RADARTUBAN- Penggunaan asbes di Indonesia masih menjadi tantangan yang belum usai. Bahan material ini sangat digemari karena harganya yang terjangkau, sifatnya yang tahan api, serta kuat menahan cuaca panas maupun hujan.
Selain itu, sumber daya asbes sangat melimpah di berbagai belahan dunia. Keunggulan fisik serta melimpahnya bahan baku ini membuat asbes kerap dicampur ke dalam berbagai produk agar lebih awet, seperti kosmetik, krayon, celemek, gigi palsu, popok, uang kertas, hingga material bangunan berupa atap rumah.
Meski menawarkan kepraktisan, ada ancaman kesehatan tersembunyi yang amat mematikan bagi manusia.
Dilansir dari kanal YouTube Kok Bisa, tercatat sekitar 13 persen rumah tangga di Indonesia saat ini masih mengandalkan asbes sebagai atap hunian mereka. Padahal, bahaya dari material ini sudah terbukti secara ilmiah sejak lama.
Baca Juga: Atap Kelas SDN Trantang Tuban Ambruk, Tiga Ruang Lain Juga Retak dan Terancam Tak Layak Pakai
Seorang dokter di masa lalu pernah meneliti para pekerja pabrik asbes yang mengalami penyakit paru-paru berat secara bersamaan.
Penyelidikan medis tersebut menemukan bahwa serat-serat mikro dari asbes yang terhirup dapat mengendap di dalam paru-paru selamanya, yang kemudian memicu penyakit berbahaya seperti kanker mesothelioma.
Temuan tersebut mendorong para dokter dan ahli kesehatan di seluruh dunia mulai gencar menyerukan penghentian penggunaan asbes. Berbagai negara pun bergerak cepat dengan mengeluarkan aturan tegas yang melarang pemanfaatan material berbahaya ini.
Namun sayangnya, Indonesia masih belum tergabung dalam kesepakatan penolakan tersebut dan justru bertahan sebagai salah satu negara pengimpor serta pengguna asbes terbesar di dunia.
Lembaga tinggi negara sebenarnya telah mengupayakan pembatasan penggunaan bahan berbahaya ini, seperti melalui Peraturan Pemerintah No. 74 Tahun 2001 yang memasukkan asbes ke dalam daftar Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) yang wajib dikendalikan, serta Peraturan Menteri Tenaga Kerja No. 3 Tahun 1985 tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja Pemakaian Asbes. Meski demikian, tingginya permintaan pasar domestik membuat bahan ini terus beredar luas dan dimanfaatkan oleh masyarakat.
Risiko paparan serat asbes biasanya meningkat saat kondisi atap mulai rusak, retak, atau tergerus sewaktu proses pengerjaan bangunan. Ketika hal itu terjadi, serat mikro yang melayang di udara berpotensi besar terhirup oleh penghuni rumah tanpa disadari.
Kombinasi antara harga murah dan pasokan yang melimpah membuat masyarakat kerap mengabaikan bahaya jangka panjang dari penggunaan asbes.
Mengingat dampak kesehatannya yang berakibat fatal, sosialisasi bahaya serta dorongan untuk beralih ke material bangunan yang lebih ramah kesehatan perlu digalakkan secara masif.(*)
Editor : Hardiyati Budi AnggraeniSumber : Youtube Kok Bisa