Tertusuk Pisau Tak Hanya Sebabkan Luka, Ini Dampaknya bagi Tubuh dan Mental

Vannya Alysa P • Dipublikasikan Sabtu, 26 September 2026 | 07:54 WIB
Penanganan medis darurat pada pasien. (Pixabay.com/@marionbrun)
Penanganan medis darurat pada pasien. (Pixabay.com/@marionbrun)

RADARTUBAN — Gimana rasanya tertusuk pisau? Meski terdengar seperti pertanyaan sederhana, jawabannya ternyata melibatkan proses biologis yang jauh lebih rumit daripada sekadar rasa sakit.

Ketika benda tajam menembus kulit dan jaringan tubuh, berbagai mekanisme darurat akan langsung aktif.

Mulai dari lonjakan adrenalin, pendarahan, hingga respons tubuh untuk mempertahankan fungsi organ-organ vital.

Pada detik-detik pertama setelah tertusuk, sensasi yang dirasakan setiap orang bisa berbeda-beda.

Sebagian orang menggambarkannya seperti terkena pukulan keras, sementara yang lain langsung merasakan nyeri yang tajam.

Baca Juga: Juventus Dihantam Kabar Buruk, Manuel Locatelli Operasi Meniskus dan Terancam Absen 100 Hari

Dalam kondisi darurat, tubuh juga dapat melepaskan hormon adrenalin dalam jumlah besar. 

Lonjakan hormon ini terkadang membuat korban tidak langsung menyadari tingkat keparahan luka atau merasakan sakit secara penuh sesaat setelah kejadian.

Setelah itu, dampak yang lebih serius mulai muncul, terutama jika terjadi pendarahan yang signifikan.

Darah memiliki peran penting untuk mengangkut oksigen ke seluruh tubuh. Ketika seseorang kehilangan banyak darah dalam waktu singkat, pasokan oksigen ke organ-organ vital dapat berkurang dan mengganggu berbagai fungsi tubuh.

Akibatnya, korban dapat mengalami lemas, pusing, kehilangan keseimbangan, hingga penurunan kesadaran.

Dalam kasus yang berat, kehilangan darah dalam jumlah besar dapat menyebabkan syok hipovolemik, yaitu kondisi darurat medis yang mengancam jiwa.

Tingkat keparahan luka tusuk sangat bergantung pada lokasi luka, kedalaman tusukan, banyaknya pendarahan, serta ada atau tidaknya kerusakan pada organ dan jaringan penting.

Tusukan pada area perut, misalnya, berisiko melukai organ-organ di dalam rongga perut. Sementara itu, luka yang mengenai saraf tertentu dapat menyebabkan gangguan fungsi tubuh pada area yang terdampak.

Selain menimbulkan dampak fisik, luka tusuk juga dapat meninggalkan trauma psikologis yang tidak ringan bagi korban.

Dalam video yang diunggah kanal YouTube Kok Bisa?, dijelaskan bahwa dampak penusukan sering kali tidak berhenti pada luka yang terlihat secara fisik.

"Tapi yang sering orang lupa, hal kayak gini tuh enggak cuma ngelukain badan, tapi juga pikiran. Di banyak kasus, kengeriannya bakal membekas dan bikin takut keluar rumah atau trauma kalau ngelihat pisau, belum lagi ada bekas luka yang bakal selamanya ngingetin si korban akan kenangan pahitnya," ujar narator dalam video tersebut.

Baca Juga: Politisi PDI Perjuangan Singgahan Tuban Ditusuk Pisau, Gegara Singgung Persoalan Rumah Tangga

Penjelasan tersebut menunjukkan bahwa pengalaman mengalami luka tusuk dapat meninggalkan dampak emosional yang bertahan lama, bahkan setelah kondisi fisik korban mulai pulih.

Proses pemulihan luka tusuk sendiri memerlukan penanganan medis yang tepat untuk mencegah komplikasi seperti infeksi.

Setelah pendarahan terkendali, tubuh akan memulai proses penyembuhan alami dengan membentuk bekuan darah dan jaringan baru pada area yang terluka. Seiring waktu, jaringan kulit akan memperbaiki kerusakan tersebut hingga luka berangsur pulih.

Karena itu, penanganan medis yang cepat dan tepat menjadi faktor penting untuk meningkatkan peluang pemulihan serta mengurangi risiko komplikasi akibat luka tusuk. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
tertusuk pisau tusukan trauma psikologis pendarahan