Bukan Sekadar Debu dan Makanan, Ini Alasan Tubuh Manusia Mengalami Alergi

Vannya Alysa P • Dipublikasikan Selasa, 11 Agustus 2026 | 08:32 WIB
Ilustrasi sistem kekebalan tubuh manusia yang melepaskan antibodi. (Tangkapan layar YouTube  Kurzgesagt – In a Nutshell)
Ilustrasi sistem kekebalan tubuh manusia yang melepaskan antibodi. (Tangkapan layar YouTube Kurzgesagt – In a Nutshell)

RADARTUBAN — Reaksi alergi sering kali datang secara tiba-tiba dan dapat berkisar dari gejala ringan seperti bersin-bersin hingga kondisi fatal yang mengancam jiwa.

Banyak orang bertanya-tanya mengapa tubuh manusia bereaksi begitu ekstrem terhadap bahan-bahan yang pada dasarnya tidak berbahaya, seperti debu, bulu hewan, serbuk sari, hingga makanan laut seperti udang.

Penjelasan mendalam mengenai fenomena biologis ini dirangkum dalam pembahasan edukatif yang dikutip dari kanal YouTube Kurzgesagt – In a Nutshell, yang mengurai bagaimana sejarah evolusi manusia dan sanitasi modern berperan dalam memicu peningkatan kasus alergi di dunia.

Alergi pada dasarnya terjadi ketika sistem kekebalan tubuh melakukan kekeliruan fatal dengan menganggap zat asing yang tidak berbahaya sebagai ancaman tingkat tinggi. Tubuh bereaksi seolah-olah sedang diserang oleh musuh yang sangat mematikan.

Baca Juga: Black Garlic: Si Hitam Manis yang Kaya Antioksidan dan Baik untuk Imunitas hingga Jantung

Untuk memahami mengapa tubuh memiliki respon sesadis ini, kita harus melihat kembali sejarah panjang evolusi manusia. Selama jutaan tahun, nenek moyang manusia secara konstan hidup berdampingan dengan ancaman cacing parasit. 

Pada masa lalu, sumber air minum dan sanitasi belum terpisah dengan baik, sehingga cacing dengan mudah masuk ke dalam saluran pencernaan manusia dan menetap di sana selama bertahun-tahun.

Guna melawan parasit raksasa tersebut, sistem imun manusia mengembangkan persenjataan khusus.

Ketika sel-sel pengawas menemukan adanya keberadaan cacing, mereka mengirimkan sinyal ke sel B di kelenjar getah bening untuk memproduksi antibodi khusus yang disebut Immunoglobulin E (IgE).

Antibodi IgE berfungsi layaknya kait magnetik yang menempel pada permukaan parasit dan melapisi sel-sel pertahanan khusus bernama mast cells (sel mast).

Dalam perjalanan sejarah evolusi, cacing parasit tidak tinggal diam. Cacing berevolusi untuk memproduksi zat kimia yang mampu menekan dan melemahkan daya tempur sistem imun manusia agar mereka bisa bertahan hidup lebih lama.

Sebagai kompensasi, tubuh manusia berevolusi menjadi jauh lebih agresif agar tetap mampu mempertahankan diri dari ancaman penyakit lain di tengah gempuran zat penekan dari cacing.

Namun, situasi berubah secara drastis dalam kurun waktu yang sangat singkat dalam skala evolusi. Penemuan sabun, peningkatan standar kebersihan, serta pemisahan antara saluran pembuangan limbah dan air minum berhasil memutus siklus hidup cacing parasit secara masif di sebagian besar wilayah dunia.

Ketika seseorang yang sensitif mengonsumsi protein udang atau menghirup serbuk sari, sistem imun secara keliru mengidentifikasi molekul-molekul tersebut sebagai "cacing parasit raksasa". Akibatnya, jutaan sel mast di seluruh tubuh melepas bahan kimia berbahaya secara serentak.

Hasilnya adalah pembengkakan jaringan, gatal-gatal pada kulit, sesak napas, hingga syok anafilaksis yang mampu merenggut nyawa manusia hanya dalam hitungan menit.

Alergi merupakan konsekuensi tak terduga dari pesatnya kemajuan sanitasi manusia yang berhasil mengeliminasi cacing parasit.

Sistem imun manusia yang pada awalnya dibentuk oleh alam untuk melawan ancaman parasitik berukuran besar, kini bertindak terlalu reaktif terhadap bahan-bahan alami di sekitar kita. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
Sumber : YouTube Kurzgesagt – In a Nutshell
alergi imun tubuh manusia