RADARTUBAN – Istilah "diabetes basah" dan "diabetes kering" kerap beredar luas di tengah masyarakat sebagai tolok ukur menilai tingkat keparahan penyakit.
Banyak yang menganggap luka kering menandakan kondisi diabetes lebih ringan. Namun, pandangan tersebut merupakan miskonsepsi medis yang berbahaya jika dibiarkan.
Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Endokrin, Metabolik, dan Diabetes RS UKRIDA, dr. Marshell Tendean, Sp.PD-KEMD, meluruskan anggapan salah tersebut melalui unggahan video Youtube dalam kanal DRV Channel.
Baca Juga: Bahaya di Balik Gaya Nongkrong Anak Muda, Minuman Manis Kekinian Tingkatkan Risiko Diabetes
"Sebenarnya istilah tersebut bukan istilah medis untuk membedakan jenis diabetes. Diabetes tetap dikenal berdasarkan jenis penyebabnya, apakah tipe satu, apakah tipe dua, dan beberapa tipe diabetes lainnya," jelas dr. Marshell.
Penyebab Utama Masalah Kaki Diabetik
Masyarakat menggunakan istilah "diabetes basah" hanya untuk menggambarkan luka di kaki yang bernanah, lembap, atau terinfeksi. Sementara "diabetes kering" dipakai untuk sebutan luka yang belum terbuka.
Dokter Marshell menegaskan bahwa kondisi luka kering sama sekali tidak menjamin pasien aman dari risiko amputasi.
Dia menjabarkan tiga alasan utama penderita diabetes berisiko tinggi mengalami masalah serius pada kaki
Mulai dari kerusakan saraf (neuropati) karena kadar gula darah tinggi merusak saraf hingga menurunkan sensasi rasa sakit. Sayangnya, pasien sering tidak menyadari saat kakinya tertusuk atau lecet.
Kemudian terjadi gangguan aliran darah, dikarenakan kerusakan pembuluh darah menghambat distribusi nutrisi dan oksigen yang dibutuhkan untuk proses penyembuhan luka.
Serta gula darah tidak terkontrol yang disebut hiperglikemia dan melemahkan sistem imun tubuh dalam melawan infeksi bakteri.
Lima Langkah Penting Perawatan Kaki
Guna mencegah komplikasi fatal, penderita diabetes diimbau menerapkan lima langkah perawatan harian pada area kaki.
Pemeriksaan rutin seperti cek telapak kaki, sela-sela jari, dan tumit setiap hari untuk memantau kemerahan, bengkak, atau kulit pecah-pecah.
Selalu gunakan alas kaki, termasuk saat berada di dalam rumah untuk menghindari risiko tertusuk benda tajam.
Serta gunakan sepatu yang pas dan periksa bagian dalam sepatu dari kerikil sebelum digunakan.
Tak lupa menjaga kebersihan kaki dengan sabun dan keringkan dengan sempurna, terutama di sela jari. Hindari merendam kaki terlalu lama dengan air panas.
Hindari pula mengoleskan ramuan atau antiseptik tanpa petunjuk dokter, terutama jika luka berbau atau bernanah.
Dokter Marshell mengingatkan pasien untuk segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan jika luka membesar, kaki berubah warna kehitaman, atau muncul demam.
Kontrol gula darah, pola makan sehat, dan kepatuhan konsumsi obat tetap menjadi kunci utama pengelolaan diabetes jangka panjang. (*)
Editor : Shafa Dina Hayuning Mentari