Jika Pria Bisa Mengandung dan Melahirkan, Apa yang Akan Terjadi pada Dunia? Ini Penjelasannya

Vannya Alysa P • Dipublikasikan Senin, 28 September 2026 | 17:34 WIB
Ilustrasi pria dengan alat tes kehamilan yang menggambarkan wacana kehamilan pada pria biologis. (Tangkapan layar  YouTube.com KokBisa)
Ilustrasi pria dengan alat tes kehamilan yang menggambarkan wacana kehamilan pada pria biologis. (Tangkapan layar YouTube.com KokBisa)

RADARTUBAN — Bagaimana jadinya jika suatu hari pria bisa mengandung dan melahirkan anak? Pertanyaan yang selama ini identik dengan cerita fiksi ilmiah itu ternyata juga menjadi bahan diskusi di dunia medis. 

Meski teknologi saat ini belum mampu mewujudkannya pada pria biologis, para ilmuwan menilai skenario tersebut secara teori dapat dibahas melalui prosedur medis yang sangat rumit dan berisiko tinggi.

Agar seorang pria biologis dapat hamil, syarat utama yang harus dipenuhi adalah keberadaan rahim sebagai tempat janin berkembang. 

Secara teori, hal itu hanya mungkin dilakukan melalui transplantasi rahim dari pendonor perempuan, sebuah prosedur operasi besar yang hingga kini masih tergolong kompleks bahkan pada pasien perempuan.

Dikutip dari kanal YouTube Kok Bisa? proses tersebut bukan sekadar memindahkan organ reproduksi ke tubuh pria.

"Secara teori ini tuh enggak mustahil tapi prosedurnya bakal gila banget. Pertama tentunya laki-laki harus punya rahim tempat tidur bayi selama 9 bulan. Caranya bisa lewat operasi besar-besaran yang ngetransfer rahim dari perempuan lain," ujar narator.

Baca Juga: Andre Taulany Menikah dengan Amanda Rigby, Erin Klarifikasi Soal Komentar Hamil Duluan

Tantangan berikutnya adalah persoalan hormon. Tubuh perempuan secara alami menghasilkan berbagai hormon yang membantu janin berkembang, menjaga kehamilan tetap stabil, serta menyesuaikan respons sistem kekebalan tubuh. 

Pada pria, kondisi biologis tersebut tidak tersedia secara alami sehingga diperlukan terapi hormon intensif dalam jangka panjang.

Intervensi hormon itu juga berpotensi menimbulkan berbagai perubahan fisik maupun emosional. Mulai dari mual, kelelahan, perubahan suasana hati, hingga perubahan karakteristik tubuh tertentu.

"Kalau udah siap-siap tubuh jadi gampang muntah capek emosi naik turun dan suara berubah. Terus karena laki-laki enggak punya pintu keluar bayi secara alami satu-satunya jalan yang bisa dilalui adalah lewat pembedahan di perut," jelas narator saat membahas kemungkinan proses persalinan.

Jika teknologi tersebut suatu saat berhasil dikembangkan, dampaknya diperkirakan tidak hanya terjadi di bidang kesehatan. Berbagai aspek kehidupan sosial juga berpotensi mengalami penyesuaian besar.

Hak cuti hamil bagi pekerja pria, fasilitas publik yang lebih inklusif bagi individu hamil, hingga layanan kesehatan khusus kemungkinan perlu dirancang ulang. 

Peran pengasuhan anak yang selama ini banyak dikaitkan dengan perempuan juga dapat mengalami perubahan perspektif di masyarakat.

Meski demikian, kemampuan pria biologis untuk hamil masih berada jauh dari tahap penerapan nyata. Hingga saat ini belum ada kasus kehamilan pada pria biologis yang berhasil terjadi secara alami maupun melalui prosedur medis pada manusia.

Kasus yang sering disebut sebagai "pria hamil" dalam dunia medis umumnya terjadi pada pria transgender yang masih memiliki rahim dan organ reproduksi perempuan.

Sementara itu, penelitian transplantasi rahim pada hewan masih menghadapi tingkat komplikasi dan risiko yang sangat tinggi.

Baca Juga: Jangan Asal Pilih Bayi Tabung, Ini Tahapan Program Hamil yang Perlu Diketahui Pasangan

Keterbatasan teknologi saat ini membuat skenario tersebut masih berada dalam ranah teori ilmiah.

"Sampai video ini dibikin, laki-laki hamil masih sebatas imajinasi," tegas narator.

Meski belum dapat diwujudkan, diskusi mengenai kemungkinan pria hamil menunjukkan bagaimana perkembangan ilmu pengetahuan terus mendorong manusia mempertanyakan batas-batas biologis yang selama ini dianggap mutlak. 

Jika suatu hari teknologi mampu menembus batas tersebut, perubahan yang terjadi kemungkinan tidak hanya menyentuh dunia medis, tetapi juga hukum, budaya, hingga cara masyarakat memandang kehamilan itu sendiri. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
pria biologis melahirkan hormon hamil