Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

MPLS: Momentum Menjauhkan Siswa dari Perpeloncoan dan Perundungan

radar tuban digital • Sabtu, 20 Juli 2024 | 19:00 WIB
Pembukaan MPLS SMKN 1 Tuban yang mengusung tema Mendukung Anti Perundungan di Jawa Timur.
Pembukaan MPLS SMKN 1 Tuban yang mengusung tema Mendukung Anti Perundungan di Jawa Timur.

MASA Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) adalah momen penting bagi siswa baru untuk beradaptasi dengan lingku­ngan belajar yang baru.

Agar MPLS dapat menjadi pengalaman menyenangkan, harus digaungkan gerakan anti perun­dungan.

Sehingga dapat menciptakan suasana belajar yang nyaman untuk pendidikan masa depan.

Photo
Photo
MPLS harus menjadi momentum men­jauhkan siswa dari perpeloncoan atau perundungan. Dulu, saat masih bernama masa orientasi siswa (MOS), penge­nalan siswa di lingku­ngan belajar baru selalu kental dengan praktik senioritas.

Kakak kelas selalu me­ngajarkan keke­rasan dengan dalih untuk melatih mental. Sekarang, sudah bukan lagi zamannya seperti itu.

MPLS dapat diisi dengan berbagai aktivitas yang edukatif, interaktif, dan kreatif. Seperti pengenalan tempat belajar melalui permainan kelompok, workshop keterampilan, dan seminar.

Kegiatan-kegiatan ini membantu siswa untuk saling mengenal dengan cara yang menye­nangkan dan membangun kerja sama tim.

Pendamping atau panitia MPLS sebaik­nya mengadopsi pendekatan yang ramah dan terbuka. Mereka bisa memulai de­ngan sesi perkenalan yang santai dan me­nyenangkan. Serta selalu siap mem­bantu dan menjawab pertanyaan siswa baru.

Opsi lain agar acara MPLS menarik yakni dengan mengundang alumni atau tokoh inspiratif. Mereka bisa mengisi sesi motivasi hingga memberikan semangat bagi siswa baru.

Cerita-cerita sukses dari alumni bisa mem­berikan gambaran nyata tentang masa depan yang bisa dicapai dengan pendidikan yang baik.

Penting untuk memasukkan kampanye anti-perundungan dalam agenda MPLS. Ini bisa dilakukan melalui pertunjukan drama, video edukatif, atau diskusi kelompok tentang pentingnya saling menghormati dan dampak negatif dari perundungan.

Selain itu, tur sekolah yang dikemas secara menarik, seperti petualangan mini bisa membantu siswa mengenal lingkungan sekolah tanpa merasa bosan. Ini juga membantu mereka merasa lebih nyaman dan familiar dengan fasilitas sekolah.

Selanjutnya, bisa melalui pengadaan workshop pengembangan diri, seperti manajemen waktu, teknik belajar efektif, dan pengenalan minat dan bakat.

Sehingga dapat memberikan bekal bagi siswa untuk sukses di tahun pelajaran baru.

Kegiatan seperti bakti sosial atau k­egiatan kebersamaan lainnya juga bisa menjadi alternatif program.

Sehingga dapat me­numbuhkan rasa empati dan solidaritas antar siswa. Ini juga membantu mencip­takan lingkungan sekolah yang lebih inklusif dan ramah.

Setelah MPLS selesai, penting untuk me­ngumpulkan umpan balik dari siswa tentang pengalaman mereka.

Hal ini bisa digunakan untuk memperbaiki program di masa depan dan memastikan bahwa MPLS terus menjadi pengalaman yang positif bagi semua siswa.

MPLS memang seharusnya menjadi momentum untuk menjauhkan dari kebiasaan perpeloncoan yang sering kali membawa dampak negatif bagi siswa baru.

Mengubah paradigma ini memerlukan komitmen dari semua pihak di sekolah, baik itu guru, siswa senior, maupun pihak lain.

Tak kalah penting, sekolah harus memiliki kebijakan yang tegas terhadap perpe­lon­coan. Sanksi yang jelas dan tegas harus diberlakukan bagi siapa saja yang terbukti melakukan tindakan perpeloncoan.

Hal ini akan memberikan efek jera dan menun­jukkan komitmen sekolah terhadap lingkungan yang aman dan positif.

Dengan pendekatan yang kreatif dan penuh perhatian, MPLS bisa menjadi pengalaman yang menyenangkan, menginspirasi, dan anti-perundungan.

Pada akhirnya akan mem­­berikan semangat bagi siswa baru untuk meraih masa depan yang cerah. (*)

Editor : Ahmad Atho’illah
#Tuban #pengalaman #siswa #mpls #sekolah