Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Opini - Saya Nahdliyin, tapi Bukan ”NU-nya PBNU dan PKB”

radar tuban digital • Minggu, 8 September 2024 | 02:05 WIB

Ilustrasi
Ilustrasi

Saya tidak memiliki cukup literatur untuk mendedah konflik antara PBNU dan PKB. Karena itu, saya tidak akan masuk ke ruang yang tidak sepenuhnya saya pahami. Terlebih, “agenda” seteru antara jajaran struktural PBNU dan PKB ini tampak welo-welo sangat politis. Dan kami—warga nahdliyin di bawah merasa jengah.

UNGKAPAN kejengahan itu disampaikan oleh seorang kawan karib. Nahdliyin muda dari ujung barat kota Tuban.

Jauh dari hiruk-pikuk per­kotaan. Namun, soal wa­wasan dan pengetahuan­nya tentang laju perkembangan zaman tidak perlu diragukan. Termasuk perseteruan
antara PBNU dan PKB.

Photo
Photo
Meski tinggal di pelosok de­sa, dan hanya sebagai petani dengan lahan tidak seberapa, kawan karib saya ini mampu memanfaatkan teknologi dengan sangat baik.

Rumahnya dijejali dengan rak-rak buku. Di teras—di atas meja bambu, ruang tamu—di kursi dan meja kayu, dan kamarnya yang sederhana itu, tampak buku-buku bergelen­ta­­ngan—tanda saban waktu senggang dijamah tuannya.

“Saya sebenarnya ingin langganan koran, tapi kasi­han lopernya—sampai sini sudah siang,” katanya setahun lalu.

Mulanya—kurang lebih 7-8 tahun lalu, untuk memupuk wawasan dan pengetahuan­nya, dia hanya berteman buku. Tidak kurang lima buku ia beli saban tiga bulan sekali. Atau tepatnya ketika memiliki uang lebih—hasil panen.

Seiring internet masuk desa, dia mulai meman­faatkan internet dengan sangat baik. Melahap setiap informasi—pemberitaan yang berkem­bang.

“Tapi soal bahan bacaan, buku tetap tidak tergantikan,” katanya. Dan, siang menjelang sore yang terik itu, kita janjian—setelah sekian lama hanya kontak-kontakan. Kita bertemu di tempat yang paling gampang di jangkau. Di tengah kota, tapi sepi dari orang-orang yang sibuk mencari suaka.

Di warung kopi itu, saya tiba lebih awal. Selang setengah jam ia datang. Sendiri. Sepeda yang dikendarai masih sama seperti sepuluh tahun lalu, Honda Supra.

Mengenakan kaus oblong lengan pan­jang, gurat wajahnya me­nam­pakkan kelelahan—perjalanan dari ujung barat Tuban.

“Hasyu, puwanas,” katanya. Saya ter­tawa. “Salah siapa memilih jalan anti kemapanan,” kataku ngakak.

Kita duduk di meja pojok, maksudnya di kursi yang ada mejanya. Pesanan kita sama: kopi pahit. Semula, tidak ada bahasan soal PBNU atau PKB. Bagi kami, konflik tak berkesu­dahan itu tidak penting untuk dibahas. Apalagi, dalam seteru itu tercium jelas aroma politis—berebut kuasa.

Namun, setelah hampir satu jam membincang banyak hal yang konyol, termasuk me­nertawakan dinamika politik dengan segala drama dan kelucuan­nya. Tiba-tiba kawan saya berujar, “masih NU?” Dia tanya kepada saya.

“Yes, saya NU, tapi bangga dengan Muhammadiyah,” jawabku tidak kalah nyeleneh, seperti yang pernah saya tulis pada kolom sebelumnya. “Ha­haha…” kawan saya tertawa ngakak.

Maklum, dia tahu, pasca tulisan itu, saya dihajar abis sama orang-orang NU. Lebih tepatnya orang-orang di struktur NU.

Usai ngakak, dia kembali memberikan jawaban yang tidak kalah sarkas, “saya nah­dliyin, tapi bukan ‘NU-nya PBNU’ dan bukan ‘NU-nya PKB’.” Kita ngakak bersama.

Kawan saya menuturkan, perseteruan antara struktural PBNU dan PKB ini mencip­takan kebingungan di akar rumput. Terlebih, “nahdliyin PBNU” dan “nahdliyin PKB” yang selama ini merasa tidak ada masalah. Yang nahdliyin garis PBNU berjuang di jalur keumatan, sedangkan nah­dliyin PKB berjuang di jalur politik kepartaian.

Namun, setelah adanya perseteruan antara struktur PBNU dan PKB, para nah­dliyin di akar rumput dibikin bingung, hingga berujung pada pembelaan masing-masing. Yang “nahdliyin PBNU” mencoba memahami cara berpikir dan bertindak ketua umumnya—yang dulu menginstruksikan kepada seluruh jajaran pengurus NU hingga ranting untuk men­jaga jarak dari partai politik, termasuk dengan PKB, tapi sekarang lain lagi—berusaha “mengambil alih” PKB dengan dalih meluruskan sejarah dan memulihkan hubungan PBNU dan PKB.
Pun demikian dengan PKB, yang katanya lahir dari rahim NU, tapi dianggap tidak takzim kepada “bapaknya”.

Siapa yang benar? “Kedua-dua memiliki ambisi kuasa yang sama,” tegas kawan saya. Sudah tidak rahasia bahwa konflik PBNU dan PKB ini merupakan imbas perseteruan antara Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar dan Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf alias Gus Yahya.

Ada literatur yang menye­butkan bahwa konflik PKB dengan PBNU ini bermula setelah Muktamar ke-34 NU. Dalam gelaran Muktamar di Lampung tersebut, diklaim ada kesepakatan (antara Muhaimin dan Gus Yahya) yang tidak dipenuhi setelah Gus Yahya terpilih sebagai Ketum PBNU.

Jika ditarik ke belakang, perseteruan antara PKB dan PBNU ini sudah berlangsung sejak Muhaimin Iskandar disebut mengambil alih tampuk kekuasaan PKB dari tangan Abdurrahman Wahid alias Gus Dur pada 2008 silam.

Pertanyaannya, kenapa perseteruan hebat antara PKB dan PBNU baru muncul sekarang, hingga Garda Bangsa PKB dan Banser-Pagar Nusa di bawah kendali PBNU siap menggelar perang terbuka, jika diperlukan? Padahal, selama ini hubungan PKB dan PBNU tampak baik-baik saja.

Jawabannya sederhana, karena saat ini PBNU di­pimpin Gus Yahya. Semen­tara sejak 2010 sampai 2021, PBNU dipimpin oleh Said Aqil Siroj. Semua tahu, Muhaimin dan Kiai Said me­miliki frekuensi yang sama. Sementara saat ini frekuensinya berbeda.

Dari sejarahnya, Gus Yahya maupun Sekjen PBNU Syaifullah Yusuf dan Mu­haimin memiliki latar belakang ber­lawanan. Baik latar belakang organisasi maupun perse-teruan lama semasa Gus Dur.

Sebab itu, selama tidak ada hakim bijaksana untuk mendamaikan keduanya, maka seterusnya PBNU-PKB akan tempur, saling serang, saling hajar, saling sindir, dan saling-saling yang lain, hingga salah satunya kalah.

Lantas, sebagai nahdliyin, apa yang harus kita lakukan? Jawabannya, tidak perlu melakukan apa-apa. Sebab, konflik elit PBNU dan PKB ini tidak ada hubungannya dengan kita—warga nah­dliyin. Jika ada yang tanya, jawab dengan tegas: Saya nahdliyin, tapi bukan “NU-nya PBNU dan PKB”. (*)

Editor : Yudha Satria Aditama