RADARTUBAN - Pernahkah Anda merasa selalu menjadi sasaran empuk gigitan nyamuk di saat orang-orang di sekitar Anda tampak aman-aman saja?
Rasa penasaran tersebut rupanya bukan sekadar perasaan subjektif belaka. Dalam sebuah studi ilmiah, ditemukan fakta bahwa sebanyak 20 persen orang berisiko mendapatkan hingga 95 persen dari total gigitan nyamuk dalam suatu kelompok.
Selama ini, terdapat anggapan populer di tengah masyarakat bahwa nyamuk lebih suka menggigit orang dengan golongan darah tertentu.
Namun, bukti ilmiah yang mendukung teori golongan darah tersebut sebenarnya sangat lemah. Penelitian terbaru justru menunjukkan bahwa nyamuk khususnya nyamuk betina yang memang membutuhkan darah untuk berkembang biak dengan mengandalkan empat sinyal utama untuk melacak mangsanya.
Baca Juga: Bukan Cuma Musim Hujan! Ini Alasan Nyamuk DBD Juga Makin Ganas Saat Kemarau
Sinyal pertama adalah gas karbondioksida (CO2) yang diembuskan manusia saat bernapas. Nyamuk mampu mendeteksi keberadaan karbondioksida dari jarak hingga 30 meter.
Setelah mendekat, nyamuk menggunakan penglihatannya yang peka terhadap spektrum warna kulit manusia.
Ketika berjarak kurang dari satu meter, sinyal ketiga berupa suhu panas tubuh diposisikan sebagai pemandu akhir bagi nyamuk untuk mendarat.
Kendati demikian, seluruh manusia bernapas, memiliki warna kulit, dan memancarkan panas tubuh. Oleh karena itu, ketiga sinyal tersebut belum mampu menjelaskan alasan mengapa ada individu tertentu yang jauh lebih sering digigit dibanding yang lain.
Kunci utama yang membedakan seseorang menjadi 'magnet nyamuk' terletak pada sinyal keempat, yaitu aroma kimiawi spesifik yang diproduksi oleh mikroorganisme di kulit.
"Sebuah penelitian menemukan bahwa nyamuk 100 kali lebih tertarik pada aroma orang yang kulitnya menghasilkan banyak asam karboksilat (carboxylic acid) dibandingkan aroma orang yang tidak memproduksi banyak asam tersebut," Dikutip dari kanal YouTube MinuteEarth.
Setiap manusia memiliki kombinasi bakteri kulit yang unik, dan jenis bakteri ini memproduksi racikan senyawa kimia yang berbeda-beda.
Bagi nyamuk, kandungan asam karboksilat dalam jumlah tinggi pada permukaan kulit memancarkan aroma yang sangat memikat dan sulit ditolak.
Kombinasi bakteri kulit ini sebagian besar dikendalikan oleh faktor genetik atau keturunan. Penelitian pada kembar identik yang berbagi gen sama menunjukkan bahwa tingkat ketertarikan nyamuk terhadap mereka hampir serupa, berbeda dengan kembar fraternal. Karena bersifat genetik, status seseorang sebagai 'magnet nyamuk' cenderung bertahan seumur hidup.
"Virus tertentu yang ditularkan nyamuk seperti Zika dan Demam Berdarah (DBD) sebenarnya dapat memengaruhi campuran bakteri yang hidup di kulit inangnya, meningkatkan jenis bakteri yang mengeluarkan kimia pemikat," dipaparkan dalam analisis di kanal YouTube MinuteEarth.
Fenomena ini merupakan strategi evolusi virus untuk memperbanyak gigitan nyamuk baru, sehingga memungkinkan virus memperluas penyebarannya ke inang manusia yang lain.
Memahami faktor genetik dan kimiawi kulit ini memperjelas bahwa kecenderungan digigit nyamuk bukanlah disebabkan oleh golongan darah atau kebetulan semata.
Meski faktor genetik tidak dapat diubah, penggunaan zat penolak nyamuk (lotion anti nyamuk) serta menjaga kebersihan kulit tetap menjadi langkah perlindungan paling efektif untuk meminimalkan risiko gigitan dan penularan penyakit. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni