Cegah Penuaan Otak Lewat Jalan Kaki, dr Indra Gunawan Ungkap Pentingnya Kekuatan Otot Kaki

Jessyca Diva Edhelwise • Dipublikasikan Selasa, 15 September 2026 | 10:14 WIB
Dokter Indra Gunawan, praktisi dan edukator kesehatan medis. (youtube.com/ dr. Indra Gunawan)
Dokter Indra Gunawan, praktisi dan edukator kesehatan medis. (youtube.com/ dr. Indra Gunawan)

RADARTUBAN – Temuan riset kedokteran modern mengungkapkan bahwa otak manusia merupakan organ tubuh yang paling banyak memetik manfaat dari aktivitas fisik, bukan sekadar untuk kesehatan jantung atau pembakaran kalori semata.

Kontraksi otot saat berolahraga terbukti memicu pelepasan senyawa kimia ke aliran darah yang melindungi dan memelihara struktur sel-sel saraf.

Edukator kesehatan dr. Indra Gunawan menjelaskan, otot yang berkontraksi keras bertindak sebagai organ endokrin aktif yang merilis zat pesan bernama miokin.

Baca Juga: Pentingnya Latihan Beban Sejak Muda untuk Cegah Penurunan Massa Otot dan Kerusakan Tulang saat Lansia

Sinyal biokimia ini mengalir ke otak dan memicu produksi Brain-Derived Neurotrophic Factor (BDNF), molekul protein yang berfungsi layaknya pupuk untuk menumbuhkan cabang sel saraf baru serta memperrapat sambungan sinapsis.

Picu Pertumbuhan Sel dan Tambah Volume Hipokampus

Menurut dr. Indra, aktivitas aerobik sederhana seperti jalan kaki secara teratur efektif meningkatkan kadar BDNF sekaligus mencegah penuaan dini pada otak.

Studi ilmiah menunjukkan bagian otak yang paling merespons peningkatan molekul ini adalah hipokampus, yakni pusat pendaftaran memori dan pembentukan ingatan baru.

Penelitian eksperimental mencatat kelompok lansia yang rutin melakukan latihan jalan kaki aerobik selama satu tahun mengalami kenaikan volume hipokampus sebesar 2 persen.

Angka tersebut setara dengan memutar balik proses penyusutan alami struktur otak selama satu hingga dua tahun usia biologis.

Peran Vital Kekuatan Otot Kaki dan Peradangan Systemic

Selain jalan kaki, tingkat kekuatan otot tubuh bagian bawah menjadi prediktor paling signifikan dalam menentukan ketajaman fungsi kognitif jangka panjang.

Otot kaki yang kuat memproduksi volume miokin paling besar untuk dikirimkan ke sistem saraf pusat. Latihan teratur ini juga memicu penurunan peradangan sistemik, memulihkan kelenturan sel saraf, dan meredakan gejala depresi klinis.

Dokter Indra menekankan bahwa fungsi sejati kontraksi otot tubuh adalah menjalin komunikasi langsung dengan organ otak.

"Otot itu organ yang aktif ngobrol. Tiap kali dia berkontraksi keras, dia ngelepas zat-zat kimia ke aliran darah dan sebagian besar alamat tujuannya adalah otak kamu," ujarnya melalui video edukasi dalam kanal youtubenya.

Kualitas Tenaga Lebih Utama Dibanding Ukuran Otot

Dia menggarisbawahi bahwa efektivitas latihan fisik tidak diukur dari besarnya ukuran fisik otot, melainkan dari kualitas performa dan daya dorongnya.

"Masa otot kaki justru enggak bisa memprediksi apa-apa. Yang memprediksi adalah tenaganya, seberapa cepat dan kuat kaki itu bisa mendorong," tegas dr. Indra.

Melalui edukasi ini, masyarakat diimbau tidak lagi memandang olahraga sekadar sarana estetika fisik, melainkan sebagai bentuk investasi jangka panjang untuk mempertahankan ketajaman daya ingat hingga usia lanjut. (*)

Editor : Shafa Dina Hayuning Mentari
aerobik riset kedokteran otot organ tubuh