DNA Bukan Penentu Tunggal Sifat Manusia, Riza Arif Putranto Jelaskan Peran Epigenetik dan Lingkungan

Salsa Mardhotun Nafisah • Dipublikasikan Selasa, 29 September 2026 | 09:32 WIB
Riza arif putranto ungkap peran epigenetik dan trauma. (tangkapan layar Youtube malaka)
Riza arif putranto ungkap peran epigenetik dan trauma. (tangkapan layar Youtube malaka)

RADARTUBAN – Banyak orang menganggap gen menentukan sifat dan masa depan seseorang.

Namun, peneliti biologi molekuler dan genomik Riza Arif Putranto menjelaskan bahwa DNA bukan satu-satunya faktor yang membentuk diri manusia. Hal tersebut disampaikannya dalam tayangan di kanal YouTube Malaka.

Riza menjelaskan DNA dapat diibaratkan sebagai sebuah buku yang berisi berbagai resep atau informasi genetik.

Sementara gen merupakan bagian tertentu dari DNA yang membawa informasi untuk membentuk sifat dan fungsi tubuh.

Baca Juga: Dua Kerangka Manusia yang Ditemukan Polisi Di Jakpus Dicocokan dengan DNA Dua Orang yang Hilang Saat Demo Agustus Lalu

Manusia memperoleh sekitar setengah DNA dari ibu dan setengah lainnya dari ayah. 

Meski demikian, kesamaan DNA tidak selalu membuat seseorang memiliki sifat yang sama. Hal ini dapat dilihat pada individu kembar yang memiliki DNA sangat mirip, tetapi tetap dapat menunjukkan perbedaan.

Menurut Riza, perbedaan tersebut berkaitan dengan epigenetik, yaitu proses yang memengaruhi bagaimana DNA dibaca oleh sel.

Cara kerja tersebut dapat dipengaruhi oleh makanan, informasi yang diterima, pola pikir, serta lingkungan tempat seseorang tumbuh.

“DNA itu adalah sebagian dari sifat kita,” ujar Riza.

Ia juga menjelaskan mengenai intergenerational trauma atau trauma antargenerasi.

Menurutnya, pola traumatis yang dialami orang tua dapat berkaitan dengan perubahan epigenetik dan berpotensi memengaruhi keturunannya.

Namun, pola tersebut tidak bersifat permanen. Riza mengatakan perubahan gaya hidup dan lingkungan dapat memengaruhi cara tubuh membaca DNA.

“Kalau DNA buku resepnya itu tidak akan pernah bisa diubah. Tapi epigenetik cara membacanya bisa diubah,” jelasnya.

Baca Juga: Mbappé Efek: Bukan Sekadar Gol, tapi Mengubah DNA Real Madrid, 35 Gol dari 38 Laga Jadi Bukti

Karena itu, Riza menilai tes DNA tidak seharusnya dipahami sebagai penentu nasib. 

Tes tersebut lebih menunjukkan potensi genetik seseorang sehingga dapat menjadi pedoman untuk melakukan langkah pencegahan, seperti menjaga pola makan dan berolahraga ketika memiliki risiko penyakit tertentu.

Dengan demikian, Riza menegaskan bahwa DNA bukan penentu tunggal sifat maupun masa depan seseorang. Potensi genetik tetap dipengaruhi oleh epigenetik dan lingkungan yang membentuk bagaimana DNA bekerja dalam kehidupan seseorang. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
sifat manusia gen genetik dna