CKG Nasional Temukan 26,8 Ribu Kasus TBC Baru, Ini Langkah Kemenkes

Shafa Dina Hayuning Mentari • Dipublikasikan Jumat, 2 Oktober 2026 | 07:11 WIB
Ilustrasi orang terjangkit TBC. (Radar Tuban/ AI)
Ilustrasi orang terjangkit TBC. (Radar Tuban/ AI)

RADARTUBAN - Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) menemukan 26,8 ribu kasus baru tuberkulosis (TBC) dari 20,6 juta masyarakat Indonesia yang telah menjalani skrining.

Selain itu, sebanyak 360,7 ribu orang teridentifikasi memiliki tanda dan gejala penyakit yang menyerang paru-paru tersebut.

Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) Dante Saksono Harbuwono mengatakan, skrining melalui CKG menjadi salah satu upaya pemerintah mempercepat penemuan kasus TBC di masyarakat.

Baca Juga: Tiga Bulan, Terdeteksi 501 Pasien Positif TBC di Tuban, 9 Nyawa Sudah Melayang

Pemeriksaan dilakukan melalui berbagai fasilitas kesehatan dan lembaga pendidikan, mulai dari puskesmas hingga sekolah dan pesantren.

Temuan tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah menekan angka TBC di Indonesia.

Dante menyebut estimasi kasus TBC nasional menunjukkan tren penurunan dalam beberapa tahun terakhir.

Pada 2024, estimasi kasus TBC mencapai sekitar 1.092.000 kasus. Jumlah itu turun menjadi sekitar 1.090.000 kasus pada 2025 dan diperkirakan kembali berkurang menjadi 1.080.000 kasus pada 2026.

"Dalam waktu satu tahun, kita turunkan estimasi tuberkulosis yang diidentifikasi oleh WHO, jadi tadinya 1.090.000 menjadi 1.080.000," kata Dante.

Skrining TBC Diperluas, Estimasi Kasus Terus Menurun

Menurut Dante, penurunan estimasi kasus tersebut salah satunya didukung oleh pelaksanaan skrining yang semakin luas.

Pemerintah berupaya meningkatkan penemuan kasus sekaligus memperkuat langkah pencegahan dan pengobatan bagi masyarakat yang telah terdiagnosis TBC.

Selain memperluas pemeriksaan, Kementerian Kesehatan juga berupaya memangkas durasi pengobatan.

Sebelumnya, terapi TBC dapat berlangsung selama sembilan hingga 20 bulan, bergantung pada jenis dan kondisi penyakit pasien.

Sejak 2024, pengobatan TBC resistan obat (TB RO) dapat dilakukan dengan regimen BPaL/M yang memungkinkan durasi terapi menjadi sekitar enam bulan.

Kini, pemerintah juga mengembangkan regimen pengobatan baru bersama TB Alliance. Terapi tersebut diharapkan dapat memangkas waktu pengobatan hingga satu bulan.

"Ini tadinya 6 sampai 9 bulan, itu terlalu banyak obat. Sekarang satu bulan saja. Ini satu bulan kita sedang melakukan terapi yang agresif untuk masyarakat," jelas Dante.

Ribuan Desa Berkomitmen Cegah Penularan TBC

Di sisi pencegahan, pemerintah turut melibatkan desa dan kelurahan melalui program Siaga TBC.

Hingga kini, sebanyak 9.759 desa dan kelurahan di 154 kabupaten/kota yang tersebar di 29 provinsi telah menyatakan komitmen untuk melakukan pencegahan serta penanggulangan TBC secara mandiri.

"Kemudian monitoring bersama antara pemerintah pusat dan daerah setiap minggu. Kita melakukan setiap minggu evaluasi," pungkasnya. (*)

Editor : Shafa Dina Hayuning Mentari
CKG penemuan kasus TBC Tuberkulosis tbc skrining