RADARTUBAN – Diabetes melitus tidak hanya berkaitan dengan kebiasaan mengonsumsi makanan dan minuman manis. Faktor genetik, pola makan sehari-hari, aktivitas fisik, serta kondisi metabolisme tubuh juga berperan dalam meningkatkan risiko penyakit tersebut.
Praktisi kesehatan dr. Tirta Mandira Hudhi membahas sejumlah mitos dan fakta mengenai diabetes dalam video podcast di kanal YouTube Tirta PengPengPeng.
Pembahasan ini menjadi pengingat bahwa seseorang tidak bisa mengukur risiko diabetes hanya berdasarkan seberapa sering dirinya mengonsumsi gula.
Baca Juga: Jebakan Manis Industri Pangan, Makanan Murah dan Gaya Hidup Modern Picu Ancaman Diabetes
Riwayat keluarga, berat badan, pola hidup, dan faktor kesehatan lainnya juga perlu diperhatikan.
Diabetes terjadi ketika tubuh tidak mampu memproduksi insulin dalam jumlah yang cukup atau menggunakan insulin secara efektif sehingga kadar glukosa dalam darah meningkat.
Jika tidak dikendalikan, kondisi tersebut dapat menimbulkan berbagai komplikasi serius.
Genetik dan Gaya Hidup Perlu Diwaspadai
Riwayat diabetes dalam keluarga menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan.
Seseorang dengan anggota keluarga yang mengalami diabetes memiliki risiko lebih tinggi, meskipun hal itu tidak berarti dirinya pasti akan mengalami penyakit serupa.
Risiko tersebut dapat dipengaruhi oleh berbagai kebiasaan yang berlangsung dalam jangka panjang.
Pola makan yang kurang seimbang, minimnya aktivitas fisik, serta konsumsi minuman tinggi gula secara berlebihan dapat meningkatkan risiko gangguan metabolisme.
Kebiasaan duduk terlalu lama saat bekerja di depan layar juga perlu diimbangi dengan aktivitas fisik yang cukup.
Begitu pula dengan konsumsi kopi susu gula aren dan minuman manis dalam kemasan. Jika dikonsumsi berlebihan secara rutin, minuman tersebut dapat menambah asupan gula dan kalori harian tanpa disadari.
Karena itu, membatasi gula tetap penting, tetapi bukan satu-satunya langkah pencegahan.
Menjaga pola makan seimbang, rutin bergerak, mempertahankan berat badan yang sehat, serta melakukan pemeriksaan gula darah sesuai faktor risiko dapat membantu menjaga kesehatan metabolik.
Orang yang memiliki faktor risiko juga sebaiknya tidak hanya mengandalkan pemeriksaan gula darah puasa.
Dokter dapat menyarankan pemeriksaan lain, seperti HbA1c, untuk menilai rata-rata kadar gula darah dalam beberapa bulan terakhir.
Gula Darah Tinggi Bisa Memicu Kerusakan Ginjal
Salah satu komplikasi diabetes yang perlu diwaspadai adalah penyakit ginjal kronis.
Kadar gula darah yang tinggi dalam jangka panjang dapat merusak pembuluh darah kecil di ginjal sehingga kemampuan organ tersebut menyaring limbah dari darah menurun.
Jika kerusakan berkembang, fungsi ginjal dapat terus memburuk. Pada tahap lanjut, sebagian pasien mungkin membutuhkan terapi pengganti ginjal, termasuk cuci darah.
Namun, komplikasi ini tidak terjadi pada semua penderita diabetes dan risikonya dapat ditekan melalui pengendalian gula darah, tekanan darah, serta pemantauan fungsi ginjal secara berkala.
Selain mengatur asupan gula, aktivitas fisik juga menjadi bagian penting dari upaya menjaga kesehatan.
Olahraga yang dilakukan secara konsisten dapat membantu tubuh menggunakan glukosa dan meningkatkan sensitivitas insulin. Jenis serta intensitas latihan perlu disesuaikan dengan kondisi dan kemampuan masing-masing individu.
Pencegahan diabetes bukan berarti seseorang harus menghindari seluruh makanan manis atau mengganti pola makan secara ekstrem.
Langkah yang lebih berkelanjutan adalah mengatur porsi, membatasi minuman berpemanis, memperbanyak makanan bergizi seimbang, dan mengurangi kebiasaan duduk terlalu lama.
Memahami faktor risiko sejak dini dapat membantu seseorang mengambil langkah pencegahan yang tepat.
Dengan begitu, perhatian terhadap diabetes tidak berhenti pada konsumsi gula, tetapi juga mencakup kebiasaan sehari-hari dan pemeriksaan kesehatan yang diperlukan. (*)
Editor : Shafa Dina Hayuning Mentari