Hasil Lab Kolesterol Tinggi? Jangan Panik, Ini yang Perlu Diperhatikan Sebelum Minum Obat

Nadiyatul Ul Ya • Dipublikasikan Selasa, 6 Oktober 2026 | 07:00 WIB
Hasil Lab Kolesterol Tinggi Jangan Panik, Ini yang Perlu Diperhatikan Sebelum Minum Obat. (pinterest)
Hasil Lab Kolesterol Tinggi Jangan Panik, Ini yang Perlu Diperhatikan Sebelum Minum Obat. (pinterest)

RADARTUBAN - Hasil pemeriksaan laboratorium yang menunjukkan kadar kolesterol tinggi kerap membuat seseorang khawatir akan risiko penyakit jantung dan stroke.

Tak sedikit pula yang kemudian berpikir untuk langsung mengonsumsi obat penurun kolesterol seperti statin.

Namun, menurut penjelasan dr. Ema Surya Pertiwi melalui kanal YouTube pribadinya, angka kolesterol dalam hasil laboratorium perlu dilihat bersama kondisi tubuh secara keseluruhan.

Baca Juga: Dokter Danil Ungkap Kebiasaan yang Perlu Dijaga untuk Lindungi Jantung Sejak Usia Muda

Kadar kolesterol yang tinggi tidak bisa menjadi satu-satunya dasar untuk menentukan apakah seseorang membutuhkan obat.

Dia menjelaskan, kolesterol sebenarnya memiliki fungsi penting bagi tubuh. Salah satunya adalah membantu pembentukan hormon steroid, vitamin D, serta membran sel.

LDL atau low-density lipoprotein yang selama ini kerap disebut sebagai “kolesterol jahat” juga memiliki fungsi dalam membawa kolesterol ke berbagai jaringan tubuh.

“Saat melihat hasil lab dengan angka kolesterol yang tinggi kita sering takut kan khawatir kena stroke serangan jantung, padahal angka kolesterol tinggi itu tidak selalu berarti tubuh dalam kondisi berbahaya, nih, teman-teman,” ujar dr. Ema

Meski demikian, bukan berarti kadar LDL yang tinggi dapat diabaikan.

dr. Ema menyebut, risiko dapat meningkat ketika jumlah partikel LDL tinggi dan terdapat kondisi yang mendukung terjadinya kerusakan pembuluh darah.

LDL Tinggi Perlu Dilihat Bersama Kondisi Tubuh

Menurutnya, kondisi dinding pembuluh darah atau endotel menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan.

Peradangan dan berbagai gangguan metabolik dapat memengaruhi proses yang membuat partikel LDL berkontribusi terhadap pembentukan plak di pembuluh darah.

Beberapa faktor yang dibahas antara lain pola makan yang kurang baik, resistensi insulin, kebiasaan merokok, serta stres oksidatif.

Ketika LDL terlibat dalam proses pembentukan plak, kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko terjadinya penyakit kardiovaskular.

Profil metabolik secara keseluruhan juga penting untuk diperhatikan.

Kondisi seperti kadar trigliserida, gula darah, tekanan darah, berat badan, riwayat keluarga, hingga faktor risiko penyakit jantung dapat menjadi bagian dari pertimbangan.

Statin Efektif, tetapi Penggunaannya Perlu Indikasi

Statin merupakan kelompok obat yang digunakan untuk menurunkan kadar LDL dan telah banyak digunakan dalam penanganan serta pencegahan penyakit kardiovaskular.

Dalam penjelasannya, dr. Emas mengingatkan bahwa penggunaan statin tetap perlu disesuaikan dengan kondisi dan risiko masing-masing pasien.

Kelompok dengan risiko kardiovaskular tinggi, termasuk orang yang memiliki riwayat penyakit jantung atau stroke, dapat memiliki pertimbangan terapi yang berbeda dibandingkan individu dengan risiko lebih rendah.

Karena itu, keputusan mengonsumsi statin sebaiknya dilakukan melalui konsultasi dengan tenaga medis, bukan semata-mata berdasarkan satu hasil pemeriksaan kolesterol.

“Jadi, sebelum teman-teman melihat hasil kolesterol tinggi dan langsung memutuskan minum statin, sebaiknya teman-teman mengevaluasi ulang kondisi tubuh secara menyeluruh, nih,” pesan dr. Ema.

Dengan demikian, hasil laboratorium yang menunjukkan kolesterol tinggi sebaiknya menjadi alasan untuk mengevaluasi kondisi kesehatan secara lebih menyeluruh, bukan menjadi dasar untuk langsung mengonsumsi obat tanpa penilaian medis. (*)

Editor : Shafa Dina Hayuning Mentari
statin kolesterol kardiovaskular stroke ldl