Tren Pasien Cuci Darah Bergeser ke Usia Produktif, Ini Penyebab Utama Kasus Gagal Ginjal Anak Muda

Nadiyatul Ul Ya • Dipublikasikan Kamis, 17 September 2026 | 08:51 WIB
Ilustrasi penyakit gagal ginjal.
Ilustrasi penyakit gagal ginjal.

RADARTUBAN – Fenomena penderita gagal ginjal yang harus menjalani cuci darah (hemodialisa) di Indonesia kini makin mengkhawatirkan karena mulai bergeser ke kelompok usia produktif rentang 20 hingga 40 tahun. 

Kasus hipertensi, diabetes, hingga kegagalan fungsi organ vital ini tidak lagi didominasi oleh kelompok lanjut usia. 

Dokter spesialis penyakit dalam konsultan ginjal hipertensi (Sp.PD-KGH), dr. Decsa Medika Hertanto, mengungkapkan bahwa lonjakan penderita gagal ginjal di kalangan anak muda dipicu oleh pergeseran gaya hidup modern yang tidak sehat. 

Baca Juga: 4 Kebiasaan Pagi yang Diam-Diam Rusak Ginjal, Dokter Ungkap Bahaya Silent Killer yang Sering Diabaikan

"Pola hidup kita sekarang ini memang berbeda. Makanan tinggi garam, tinggi gula, kurang aktivitas, kurang tidur, kemudian stres, itu semua akhirnya berpengaruh terhadap kesehatan ginjal," ujar dr. Decsa dalam bincang-bincang kesehatan bersama dr. Tirta di kanal YouTube Tirta PengPengPeng. 

Pergeseran Gaya Hidup Modern dan Konsumsi Obat Bebas 

Beberapa kebiasaan harian yang membebani kerja ginjal meliputi konsumsi makanan tinggi garam dan gula seperti tren minuman manis, minimnya aktivitas fisik akibat kebiasaan berkendara untuk jarak dekat, hingga kurang tidur akibat makan serta beraktivitas larut malam. 

Selain itu, tingkat stres yang tinggi serta kebiasaan mengonsumsi obat pereda nyeri (NSAID) secara bebas tanpa pengawasan dokter turut memicu kerusakan tubulus ginjal (NSAID nephropathy). 

dr. Decsa menjelaskan, ginjal memiliki enam fungsi vital, mulai dari menyaring racun metabolisme, mengatur keseimbangan cairan, menjaga tekanan darah. 

Kemudian memproduksi hormon pemicu sel darah merah (eritropoietin), mengaktifkan vitamin D, serta meregulasi elektrolit dan asam basa. 

Organ Tanpa Daya Regenerasi 

Berbeda dengan organ tubuh lain seperti kulit yang bisa pulih dari luka, ginjal yang mengalami kerusakan fungsi permanen tidak dapat melakukan regenerasi. 

Pasien yang masuk ke stadium akhir inevitably membutuhkan terapi pengganti ginjal, seperti cuci darah secara rutin atau transplantasi ginjal. 

Dalam kesempatan tersebut, dr. Decsa juga meluruskan sejumlah mitos seputar kesehatan ginjal. Konsumsi kopi tanpa tambahan gula atau krimer sebenarnya bersifat protektif bagi jantung dan ginjal jika dikonsumsi dalam batas wajar 3–4 cangkir sehari. 

Sementara itu, ibadah puasa dinilai menyehatkan bagi ginjal normal karena memberi waktu istirahat penyaringan, meski penderita gagal ginjal kronis stadium lanjut tetap memerlukan pengawasan ketat. 

Terkait maraknya isu perdagangan organ, ia menegaskan bahwa sindikat jual beli ginjal ilegal merupakan tindak pidana berbahaya. 

Transplantasi ginjal yang sah di Indonesia wajib bersifat sukarela dan diprioritaskan dari pendonor yang memiliki hubungan kekerabatan atau sedarah. 

Mencegah Kerusakan Organ

Guna mencegah kerusakan organ sejak dini, masyarakat diimbau untuk lebih mawas diri dengan rajin melakukan skrining kesehatan dasar, seperti cek urin berkala, agar kesehatan dan produktivitas tetap terjaga. (*)

Editor : Shafa Dina Hayuning Mentari
organ usia produktif anak muda gagal ginjal cuci darah