RADARTUBAN - Penyakit gagal ginjal di Tuban mulai banyak ditemukan pada kelompok usia yang lebih muda.
Dari data pasien yang ditangani RSUD dr. R. Koesma Tuban, hingga September 2025 tercatat sebanyak 17 penderita berusia di bawah 30 tahun.
Selain 17 pasien berusia produktif tersebut, terdapat 37 penderita dalam kelompok usia 31-40 tahun.
Kemudian, pasien berusia 41-50 tahun mencapai 75 orang. Sementara itu, kelompok usia 51-60 tahun menjadi yang terbanyak dengan 105 pasien.
Menurut Kepala Bidang Pelayanan Medik RSUD dr. R. Koesma Tuban Erwin Era Prasetya mengatakan, data tersebut menunjukkan bahwa gagal ginjal tidak lagi hanya menjadi persoalan kesehatan pada kelompok lanjut usia.
Kasusnya mulai bergeser dan ditemukan pada masyarakat yang masih berada dalam usia produktif.
“Seharusnya tidak ada penderita gagal ginjal di bawah usia 30 tahun. Namun, pola makan yang tidak sehat membuat penyakit ini mulai bergeser menyerang kelompok usia lebih muda. Mereka yang cuci darah itu sudah mengalami kerusakan ginjal 70-80 persen,” jelas Erwin kepada Jawa Pos Radar Tuban beberapa waktu lalu.
Pola Hidup Tak Sehat Jadi Pemicu
Dia menjelaskan, pergeseran kasus tersebut tidak lepas dari pola hidup yang kurang sehat.
Salah satunya kebiasaan mengonsumsi makanan dan minuman dengan kadar gula serta garam tinggi.
Jika dilakukan terus-menerus, kebiasaan tersebut dinilai dapat meningkatkan risiko kerusakan ginjal.
“Kalau intensitasnya sering, dimungkinkan satu atau dua tahun berikutnya bisa menderita gagal ginjal,” lanjutnya.
Gambaran kasus pada usia muda juga pernah terjadi di RSUD dr. R. Koesma Tuban. Erwin menyebut, pihaknya pernah menangani pasien cuci darah yang usianya baru 15 tahun.
Berdasarkan analisisnya, pasien tersebut mengalami gagal ginjal karena sejak kecil terbiasa mengonsumsi minuman kemasan dengan kadar gula tinggi.
“Kalau pada lansia, gagal ginjal cenderung dipicu karena adanya penyakit kronis, tapi pada usia muda lebih banyak karena pola makan yang tidak sehat,” jelas Erwin.
Selain konsumsi gula dan garam secara berlebihan, kerusakan ginjal juga dapat dipicu penggunaan obat-obatan antinyeri tanpa resep dokter maupun faktor genetik.
Namun, menurut Erwin, kedua faktor tersebut relatif jarang dibandingkan dengan faktor yang berkaitan dengan konsumsi makanan sehari-hari.
“Untuk pasien stadium 1-4, masih kami lakukan penanganan dengan obat-obatan, namun jika mencapai stadium 5, harus dilakukan cuci darah untuk menyaring racun yang tidak dapat diproses oleh ginjal,” katanya.
Pola Konsumsi Harian Perlu Diperhatikan
Pemilik Klinik Keluarga Era Sehat tersebut mengingatkan masyarakat agar lebih memperhatikan pola makan.
Menurut dia, kebiasaan mengonsumsi makanan dan minuman tinggi gula serta garam yang terus berlangsung dapat membuat jumlah penderita gagal ginjal semakin meningkat.
Erwin bahkan memprediksi, dalam lima tahun mendatang penderita gagal ginjal bisa semakin banyak dan menyerang kelompok usia yang lebih muda apabila pola hidup tersebut tidak diperhatikan.
“Kalau tidak diperhatikan, bukan tidak mungkin angka pasien cuci darah di Tuban akan melonjak drastis,” tandasnya. (*)
Editor : Shafa Dina Hayuning MentariSumber : Radar Tuban