KENDATI sudah menerapkan sistem zonasi dan tidak ada lagi status sekolah bertaraf internasional (SBI), label sekolah favorit tetap melekat pada SMPN 1 Tuban dan SMPN 3 Tuban.
Dan, satu di antara peluang untuk bisa masuk di SMPN 1 Tuban dan SMPN 2 Tuban adalah jalur prestasi.
Bagi sebagian orang tua, adalah kebanggaan bisa masuk di dua sekolah favorit tersebut. Syukur-syukur di SMPN 1 Tuban.
Tak heran, setiap PPDB digelar, jumlah pendaftar jalur prestasi akademik dan nonakademik di dua sekolah tersebut selalu membeludak. Seperti halnya tahun ini.
Namun, ada yang menarik dari PPDB tahun ini. Jika sebelumnya SMPN 1 Tuban paling banyak diminati, tahun ini seakan bergeser ke SMPN 3 Tuban.
Setidaknya, itu tampak dari jumlah pendaftar jalur prestasi. Secara angka, jumlah pendaftar jalur prestasi di SMPN 3 Tuban jauh lebih banyak dibanding SMPN 1 Tuban: 90 siswa banding 70 siswa.
Apakah hal ini menandaskan bahwa kualitas SMPN 3 Tuban lebih baik dibanding SMPN 1 Tuban? Jawabannya, hanya orang tua/wali murid yang tahu.
Hanya saja, pagu jalur prestasi di SMPN 3 Tuban lebih banyak dibanding SMPN 1 Tuban. Yakni, 51 kursi berbanding 38 kursi. Artinya, peluang untuk diterima memang lebih besar di SMPN 3 Tuban daripada SMPN 1 Tuban.
Lepas dari spekulasi di atas, yang jelas, pendaftar jalur prestasi di SMPN 3 Tuban jauh lebih banyak ketimbang di SMPN 1 Tuban.
Diduga Kembali Ada Manipulasi Data
Dulu (entah sekarang), sekolah unggulan atau favorit seakan menjadi tolok ukur status sosial orang tua.
Orang tua akan begitu bangga jika anknya bisa masuk di sekolah favorit, khususnya di SMPN 1 Tuban.
Dan, mungkin sebab itulah, beberapa orang tua yang ingin mengejar “status sosial” berani memalsu data anaknya demi bisa masuk ke sekolah yang dianggap unggulan tersebut.
Dan, tahun ini diduga kembali terulang. Beberapa berkas calon peserta didik baru dari jalur prestasi dan afirmasi yang mendaftar di SMPN 1 Tuban ditolak, karena diduga dimanipulasi.
Di antara berkas jalur prestasi yang ditolak itu seperti, menyertakan piagam kejuaraan, tapi tidak ada nomor registrasinya, sehingga tidak bisa dipertanggungjawabkan keabsahannya.
Sedangkan jalur afirmasi, ada calon peserta didik dari keluarga tidak mampu menggunakan kartu program bantuan sosial (PKH), padahal tergolong dari keluarga mampu.
Jika dugaan kecurangan dalam memalsukan berkas pendaftaran itu benar, sungguh hal ini sangat disayangkan. Begitu gelap mata si orang tua hingga berani memalsukan dokumen anaknya demi bisa masuk di SMPN 1 Tuban.
Ini sama halnya membekali anak dengan mental culas. Saya tidak membayangkan, jika kelak si anak tahu—diterimanya dia di SMPN 1 karena kecurangan orang tua, hampir pasti mentalnya terganggu dan menjadi beban seumur hidupnya.
Kalau pun kelak dikasih sukses oleh Tuhan, saya yakin tidak akan ada kebanggaan dan kepuasaan dalam batinnya. Kasihan. (*)
Editor : Muhammad Azlan Syah