RADARTUBAN - Pernah merasa tahu bahwa diri sendiri berharga, tetapi tetap merasa tidak cukup baik? Atau sadar bahwa sebuah hubungan tidak sehat, tetapi masih sulit untuk meninggalkannya?
Benturan antara apa yang diketahui dan apa yang dirasakan tersebut kerap membuat seseorang terjebak dalam mental block.
Psikiater dr. Jiemi Ardian, Sp.KJ, menjelaskan bahwa manusia tidak sepenuhnya mengambil keputusan berdasarkan logika.
Dalam pemaparannya, ia menekankan bahwa manusia pada dasarnya lebih dulu digerakkan oleh emosi sebelum menggunakan pikirannya untuk mencari alasan.
“Kita adalah makhluk emosional yang berpikir. Kita bukan makhluk rasional yang merasa,” ujar dr. Jiemi.
Baca Juga: Sering Lelah Baca Berita Buruk? Ini Tips Mindfulness dan Menjaga Mental ala Maudy Ayunda
Menurutnya, pengetahuan dan perasaan tidak selalu berjalan beriringan. Seseorang dapat mengetahui secara rasional bahwa dirinya berharga, tetapi pengalaman masa lalu dapat membentuk keyakinan yang justru membuatnya merasa sebaliknya.
Kondisi itu terjadi karena otak cenderung menghubungkan berbagai hal dan menambahkan makna emosional pada sebuah fakta.
Misalnya, ketika seseorang merasa orang tuanya tidak menginginkannya, fakta tersebut dapat berkembang menjadi kesimpulan bahwa dirinya tidak berharga.
“Otak kita tuh suka nyambung-nyambungin hal yang enggak nyambung. Kita menambahkan komponen-komponen lain dari fakta yang ada, dan kemudian kita percaya itu sebagai keseluruhan fakta,” jelasnya.
Keyakinan yang terbentuk dari proses tersebut kemudian dapat memengaruhi cara seseorang melihat dirinya sendiri maupun mengambil keputusan.
Padahal, kesimpulan yang lahir dari perasaan belum tentu menggambarkan kenyataan.
Di sinilah mental block perlu ditampik. Perasaan negatif tidak semestinya langsung diperlakukan sebagai fakta.
Rasa tidak berharga, takut ditolak, atau merasa tidak mampu merupakan pengalaman emosional yang nyata dirasakan, tetapi bukan berarti kesimpulannya selalu benar.
“Hanya karena kita merasa itu benar, bukan berarti itu benar. Perasaan kita tuh bukan realita. Perasaan kita tuh sesuai namanya, cuma perasaan,” kata dr. Jiemi.
Ia juga menekankan bahwa mengubah pola pikir saja belum tentu cukup untuk mengubah keyakinan yang sudah mengakar. Sebab, belief tidak hanya terbentuk dari pengetahuan, tetapi juga pengalaman dan emosi yang menyertainya.
“Pengetahuan itu tidak mengubahkan perasaan. Perasaan ini yang perlu kita ubah untuk mengubah apa yang kita percaya, enggak cukup untuk mengubah apa yang kita pikir. Kita butuh mengubah apa yang kita rasa,” tuturnya.
Menampik mental block bukan berarti memaksa diri untuk selalu berpikir positif. Prosesnya justru dimulai dengan membedakan fakta, pikiran, dan perasaan.
Apa yang selama ini dipercaya sebagai kebenaran perlu kembali diperiksa, terutama ketika keyakinan tersebut membuat seseorang terus meragukan dirinya sendiri.
Sebuah perasaan memang dapat memengaruhi cara seseorang membangun realitas hidup. Namun, perasaan tidak selalu menjadi ukuran kebenaran.
Menyadari hal tersebut dapat menjadi langkah awal untuk mempertanyakan keyakinan lama dan membuka ruang bagi cara pandang yang lebih sehat terhadap diri sendiri.(*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni