Jangan Asal Beri HP agar Anak Tenang, Dokter Ungkap Risiko Penurunan IQ hingga Speech Delay

Shafa Dina Hayuning Mentari • Dipublikasikan Senin, 5 Oktober 2026 | 13:10 WIB
dr. Ajeng sebut orang tua perlu batasi screen time anak dengan aktivitas fisik lain. (RADARTUBAN/ AI)
dr. Ajeng sebut orang tua perlu batasi screen time anak dengan aktivitas fisik lain. (RADARTUBAN/ AI)

RADARTUBAN - Kebiasaan memberikan gawai kepada anak agar tenang atau mau makan ternyata bisa berdampak pada tumbuh kembang.

Pola pengasuhan yang kerap disebut electronic babysitting ini dinilai berisiko jika dilakukan tanpa batasan waktu dan pengawasan orang tua.

Dalam kanal youtube Kata Dokter, dr. Ajeng Indriastari, Sp.A, mengingatkan penggunaan gawai secara berlebihan dapat memengaruhi kesehatan fisik sekaligus perkembangan otak anak.

Karena itu, orang tua perlu membatasi durasi anak menatap layar sejak usia dini.

Baca Juga: Tips Bijak Atur Screen Time: Jadwal Teratur, Teknik Pomodoro, hingga Aktivitas Offline untuk Menjaga Kesehatan Mata

Screen Time Memengaruhi Kondisi Otak Anak

Menurut dr. Ajeng, penelitian neurosains menunjukkan adanya kaitan antara durasi penggunaan layar dan kondisi otak anak.

Anak usia 5 hingga 12 tahun yang menghabiskan rata-rata dua jam sehari untuk menonton televisi atau bermain gawai disebut mengalami penumpukan substansi kelabu di bagian depan otak.

“Berdasarkan penelitian neurosains, anak usia 5 hingga 12 tahun yang menonton televisi atau bermain gawai rata-rata dua jam sehari mengalami penumpukan substansi kelabu di otak bagian depan. Hal ini justru membuat tingkat IQ anak menjadi lebih rendah,” ujarnya.

Selain perkembangan otak, penggunaan gawai dalam durasi panjang juga menjadi perhatian terhadap kesehatan mata.

Paparan blue light dari layar dapat berpengaruh terhadap mata anak.

Gangguan refraksi seperti mata minus atau miopi, mata silinder, hingga mata juling (strabismus) disebut semakin banyak ditemukan pada anak usia balita dan taman kanak-kanak.

Gawai Berlebihan Bisa Pengaruhi Kemampuan Bicara Anak

Dampak penggunaan gawai juga dapat terlihat dalam perkembangan kemampuan komunikasi anak.

Salah satu persoalan yang sering ditemukan dalam konsultasi medis adalah keterlambatan bicara atau speech delay.

dr. Ajeng menyebut, setiap tambahan satu jam screen time dapat berkaitan dengan berkurangnya perbendaharaan kata anak hingga 500–1.000 kata.

Kondisi tersebut menjadi perhatian, terutama ketika anak lebih banyak berinteraksi dengan layar dibandingkan berkomunikasi secara langsung dengan orang di sekitarnya.

“Anak yang terlalu dini dikenalkan gawai cenderung menjadi apatis dan gampang emosional. Ketika gawai ditarik, tak jarang anak mengalami tantrum hebat karena sudah berada pada tahap kecanduan,” jelasnya.

Penggunaan gawai berlebihan juga dapat membuat anak semakin jarang melakukan aktivitas fisik.

Padahal, anak membutuhkan aktivitas gerak untuk membantu perkembangan kemampuan sensorik dan motorik. WHO merekomendasikan anak aktif bergerak sedikitnya 60 menit setiap hari.

Orang Tua Diminta Tegas Membatasi Screen Time

Untuk mengurangi risiko tersebut, orang tua perlu menerapkan aturan penggunaan gawai sesuai usia anak.

dr. Ajeng mengimbau orang tua mengikuti panduan American Academy of Pediatrics (AAP) mengenai batas waktu penggunaan layar.

Anak di bawah usia 2 tahun dianjurkan tidak mendapatkan paparan layar atau zero screen time.

Sementara anak usia 2–5 tahun maksimal menggunakan layar selama satu jam sehari dengan konten edukatif dan tetap didampingi orang tua.

Untuk kelompok usia 5–12 tahun, durasi penggunaan layar dibatasi sekitar satu hingga 1,5 jam per hari, terutama untuk tontonan yang memberikan wawasan dan edukasi.

Adapun anak berusia di atas 13 tahun dianjurkan maksimal menggunakan layar selama dua jam sehari serta terhindar dari konten kekerasan dan pornografi.

Dia juga meminta orang tua, khususnya generasi milenial, konsisten menerapkan aturan tersebut.

Orang tua dinilai perlu memberikan contoh dengan mengurangi ketergantungan pada gawai dan memperbanyak interaksi langsung bersama anak.

“Waktu dan perhatian orang tua adalah hal paling berharga untuk tumbuh kembang anak. Alih-alih memberikan HP, ajak anak bermain puzzle, membacakan dongeng, bermain board game, atau mengeksplorasi lingkungan luar agar motorik dan emosinya berkembang optimal,” pungkasnya. (*)

Editor : Shafa Dina Hayuning Mentari
kecanduan Screen Time gawai tumbuh kembang anak