RADARTUBAN - Menjaga kesehatan tubuh tidak cukup hanya dengan rutin berolahraga. Pola makan yang seimbang juga perlu menjadi perhatian karena berperan dalam memenuhi kebutuhan nutrisi dan membantu mengurangi risiko penyakit metabolik.
Hal tersebut disampaikan dokter sekaligus pengusaha dr. Tirta Mandira Hudhi dalam perbincangan di kanal YouTube Rintik Obrolan.
Dia menekankan bahwa kebiasaan makan sehari-hari perlu dibenahi sebagai bagian dari upaya menjaga kesehatan sebelum seseorang berfokus pada rutinitas olahraga.
Baca Juga: Olahraga Terlalu Berlebihan Justru Bisa Jadi Bumerang, Waspadai Dampaknya bagi Kesehatan Mental
Menurut dr. Tirta, penyakit metabolik dapat dialami oleh orang dari berbagai latar belakang ekonomi.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kemampuan finansial bukan satu-satunya faktor yang menentukan kesehatan. Kebiasaan mengonsumsi makanan dan kecukupan nutrisi juga berperan dalam menjaga kondisi tubuh.
“Nomor satu itu pola makan,” ungkap dr. Tirta dalam video tersebut.
Pola makan yang baik, lanjutnya, perlu memperhatikan keseimbangan asupan dan kebutuhan tubuh. Karbohidrat, protein, vitamin, serta mineral memiliki fungsi masing-masing untuk mendukung aktivitas dan menjaga fungsi tubuh.
Protein, misalnya, dibutuhkan untuk membentuk dan memperbaiki jaringan tubuh. Sementara itu, karbohidrat menjadi salah satu sumber energi untuk menjalankan aktivitas sehari-hari.
Karena itu, mengatur pola makan bukan berarti menghindari kelompok makanan tertentu secara sembarangan, melainkan memastikan kebutuhan nutrisi tetap terpenuhi.
Pola Makan Seimbang Perlu Diimbangi Olahraga
Selain memperhatikan asupan makanan, aktivitas fisik tetap menjadi bagian penting dalam menjaga kebugaran. Jenis olahraga dapat disesuaikan dengan kondisi dan tujuan masing-masing individu.
Latihan kardio, seperti berjalan cepat, bersepeda, atau berenang, dapat membantu meningkatkan kebugaran jantung dan paru-paru.
Sementara itu, latihan beban berguna untuk melatih kekuatan otot dan menjaga fungsi tubuh.
Namun, aktivitas fisik perlu berjalan beriringan dengan kebiasaan makan yang sesuai.
Olahraga secara rutin tidak serta-merta meniadakan dampak dari pola makan yang kurang seimbang. Karena itu, keduanya perlu diperhatikan sebagai bagian dari gaya hidup sehat.
“Lihat ya, pola makan dulu baru lakuin olahraga,” lanjutnya.
Pernyataan tersebut menegaskan pentingnya memperhatikan asupan harian, bukan berarti olahraga dapat dikesampingkan.
Pola makan dan aktivitas fisik memiliki peran yang saling melengkapi dalam menjaga kesehatan.
Batasi Gula, Garam, dan Makanan Ultra-Proses
dr. Tirta juga mengingatkan masyarakat untuk memperhatikan konsumsi gula dan garam agar tidak berlebihan.
Kebiasaan mengonsumsi makanan ultra-proses secara berlebihan juga perlu dibatasi karena dapat membuat pola makan menjadi kurang seimbang.
Di samping itu, kebutuhan cairan tubuh perlu dipenuhi sesuai aktivitas dan kondisi masing-masing orang. Asupan air yang cukup membantu tubuh menjalankan berbagai fungsi fisiologis.
Pengaturan pola makan pun tidak bisa disamaratakan. Kebutuhan energi dan nutrisi seseorang dipengaruhi oleh tingkat aktivitas, kondisi tubuh, serta kebutuhan khusus yang mungkin dimiliki.
Oleh sebab itu, mengikuti tren diet tanpa memahami kebutuhan diri berpotensi membuat asupan nutrisi tidak sesuai.
Membangun kebiasaan sehat dapat dimulai dengan memilih makanan yang beragam, memperhatikan porsi, membatasi konsumsi gula dan garam, serta melakukan aktivitas fisik secara konsisten.
Jika memiliki kondisi kesehatan tertentu, penyesuaian pola makan sebaiknya dilakukan dengan berkonsultasi kepada tenaga kesehatan.
Dengan demikian, menjaga kesehatan bukan sekadar mengejar intensitas olahraga atau mengikuti pola diet yang sedang populer.
Keseimbangan antara asupan nutrisi, aktivitas fisik, dan kebiasaan sehari-hari menjadi bagian penting untuk mendukung kesehatan dalam jangka panjang. (*)
Editor : Shafa Dina Hayuning Mentari