Wajib Tahu! Ini 4 Fase Siklus Menstruasi dan Dampaknya pada Hormon serta Mood Wanita

Shafa Dina Hayuning Mentari • Dipublikasikan Selasa, 15 September 2026 | 08:36 WIB
ilustrasi silkus menstruasi. (Radar Tuban/ AI)
ilustrasi silkus menstruasi. (Radar Tuban/ AI)

RADARTUBAN - Memahami siklus menstruasi merupakan hal krusial bagi setiap wanita untuk memantau kesehatan organ reproduksi sekaligus mempersiapkan potensi kehamilan. 

Praktisi kesehatan sekaligus edukator dari kanal YouTube SB30Health dr. Sungadi Santoso menjelaskan, bahwa siklus menstruasi secara umum berlangsung rata-rata selama 28 hari dan terbagi ke dalam empat fase utama yang memengaruhi kondisi fisik maupun emosional wanita.

Ketujuh hingga 28 hari perjalanan siklus menstruasi ini dipengaruhi langsung oleh fluktuasi hormon seperti estrogen dan progesteron.

Baca Juga: Haid Tidak Teratur? Dokter Jelaskan Penyebab, Dampak, dan Cara Menormalkan Siklus Menstruasi

dr. Sung menegaskan, penting bagi wanita untuk mengenali setiap fase agar dapat menyikapi perubahan tubuh dengan tepat.

"Proses menstruasi terdiri dari empat fase. Jadi yang pertama adalah fase menstruasi atau fase perdarahan, ini terjadi sekitar 2 sampai 7 hari. Yang kedua adalah fase folikuler, kemudian fase ovulasi, dan yang terakhir adalah fase luteal," ujarnya dalam tayangan video edukasi tersebut. 

Fase Menstruasi (Pendarahan)

Fase pertama ini ditandai dengan luruhnya lapisan dalam rahim (endometrium) yang kaya akan pembuluh darah beserta sel telur yang tidak dibuahi.

Perdarahan ini normalnya berlangsung selama 2 hingga 7 hari dengan volume darah berkisar antara 30 hingga 50 cc.

Pada masa ini, kadar hormon estrogen berada di titik yang rendah.

Penurunan kadar estrogen tersebut sering kali memicu rasa kram perut akibat kontraksi rahim, lemas, serta perubahan suasana hati (bad mood) dan tingkat percaya diri yang menurun.

Fase Folikuler

Fase folikuler berlangsung sejak hari pertama hingga sekitar hari ke-13 dalam siklus menstruasi.

Pada tahap ini, kelenjar pituitari di otak memproduksi Follicle-Stimulating Hormone (FSH) untuk memicu ovarium mematangkan sel telur.

Seiring mematangnya sel telur, produksi hormon estrogen kembali meningkat perlahan. Peningkatan estrogen ini berdampak positif pada fisik dan emosional wanita yang mulai kembali ceria dan berenergi.

Fase Ovulasi

Memasuki hari ke-13 dan ke-14, sel telur yang telah matang dilepaskan dari ovarium menuju Tuba Fallopi untuk menunggu pembuahan oleh sel sperma.

Fase ovulasi ditandai dengan lonjakan tajam kadar estrogen dalam tubuh. Puncak kenaikan hormon ini berpengaruh langsung pada stamina fisik dan emosional wanita.

"Pada fase ini terjadi lonjakan estrogen. Nah, kalau estrogen sudah naik, maka wanita akan mencapai puncaknya: ceria, happy, percaya diri, dan gairah juga meningkat pada tanggal 13-14 ini karena terjadi lonjakan dari estrogen," jelas dr. Sung.

Fase Luteal

Fase terakhir berlangsung dari hari ke-15 hingga hari ke-28. Kadar estrogen yang tadinya melonjak mulai menurun, digantikan oleh peningkatan hormon progesteron.

Progesteron berperan penting dalam menebalkan kembali lapisan endometrium untuk menyambut potensi kehamilan.

Jika sel telur tidak dibuahi, produksi hormon estrogen dan progesteron akan turun secara perlahan.

 Fluktuasi hormon pada fase luteal ini kerap memicu gejala Premenstrual Syndrome (PMS) seperti munculnya jerawat, keinginan makan makanan tinggi karbohidrat (craving), serta penurunan suasana hati.

Jika tidak ada kehamilan hingga hari ke-28, lapisan endometrium akan kembali luruh dan memasuki fase menstruasi baru.

Rentang Siklus Normal dan Pola Hidup Sehat

dr. Sung juga mengingatkan, bahwa durasi siklus menstruasi wanita tidak selalu tepat 28 hari.

Rentang siklus haid yang dianggap normal berkisar antara 21 hingga 35 hari. Siklus baru dikategorikan tidak normal jika mengalami keterlambatan ekstrim atau berlangsung terlalu cepat selama lebih dari tiga bulan berturut-turut.

Untuk menjaga keseimbangan hormon dan memperlancar siklus menstruasi, wanita dianjurkan mencatat kalender haid bulanan, rutin berolahraga, mengonsumsi makanan gizi seimbang, tidur cukup 6–8 jam sehari, mengelola stres dengan baik, serta mengganti pembalut secara berkala setiap 3 jam sekali.

Jika dialami keterlambatan atau gangguan siklus yang tak kunjung membaik, wanita disarankan segera berkonsultasi dengan dokter spesialis kandungan (obgyn). (*)

Editor : Shafa Dina Hayuning Mentari
reproduksi siklus menstruasi hormon Estrogen progesteron