dalam Bahan Pangan, Protein, Sayur, dan Buah Ini Paling Banyak Terkontaminasi
Di sisi lain, gaya hidup dan pola makan modern turut memperbesar risiko munculnya penyakit degeneratif.
Selain konsumsi gula dan lemak berlebih, dr. Djaja menyoroti tingginya kandungan garam serta monosodium glutamat (MSG) tersembunyi (hidden sugar and salt) pada makanan restoran maupun produk olahan yang dapat berdampak pada tekanan darah dan kesehatan ginjal.
Sebagai langkah pencegahan, masyarakat dianjurkan menerapkan pola hidup sehat sejak dini. Kebiasaan sederhana seperti berjalan kaki sedikitnya 30 menit atau sekitar 5.000 langkah setiap hari, membatasi konsumsi makanan olahan, serta mengurangi minuman kemasan tinggi gula dapat menjadi upaya untuk menekan risiko penyakit degeneratif.
Melalui tayangan di kanal YouTube tersebut, dr. Djaja mengingatkan bahwa ancaman kesehatan tidak selalu terlihat secara kasatmata.
Oleh karena itu, kesadaran untuk menerapkan pola hidup sehat, memilih produk yang lebih aman, serta memperhatikan paparan zat berbahaya dalam kehidupan sehari-hari menjadi langkah penting untuk mengurangi risiko penyakit degeneratif di masa mendatang.(*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni