Jebakan Manis Industri Pangan, Makanan Murah dan Gaya Hidup Modern Picu Ancaman Diabetes

Rosiana Dwi Ramadhani • Dipublikasikan Sabtu, 26 September 2026 | 14:11 WIB
Ilustrasi peralatan untuk pengelolaan rutin bagi penyandang diabetes. (pinterest.com)
Ilustrasi peralatan untuk pengelolaan rutin bagi penyandang diabetes. (pinterest.com)

RADARTUBAN - Diabetes sering kali disederhanakan sebagai masalah kesehatan individu akibat konsumsi gula berlebih atau kurangnya olahraga.

Namun, dalam analisis mendalam yang dirilis oleh kanal YouTube Kamar Film, diabetes pada kenyataannya merupakan fenomena peradaban modern, sebuah krisis ekosistem yang melibatkan krisis sistem pangan global, perubahan ritme kerja, hingga pengalihan beban moral dari sistem ke tangan individu.

Sejarah mencatat bahwa gejala diabetes sudah ditemukan ribuan tahun lalu.

Sekitar 3.500 tahun lalu di Mesir Kuno, dokumen Papirus Ebers mencatat kondisi penurunan berat badan ekstrem dan kehilangan cairan berlebih. 

Baca Juga: Bahaya di Balik Gaya Nongkrong Anak Muda, Minuman Manis Kekinian Tingkatkan Risiko Diabetes

Di India Kuno, kondisi serupa dikenal dengan nama Madhumeha (urin manis). 

Meski demikian, sejarawan medis Roy Porter mencatat bahwa hingga awal abad ke-19, diabetes tergolong penyakit langka yang kerap menyerang kelompok kaya.

Perubahan drastis baru terjadi saat Revolusi Industri dan era pasca-Perang Dunia Kedua.

Makanan tinggi energi dan ultraproses, kaya gula, tepung olahan, serta lemak—diproduksi secara massal karena murah dan tahan lama. Di saat yang sama, tata kota dan pola kerja berubah menjadi sedentary (minim aktivitas fisik). 

Benturan antara tubuh purba manusia yang berevolusi untuk kondisi kelangkaan kalori dengan lingkungan industrial yang melimpah akan kalori murah memicu epidemi penyakit tidak menular.

"Di saat dunia modern menuntut produktivitas tanpa henti, tubuh manusia sering kali dijadikan lokasi penilaian moral," ucap narator. 

Di negara berkembang seperti Indonesia, krisis ini semakin kompleks akibat fenomena transisi epidemiologis. Penyakit menular belum sepenuhnya usai, tetapi penyakit kronis tidak menular seperti diabetes tipe 2 sudah melonjak tajam. 

"Sakitnya seseorang dibaca sebagai kegagalan pribadi, padahal ia adalah dampak dari cara dunia modern mengatur makanan, kerja, dan lingkungan hidup," Imbuhnya. 

Perubahan gaya hidup akibat urbanisasi pesat dan akses makanan sehat yang mahal membuat masyarakat kelas menengah ke bawah terjebak pada pilihan makanan olahan murah yang tinggi gula.

Penemuan insulin oleh Frederick Banting dan Charles Best pada tahun 1921 memang mengubah diabetes dari vonis kematian menjadi kondisi kronis yang dapat dikelola.

Baca Juga: Kopi Kekinian Bisa Tingkatkan Risiko Diabetes? Ini Penjelasan di Balik Kandungan Gulanya

Namun, penemuan medis ini menciptakan relasi permanen antara penderita dan industri farmasi seumur hidup.

Analisis ini menyimpulkan bahwa penanganan krisis diabetes tidak cukup hanya dengan memberi nasihat edukasi personal kepada penderita.

Dibutuhkan perubahan struktural pada sistem pangan, akses kesehatan yang merata, serta lingkungan kota yang ramah bagi tubuh manusia.(*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
diabetes penyakit gula