Marak Tren Barefoot Walking, Ini Bahaya Tersembunyi dan Cara Aman Menurut Dokter

Jessyca Diva Edhelwise • Dipublikasikan Sabtu, 5 September 2026 | 11:33 WIB
Aktivitas berjalan tanpa alas kaki (barefoot walking) di area rumput. (pinterest.com)
Aktivitas berjalan tanpa alas kaki (barefoot walking) di area rumput. (pinterest.com)

RADARTUBAN - Tren berjalan kaki tanpa menggunakan alas atau yang populer dikenal sebagai barefoot walking belakangan ini kian diminati oleh masyarakat di media sosial.

Aktivitas ini banyak dipercaya mampu merangsang otot kaki, memicu fleksibilitas sendi, melatih keseimbangan tubuh, hingga meningkatkan kemampuan sensorik (propioseptif).

Kendati memberikan sejumlah manfaat bagi tubuh, pakar kesehatan mengingatkan agar masyarakat tidak sembarangan mengikuti tren tanpa memahami kondisi fisik masing-masing.

​Praktisi kesehatan dr. Vika Damai menjelaskan bahwa konsep dasar barefoot walking bertujuan membuat kaki bekerja secara lebih alami sebagaimana anatomi tubuh manusia.

Telapak kaki memiliki banyak reseptor saraf yang langsung mendapatkan rangsangan saat bersentuhan dengan permukaan tanah. Apabila dilakukan oleh individu dengan kondisi tubuh yang sehat serta cara yang benar, latihan ini dapat mengaktifkan otot-otot kecil di area kaki.

Baca Juga: Jalan Rusak Tak Jadi Halangan, Mantri BRI Rela Berjalan Kaki Temui Nasabah di Cianjur

Namun demikian, dr. Vika menegaskan perlunya menyaring berbagai klaim berlebihan yang beredar di internet, seperti anggapan bahwa jalan tanpa alas bisa mendetoksifikasi racun atau menyembuhkan penyakit kronis secara instan, karena belum memiliki bukti ilmiah yang kuat.

​"Jalan kaki tanpa menggunakan alas kaki bisa memberikan manfaat pada orang-orang yang tepat bila dilakukan dengan cara yang benar dan di tempat yang aman. Tetapi aktivitas ini bukan cocok untuk semua orang, terutama bagi penderita diabetes, gangguan saraf, dan penyakit pembuluh darah," jelas dr. Vika Damai.

​Bagi penderita diabetes yang mengalami diabetic neuropathy (gangguan saraf), berjalan tanpa alas kaki sangat berbahaya.

Hal ini disebabkan penurunan sensivitas saraf telapak kaki yang membuat penderita tidak menyadari timbulnya luka atau lecet, sehingga berisiko memicu infeksi berat yang sulit disembuhkan.

​Bagi individu sehat yang ingin memulai barefoot walking, penyesuaian harus dilakukan secara bertahap.

Disarankan memulainya di permukaan yang rata dan aman seperti rumput terawat atau lantai bersih selama 5 hingga 10 menit terlebih dahulu. 

Penggunaan sepatu tetap krusial untuk melindungi kaki dari benturan serta benda tajam saat beraktivitas di ruang publik. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
barefoot walking telapak kaki berjalan kaki Saraf