RADARTUBAN – Peningkatan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) dan influenza tengah melanda masyarakat pada musim kemarau saat ini.
Fenomena tersebut dipicu oleh kombinasi perubahan iklim, El Nino berkepanjangan, polusi udara akibat kebakaran hutan, serta masih rendahnya cakupan vaksinasi mandiri di Indonesia.
Dalam perbincangan mendalam bersama JawaPosTV, Profesor Riset bidang Kesehatan Masyarakat sekaligus peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof. Dr. Masdalina Pane, membedah secara komprehensif mengenai dinamika penyebaran virus influenza di tengah kondisi cuaca kering saat ini.
Baca Juga: Sejarah Virus Influenza menurut Prof. dr. Tjandra Yoga Aditama, Mantan Dirjen di Kemenkes
Faktor Pemicu dan Varian Virus yang Bersirkulasi
Prof. Masdalina menjelaskan bahwa peningkatan kasus ISPA dan influenza tidak terlepas dari perubahan iklim dan fenomena El Nino yang cukup panjang.
Di beberapa wilayah seperti Kalimantan, Sumatera Selatan, dan Riau, kebakaran hutan menyebabkan tingginya tingkat polutan (PM 2,5 dan PM 10) yang memicu lonjakan kasus ISPA.
Selain itu, transisi cuaca dengan perubahan suhu ekstrem dari panas panjang menuju awal musim hujan turut memengaruhi kerentanan tubuh terhadap infeksi.
Terkait varian yang bersirkulasi, dua tipe virus influenza A saat ini mendominasi peningkatan kasus.
Pertama, Influenza A H1N1 PDM09, varian yang awalnya terkait flu babi pada tahun 2009 ini kini telah sepenuhnya menular antarmanusia (human to human).
Kedua, Influenza A H3N2 yang juga mengalami tren peningkatan serupa.
Meskipun virulensinya tidak setinggi virus berbahaya seperti H5N1, kedua tipe ini tetap menuntut kewaspadaan tinggi, khususnya bagi kelompok rentan seperti balita dan lansia.
Tantangan Imunitas dan Langkah Pencegahan
Lonjakan pasien, terutama anak-anak di rumah sakit, terjadi karena tingkat imunitas populasi yang belum optimal terhadap strain baru tersebut.
Berbeda dengan negara-negara lain yang mewajibkan atau menganjurkan vaksinasi influenza secara rutin bagi kelompok rentan, di Indonesia vaksin ini belum masuk dalam program subsidi pemerintah.
Vaksin influenza masih bersifat mandiri (out of pocket) dan belum ditanggung oleh asuransi, sehingga kesadaran masyarakat masih perlu ditingkatkan.
"Tentu saja yang pertama adalah meningkatkan daya tahan tubuh, kemudian yang kedua melindungi bayi dan lansia supaya mereka tidak terinfeksi," ujar Prof. Masdalina Pane.
Untuk menekan laju penularan, Prof. Masdalina menyarankan beberapa langkah penting.
Di antaranya menerapkan kembali kebiasaan baik dari protokol kesehatan, seperti membersihkan diri sebelum berinteraksi dengan bayi dan lansia sekembalinya beraktivitas di luar rumah, serta memprioritaskan perlindungan bagi kelompok rentan melalui pemberian vaksin influenza secara mandiri bagi yang memiliki kemampuan finansial. (*)
Editor : Shafa Dina Hayuning Mentari