RADARTUBAN - Anggapan masyarakat bahwa vape atau rokok elektrik merupakan alternatif yang lebih aman daripada rokok konvensional kini memicu sorotan, seiring tingginya risiko kesehatan serta tingkat kecanduan nikotin yang mengintai para penggunanya.
Di Indonesia, diperkirakan seperempat penduduk telah mencoba mengisap perangkat elektronik ini.
Padahal, persepsi bahwa rokok elektrik sepenuhnya aman bagi tubuh merupakan pemahaman keliru yang berpotensi menimbulkan masalah kesehatan serius di kemudian hari.
Beda Mekanisme, Tetap Mengandung Nikotin
Secara mekanis, perbedaan utama kedua produk terletak pada proses pengolahannya.
Rokok konvensional dan vape memang sama-sama mengandung nikotin sebagai zat adiktif pemicu ketergantungan.
Namun, jika rokok biasa mengalirkan nikotin melalui asap hasil pembakaran yang merusak paru-paru serta memicu kanker, vape bekerja dengan memanaskan cairan khusus menjadi uap.
Proses tanpa pembakaran inilah yang menjadi alasan mendasar mengapa vape sering dianggap memiliki risiko lebih rendah.
Kendati demikian, uap kimia dari cairan vape menyimpan bahaya tersendiri yang sering kali diabaikan masyarakat.
Sejumlah bahan dalam cairan vape yang semula aman dikonsumsi dalam bentuk cair dapat mengalami perubahan sifat kimiawi saat dipanaskan.
Reaksi antarzat yang terpicu oleh proses pemanasan tersebut terbukti dapat memproduksi senyawa-senyawa baru yang berisiko memicu serangan penyakit jantung dan kerusakan organ paru-paru.
Ibarat Subjek Eksperimen
Hingga saat ini, dampak buruk jangka panjang dari penggunaan vape belum dapat dipetakan secara pasti oleh kalangan medis karena keberadaannya yang tergolong masih baru di tengah masyarakat.
Kondisi ketidakpastian ini menempatkan para penggunanya pada ancaman risiko kesehatan yang tak terduga.
Dikutip dari kanal YouTube Kok Bisa?, ketidakpastian dampak kesehatan jangka panjang ini menempatkan para penggunanya pada situasi yang riskan.
"Karena rokok udah beredar sejak lama, peneliti udah bisa nyari tahu dampak jangka panjangnya. Vape belum bisa. Mungkin kita bisa bilang kalau pengguna vape sekarang adalah dalam tanda kutip subjek eksperimen," bunyi narasi dalam video tersebut.
Pernyataan tersebut menguraikan realitas bahwa para pengguna rokok elektrik saat ini secara tidak langsung menjadi kelompok riset berjalan.
Mereka menjadi garda depan yang akan membuktikan bagaimana efek destruktif vape terhadap tubuh manusia dalam jangka panjang.
Ancam Kesehatan Fisik dan Otak Anak Muda
Meskipun ancaman bahaya bagi perokok aktif yang beralih ke vape tergolong relatif lebih kecil dibandingkan rokok bakar, ancaman terbesar justru mengintai kalangan anak muda yang sebelumnya tidak pernah merokok.
Untuk jangka pendek saja, sejumlah pengguna dilaporkan telah mengalami keluhan gangguan pernapasan akut, mulai dari batuk berlendir, sesak napas, hingga timbulnya rasa nyeri di bagian dada.
Selain gangguan fisik, tingkat risiko kecanduan vape tercatat sangat tinggi akibat kemudahan akses penggunaannya yang dapat diisap kapan saja tanpa jeda.
Situasi di mana satu perangkat vape habis dalam waktu singkat dapat menyebabkan otak dibanjiri oleh kadar nikotin dosis tinggi.
Paparan zat adiktif pada anak muda yang perkembangan otaknya belum sempurna ini berpotensi merusak fungsi memori, mengikis konsentrasi belajar, serta memicu gangguan perilaku di masa mendatang.
Melihat berbagai risiko kesehatan yang belum dipahami sepenuhnya oleh publik, langkah antisipasi mendesak untuk segera direalisasikan.
Pemberian edukasi mengenai bahaya pemanasan zat kimia serta pengetatan regulasi peredaran rokok elektrik menjadi prioritas utama guna melindungi generasi muda dari ancaman kecanduan zat adiktif. (*)
Editor : Shafa Dina Hayuning Mentari