RADARTUBAN - Kondisi autisme di seluruh dunia mencakup sekitar satu dari setiap seratus orang, yang berarti terdapat ratusan juta individu yang hidup dalam spektrum neurologis unik ini.
Di Indonesia sendiri, jutaan anak dan dewasa menjalani kehidupan sehari-hari sebagai individu autistik.
Kendati jumlahnya tidak sedikit, masyarakat luas kerap kali salah memahami cara kerja otak dan persepsi yang dirasakan oleh pengidap autisme, bahkan masih ada yang keliru menganggapnya sebagai suatu penyakit yang harus disembuhkan.
Fenomena dan penjelasan ilmiah mengenai dunia individu autistik tersebut dibedah secara komprehensif oleh kanal YouTube Kok Bisa?.
Lewat tayangan tersebut memaparkan gambaran mendalam mengenai bagaimana stimulan lingkungan yang tampak biasa bagi orang umum dapat terasa sangat intens dan ekstrem bagi seorang individu dengan autisme.
Baca Juga: Viral Kabar Vaksin Dapat Menyebabkan Autisme, Berikut Penjelasan Dari WHO
"Bayangin kalau semua hal di sekitar kita jadi super ekstrem: suara kipas angin kedengaran kayak suara jet tempur, sinar dari gawai kayak lampu sorot di panggung, dan sentuhan biasa berasa kayak tusukan jarum. Dunia seintens inilah yang harus dihadapi setiap hari oleh sebagian orang dengan autisme," bunyi narasi kanal Kok Bisa?
Secara medis, autisme bukanlah sebuah penyakit, melainkan bentuk variasi perkembangan pada kondisi saraf (neurodivergen). Kondisi ini memengaruhi cara seseorang berkomunikasi, memproses informasi dari indera, serta berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya.
Tayangan tersebut juga menegaskan bahwa autisme tidak disebabkan oleh pola asuh orang tua, asupan makanan tertentu, ataupun pemberian vaksin semasa kecil, melainkan murni dipicu oleh faktor genetik dan kondisi selama masa kandungan.
Oleh karena itu, intervensi medis maupun terapi yang diberikan bertujuan untuk mendukung fungsionalitas harian mereka, bukan untuk "menyembuhkan" kondisi saraf yang sudah menjadi bagian dari diri mereka.
Tantangan utama yang dihadapi individu autistik sering kali bukan berasal dari kapasitas intelektual mereka, melainkan dari norma komunikasi non-verbal dan pemahaman interaksi sosial yang kompleks.
Dalam video tersebut, seorang individu autistik turut membagikan pengalaman pribadinya mengenai rasa terisolasi yang dialaminya sejak kecil sebelum akhirnya menerima diagnosis resmi.
"Kalau aku bisa jelasin dengan satu kata, rasanya tuh kesepian. Dari kecil aku selalu ngerasa ibaratnya semua orang di sekelilingku ngobrol dengan satu bahasa yang entah kenapa saya doang yang enggak ngerti. Tapi waktu dapat diagnosis rasanya lega, kayak punya jawaban kenapa selama ini mengalami banyak masalah," dikutip dari Kok Bisa?
Selain masalah komunikasi internal, tayangan ini memberikan teguran keras terhadap kebiasaan masyarakat yang masih kerap menggunakan istilah autisme sebagai kata ejekan atau bahan gurauan di ruang publik.
Masyarakat diajak untuk lebih terbuka belajar langsung dari perspektif individu autistik daripada terjebak dalam asumsi atau prasangka sepihak.
Keragaman cara berpikir dan berinteraksi yang dimiliki individu autisme seharusnya direspons dengan sikap merangkul, memahami, serta menciptakan ruang sosial yang inklusif bagi semua orang.(*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni