Cleansing, Moisturizer, Sunscreen: 3 Pilar Skincare yang Tak Boleh Dilewatkan

Shafa Dina Hayuning Mentari • Dipublikasikan Selasa, 20 Oktober 2026 | 14:32 WIB
Ilustrasi penggunaan basic skincare. (unsplash.com/ look studio)
Ilustrasi penggunaan basic skincare. (unsplash.com/ look studio)

RADARTUBAN – Penggunaan produk perawatan kulit secara berlebihan tidak selalu membuat wajah lebih sehat.

Sebaliknya, pemakaian terlalu banyak bahan aktif tanpa memahami kebutuhan kulit dapat meningkatkan risiko iritasi dan mengganggu fungsi skin barrier atau lapisan pelindung kulit.

Dokter spesialis dermatologi, venereologi, dan estetika, dr. Stanley Setiawan, Sp.D.V.E., menjelaskan pentingnya merawat kulit secara tepat dan konsisten. 

Baca Juga: Kulit Tetap Bermasalah Meski Rajin Skincare? Dokter Ungkap 5 Kebiasaan Pagi yang Sering Diabaikan

Dalam tayangan podcast kanal YouTube Rory Asyari bertajuk Dokter Kulit Bongkar Kesalahan Skincare & Jelasin Cara Merawat Wajah yang Benar, dia mengingatkan masyarakat agar tidak memilih produk hanya karena tren atau menjanjikan hasil instan.

Kulit Memerlukan Perawatan Rutin

Menurut dr. Stanley, kulit merupakan organ hidup yang membutuhkan perawatan rutin.

Karena itu, penggunaan skincare bukan berarti seseorang mengalami ketergantungan, melainkan bagian dari upaya menjaga kesehatan kulit.

“Kulit itu kan sebenarnya organ hidup ya, sama seperti rambut atau gigi yang memerlukan perawatan secara teratur dan berkala," tutur dr. Stanley

"Saya tidak setuju dengan istilah ketergantungan skincare, karena organ hidup memang harus terus dijaga dan diberi nutrisi. Kuncinya bukan banyaknya produk, tetapi konsistensi pada komponen dasar yang tepat,” lanjutnya.

Dia menekankan, perawatan kulit tidak harus dilakukan dengan menumpuk banyak produk sekaligus.

Pemilihan produk sebaiknya disesuaikan dengan kebutuhan kulit, sementara konsistensi dalam menjalankan perawatan dasar menjadi hal yang tidak kalah penting.

Tiga Pilar Basic Skincare yang Perlu Diperhatikan

dr. Stanley menjelaskan bahwa perawatan kulit sehari-hari dapat dimulai dengan tiga langkah dasar, yakni membersihkan wajah, menggunakan pelembap, dan melindungi kulit dari paparan sinar matahari.

Pertama, cleansing atau membersihkan wajah. Masyarakat disarankan menggunakan pembersih yang lembut dan sesuai dengan kondisi kulit.

Penggunaan sabun mandi untuk wajah sebaiknya dihindari apabila formulanya terlalu keras atau membuat kulit terasa kering dan tertarik setelah dibersihkan.

Kedua, moisturizer atau pelembap. Produk ini membantu menjaga kadar air pada kulit dan mendukung fungsi skin barrier agar tetap bekerja dengan baik.

Lapisan pelindung tersebut berperan mengurangi kehilangan air serta melindungi kulit dari berbagai faktor lingkungan.

Ketiga, sunscreen atau tabir surya. Penggunaannya membantu melindungi kulit dari radiasi ultraviolet yang dapat menyebabkan kerusakan kulit, penuaan dini, hingga meningkatkan risiko kanker kulit.

Saat beraktivitas di luar ruangan, tabir surya perlu digunakan kembali sesuai petunjuk produk, terutama setelah berkeringat atau terkena air.

Selain tiga langkah tersebut, masyarakat juga perlu berhati-hati terhadap produk yang menjanjikan perubahan warna kulit secara drastis dalam waktu singkat.

dr. Stanley mengingatkan bahwa hasil instan bukan jaminan keamanan suatu produk.

Waspada Krim Pemutih Instan dan Kebiasaan Buruk

Stanley menyoroti klaim krim pemutih yang menjanjikan hasil hanya dalam hitungan hari.

Produk dengan klaim semacam itu perlu diperiksa secara cermat, terutama terkait komposisi, izin edar, dan keamanan bahan yang digunakan.

“Mitos skincare paling toksik yang masih dipercaya itu krim yang menjanjikan dalam waktu kurang dari seminggu langsung putih. Itu justru sangat berbahaya karena berisiko mengandung merkuri atau zat kimia berdosis tinggi. Jangan sampai tergiur hasil cepat tapi merusak sistemik badan,” ingat dr. Stanley.

Merkuri merupakan bahan berbahaya yang dapat menimbulkan dampak kesehatan apabila digunakan dalam produk kosmetik.

Karena itu, konsumen sebaiknya tidak mudah percaya pada klaim perubahan warna kulit yang terlalu cepat dan memastikan produk memiliki izin edar yang sesuai.

Selain pemilihan produk, gaya hidup juga berpengaruh terhadap kesehatan kulit.

dr. Stanley menyoroti kebiasaan merokok karena zat dalam asap rokok dapat mengganggu sirkulasi darah dan mempercepat kerusakan kolagen serta elastin, dua komponen yang membantu menjaga struktur dan elastisitas kulit.

Dia juga mengingatkan masyarakat agar lebih cermat membaca label produk.

Istilah non-comedogenic menunjukkan bahwa produk dirancang untuk mengurangi kemungkinan menyumbat pori-pori.

Sedangkan hypoallergenic menandakan produk diformulasikan untuk menurunkan potensi reaksi alergi, bukan menjamin bahwa reaksi tersebut mustahil terjadi.

Sehingga, perawatan kulit yang sehat tidak ditentukan oleh banyaknya produk yang digunakan.

Konsistensi menjalankan perawatan dasar, memilih produk sesuai kebutuhan, melindungi kulit dari sinar matahari, dan menghindari kebiasaan yang merugikan kesehatan menjadi langkah penting untuk menjaga kondisi kulit dalam jangka panjang. (*)

Editor : Shafa Dina Hayuning Mentari
kulit perawatan skincare wajah