Ingin Bebas Kacamata dengan Lasik? dr. Amir Ingatkan Pentingnya Screening Kondisi Mata

Salsa Mardhotun Nafisah • Dipublikasikan Selasa, 6 Oktober 2026 | 17:50 WIB
Ilustrasi seorang dokter tengah memberikan penanganan kepada pasien. (RADARTUBAN/AI)
Ilustrasi seorang dokter tengah memberikan penanganan kepada pasien. (RADARTUBAN/AI)

RADARTUBAN – Operasi lasik menjadi pilihan bagi sebagian orang yang ingin mengurangi ketergantungan terhadap kacamata.

Namun, prosedur tersebut tidak dapat dilakukan pada semua orang karena kondisi mata setiap pasien berbeda dan perlu dipastikan melalui pemeriksaan sebelum operasi.

Hal tersebut disampaikan dr. Amir dalam kanal Raditya Dika. Dalam perbincangan tersebut, dr. Amir dan Juju membahas pengalaman menjalani lasik sekaligus berbagai kondisi yang perlu diperhatikan sebelum seseorang memutuskan melakukan prosedur untuk mengurangi mata minus.

Menurut dr. Amir, lasik bekerja dengan mengubah bentuk kornea menggunakan laser. Karena sebagian jaringan kornea akan ditipiskan dalam proses tersebut, dokter perlu memastikan ketebalan dan kondisi kornea pasien masih berada dalam batas yang aman.

Baca Juga: Mata Air Krawak Tuban Ditutup Atas Perintah ADM Perhutani yang Baru: Wisatawan Dianggap Ilegal

“Kalau korneanya lebih tipis dari average people, jadi emang dari awal korneamu terlalu tipis nih buat di-Lasik, enggak bisa,” jelas dr. Amir.

Selain ketebalan kornea, pemeriksaan juga mencakup usia dan stabilitas refraksi untuk memastikan ukuran minus pasien tidak terus mengalami perubahan.

Dokter juga perlu memeriksa bentuk dan kondisi kornea guna mengetahui ada atau tidaknya kelainan yang dapat meningkatkan risiko setelah prosedur.

Menurut dr. Amir, lasik memang dapat membantu pasien mendapatkan penglihatan yang lebih jelas. Namun, hasil tersebut tidak berarti semua orang otomatis cocok menjalani operasi. Jika kondisi kornea tidak memenuhi syarat, prosedur justru dapat meningkatkan risiko gangguan pada kesehatan mata.

Salah satu kondisi yang perlu diwaspadai adalah ektasia kornea atau keratokonus.

Kondisi tersebut terjadi ketika kornea mengalami penipisan dan perubahan bentuk secara progresif sehingga dapat mengganggu kualitas penglihatan.

“Makanya screening ketat dan dokter yang tepat juga,” tegas dr. Amir.

Dalam podcast tersebut, Juju turut membagikan pengalaman setelah menjalani lasik. Penglihatan yang lebih jelas membuat sejumlah aktivitas, seperti menyetir, berolahraga, membaca, dan bepergian, terasa lebih nyaman tanpa kacamata.

Meski memberikan manfaat, dr. Amir menekankan bahwa keputusan menjalani lasik tetap perlu didasarkan pada hasil pemeriksaan. Pasien perlu mengetahui kondisi mata secara menyeluruh agar dokter dapat menentukan apakah prosedur tersebut aman dilakukan.

Karena itu, keinginan untuk terbebas dari kacamata tidak cukup menjadi alasan untuk langsung menjalani lasik.

Screening yang menyeluruh dan dilakukan oleh dokter yang tepat menjadi langkah penting untuk memastikan pasien benar-benar memenuhi syarat sekaligus mengurangi risiko gangguan penglihatan setelah operasi. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
operasi lasik mata kacamata