RADARTUBAN- Minum air rebusan daun herbal sering kali dipercaya sebagai jurus ampuh mengatasi asam urat. Mulai dari daun salam, daun sirsak, seledri, hingga kumis kucing, kerap diandalkan sebagai pengganti obat dari dokter.
Banyak orang merasa keluhannya mereda begitu rutin mengonsumsinya. Namun, apakah penyakit asam urat benar-benar bisa sembuh total hanya dengan ramuan herbal, atau itu hanya kebetulan semata?
Dikutip dari unggahan video di kanal YouTube DRV Channel, dr. Andrea Feraldho, MSc, seorang Nutrisionis di Jakarta Varices Clinic, membeberkan fakta medis di balik fenomena ini secara rinci dan logis.
Menurut dr. Andrea, rasa nyeri akibat asam urat yang menghilang setelah minum rebusan daun sering kali disalahartikan sebagai kesembuhan total.
Padahal, beberapa jenis tanaman herbal memang memiliki senyawa aktif yang bersifat antiinflamasi (antiperadangan) atau diuretik (memicu buang air kecil).
Baca Juga: Penderita Asam Urat Wajib Tahu, Ini Daftar Makanan yang Boleh dan Tidak Boleh Dikonsumsi
Efek diuretik ini membantu tubuh mengeluarkan cairan dan sedikit asam urat melalui urine, sehingga rasa nyeri berkurang. Namun, penurunan rasa sakit ini bukan berarti sumber masalahnya sudah hilang.
Ia menjelaskan bahwa asam urat adalah gangguan metabolisme zat purin dalam tubuh. Kadar asam urat yang tinggi bisa membentuk kristal tajam di persendian.
Ketika serangan peradangan mereda, baik karena efek herbal maupun siklus alami tubuh. Gejalanya memang bisa menghilang sementara, namun, kristal asam urat yang menumpuk di sendi sebenarnya belum tentu mengikis habis.
Jika pola makan dan kadar asam urat dalam darah tidak dikontrol, serangan nyeri yang lebih hebat bisa datang sewaktu-waktu.
Mengandalkan ramuan daun sepenuhnya tanpa pengawasan medis juga menyimpan risiko tersendiri. Penggunaan herbal dosis tinggi dalam jangka panjang tanpa ukuran yang jelas dapat memberatkan kerja ginjal dan hati.
Selain itu, penderita berisiko mengabaikan penanganan medis yang seharusnya dilakukan untuk mencegah komplikasi organ.
Langkah terbaik dalam mengelola asam urat jangka panjang bukanlah mencari "obat ajaib", melainkan menjaga kestabilan metabolisme.
Hal ini mencakup pembatasan asupan makanan tinggi purin seperti jeroan dan emping, mengurangi minum-minuman manis dan menjaga hidrasi tubuh dengan air putih yang cukup, serta rutin memeriksakan kadar asam urat ke fasilitas kesehatan.
Herbal boleh saja dijadikan pendamping, tetapi bukan pengobatan utama yang menggantikan gaya hidup sehat dan anjuran dokter.(*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni