Frozen Food Tak Sekadar Praktis, Makanan Beku Disebut Bisa Kurangi Limbah Pangan dan Emisi Karbon

Rosiana Dwi Ramadhani • Dipublikasikan Kamis, 24 September 2026 | 15:40 WIB
Ilustrasi stok frozen food yang tersusun rapi di dalam freezer. (pinterest.com)
Ilustrasi stok frozen food yang tersusun rapi di dalam freezer. (pinterest.com)

RADARTUBAN - Tren konsumsi frozen food atau makanan beku tidak lagi sekadar menjadi solusi praktis saat beraktivitas padat, melainkan mulai dilirik sebagai langkah nyata dalam mengurangi limbah pangan (food waste)  serta menekan emisi karbon global.

Perubahan pola konsumsi ini dipicu oleh tingginya kebiasaan masyarakat di beberapa negara maju, khususnya Amerika Serikat, yang kian bergantung pada makanan beku sejak masa pandemi COVID-19.

Berdasarkan data dari American Frozen Food Institute (AFFI), nilai penjualan frozen food di Amerika Serikat melonjak drastis hingga melampaui 72 miliar dolar AS dan terus menunjukkan tren kenaikan dari tahun ke tahun.

Pandemi telah mengubah persepsi publik secara mendasar dalam mengelola stok bahan makanan di rumah.

Salah satu pemicu utama tingginya limbah pangan dunia adalah cepat busuknya bahan makanan segar (fresh food) sebelum sempat diolah atau dikonsumsi.

Data Organisasi Bangsa-Bangsa (PBB) menunjukkan bahwa sekitar sepertiga dari total makanan yang diproduksi di seluruh dunia berakhir menjadi sampah di tempat pembuangan akhir.

Baca Juga: Viral Video Dugaan Kekerasan di Food Court Senayan City, Perempuan Mengaku Ditendang dari Belakang

Untuk kategori buah-buahan dan sayuran, tingkat pemborosannya bahkan menyentuh angka 50 persen.

Frozen food menawarkan tingkat efisiensi yang jauh lebih tinggi karena proses pembekuan mampu menghentikan pertumbuhan mikroba tanpa memerlukan bahan pengawet kimia tambahan.

Selain pada tingkat rumah tangga, kerugian pangan juga terjadi pada rantai distribusi. Sekitar 12 persen limbah makanan dunia timbul akibat kurang optimalnya sistem rantai pasokan dingin (cold chain). 

Jika efisiensi pembekuan dan distribusi dapat diperbaiki, jutaan ton bahan pangan yang terselamatkan diperkirakan mampu memenuhi kebutuhan pangan bagi sekitar 1 miliar orang setiap tahunnya.

 

Pengurangan limbah makanan berhubungan langsung dengan upaya mengatasi krisis iklim.

Penumpukan sampah makanan di TPA menghasilkan gas metana dan emisi karbon berlebih, yang menyumbang sekitar 8 hingga 10 persen dari total emisi gas rumah kaca global.

Meskipun perangkat pembeku memerlukan konsumsi daya listrik yang cukup besar, total emisi karbon yang dihasilkan selama proses pembekuan jauh lebih kecil dibandingkan dengan dampak buruk lingkungan akibat pembusukan limbah pangan yang terbuang sia-sia.

Inovasi teknologi pendinginan juga terus dikembangkan untuk menghemat energi. Peneliti dari University of Birmingham baru-baru ini merekomendasikan penyesuaian suhu standar pembekuan industri dari yang semula -18°C menjadi -15°C.

Baca Juga: Rekomendasi Frozen Food Bakar yang Cocok Untuk Pesta Tahun Baru, Agar Tidak Jagung Melulu

Kenaikan suhu sebesar 3 derajat Celsius ini dinilai tetap aman menjaga kualitas makanan sekaligus mampu memangkas emisi karbon global secara signifikan.

"Dengan kita naikin suhu standar sebanyak 3 derajat Celsius, kita tuh mengurangi emisi karbon tahunan sebanyak 17,7 juta metrik ton.  Efeknya secara global sangat besar," ungkap narator. 

Dari sudut pandang kesehatan dan nutrisi, bahan makanan utuh (real food) yang dibekukan seperti buah dan sayur sering kali menyimpan nutrisi yang lebih stabil dibandingkan bahan segar yang disimpan terlalu lama di suhu ruang.

Hal ini disebabkan karena proses pembekuan dilakukan tepat saat bahan pangan berada pada kondisi kematangan optimal (peak freshness).

Para pakar mengingatkan bahwa manfaat kesehatan dan efisiensi lingkungan ini berlaku untuk bahan makanan utuh (real food) seperti daging, ikan, buah, dan sayuran beku.

Manfaat ini tidak berlaku bagi jenis makanan olahan berlebih (ultra-processed food) seperti nugget atau sosis yang tinggi natrium dan lemak jenuh. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
limbah pangan frozen food emisi