RADARTUBAN— Daun ungu (Graptophyllum pictum) dikenal sebagai tanaman hias yang kerap tumbuh di pekarangan rumah.
Namun, tanaman berdaun keunguan ini juga telah lama digunakan dalam pengobatan tradisional, terutama untuk membantu mengatasi wasir atau ambeien.
Potensi manfaat daun ungu berkaitan dengan kandungan senyawa fitokimia, seperti flavonoid, tanin, alkaloid, dan saponin.
Sejumlah kajian ilmiah telah meneliti aktivitas antioksidan dan antiradang tanaman tersebut, termasuk potensinya dalam penanganan hemoroid.
Meski demikian, bukti ilmiah yang tersedia belum cukup untuk menyimpulkan bahwa olahan daun ungu dapat menyembuhkan berbagai penyakit pada manusia.
Dalam tayangan edukasi kesehatan di kanal Dokter Fery TV, dr. Fery Juliawan, M.Th., membahas kandungan dan pemanfaatan daun ungu dalam pengobatan tradisional.
Ia menyoroti potensi tanaman tersebut untuk membantu mengatasi sejumlah keluhan, terutama yang berkaitan dengan peradangan dan pencernaan.
Potensi Daun Ungu untuk Membantu Meredakan Wasir
Salah satu pemanfaatan daun ungu yang banyak dikenal masyarakat adalah sebagai herbal untuk membantu mengatasi wasir. Dalam penelitian, ekstrak daun ungu menunjukkan potensi aktivitas antihemoroid dan antiradang.
Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Ethnopharmacology pada 2022 menguji ekstrak etanol daun ungu pada tikus dengan kondisi hemoroid yang diinduksi menggunakan bahan tertentu.
Hasilnya menunjukkan perbaikan pada jaringan anorektal, terutama ketika ekstrak digunakan melalui kombinasi pemberian oral dan topikal. Namun, hasil penelitian pada hewan tidak bisa langsung disamakan dengan efektivitas pengobatan pada manusia.
Kajian lain yang diterbitkan dalam EJournal Kedokteran Indonesia pada 2025 juga membahas potensi ekstrak daun ungu sebagai terapi alternatif untuk hemoroid.
Temuan tersebut masih menjadi bagian dari pengembangan bukti ilmiah, bukan dasar untuk menyatakan daun ungu sebagai pengganti terapi medis yang telah terbukti.
Karena itu, orang yang mengalami wasir tetap perlu memperhatikan gejala dan berkonsultasi dengan tenaga medis, terutama jika mengalami perdarahan berulang, nyeri berat, atau keluhan yang tidak membaik.
Kandungan Flavonoid dan Tanin
Daun ungu mengandung sejumlah senyawa yang diteliti karena aktivitas biologisnya. Flavonoid, misalnya, dikenal memiliki aktivitas antioksidan dalam berbagai pengujian laboratorium.
Sementara itu, tanin dan senyawa fitokimia lainnya juga menjadi objek penelitian terkait potensi aktivitas farmakologis tanaman ini.
Baca Juga: Asam Urat Sembuh Setelah Minum Rebusan Daun, Benarkah atau Cuma Kebetulan?
Meski demikian, keberadaan senyawa aktif tidak otomatis membuktikan bahwa konsumsi rebusan daun ungu mampu memberikan efek klinis tertentu.
Manfaat dan risiko penggunaannya tetap perlu dinilai berdasarkan penelitian yang memadai pada manusia.
Daun ungu juga secara tradisional digunakan untuk membantu mengatasi sembelit, bisul, dan sejumlah keluhan kulit.
Akan tetapi, klaim bahwa tanaman ini dapat melancarkan pencernaan, meredakan rematik, mempercepat penyembuhan luka, atau meningkatkan daya tahan tubuh masih membutuhkan bukti klinis yang lebih kuat sebelum dapat dipastikan sebagai manfaat pengobatan.
Perhatikan Keamanan sebelum Mengonsumsi Herbal
Daun ungu kerap diolah menjadi rebusan untuk penggunaan tradisional. Namun, takaran tujuh hingga sepuluh lembar daun yang direbus dalam tiga gelas air hingga tersisa satu gelas, namun hal ini tidak dapat langsung dianggap sebagai dosis medis yang terbukti aman dan efektif.
Keamanan herbal dipengaruhi berbagai faktor, termasuk cara pengolahan, jumlah yang dikonsumsi, kondisi kesehatan, serta kemungkinan interaksi dengan obat yang sedang digunakan.
Sejumlah produk herbal juga belum memiliki bukti keamanan dan efektivitas yang memadai untuk semua kelompok pengguna.
Karena itu, masyarakat sebaiknya tidak mengonsumsi rebusan daun ungu secara rutin sebagai pengganti obat atau terapi dari dokter.
Konsultasi terlebih dahulu sangat dianjurkan bagi orang yang memiliki penyakit tertentu, sedang menggunakan obat, hamil, atau menyusui.
Pemanfaatan tanaman herbal dapat menjadi bagian dari pengetahuan pengobatan tradisional.
Namun, penggunaannya tetap perlu disertai sikap kritis dengan membedakan khasiat yang telah diteliti, manfaat yang masih berupa potensi, dan klaim yang belum terbukti secara klinis. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni