Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Cerpen - Milenial Cucu Militer

radar tuban digital • Sabtu, 7 Desember 2024 | 19:30 WIB
Ilustrasi cerpen
Ilustrasi cerpen

“Wah, bakal menjadi seperti apa ya?” ucapku reflek mengomentari sebuah artikel yang disarankan oleh algoritma Google di layar ponselku.

Photo
Photo
Artikel tersebut me­nyebutkan bahwa presiden terpilih mem­berikan pembekalan kepada para menterinya di Akademi Militer, Lembah Tidar, Magelang. Acara yang kubayangkan penuh khidmat itu tak ayal membangkitkan kenangan lama di benakku. Aku tersenyum kecut sambil mem­bayangkan, apakah para menteri itu sedang menerima pembekalan yang sama kerasnya seperti yang dulu kuterima dari nenekku?

Dalam hati, aku mem­bandingkan pembekalan resmi tingkat nasional itu dengan versi pendidikan di “Akademi Militer” pribadi—di bawah asuhan nenek.

Kenangan itu kembali menyeruak, dan tanpa sadar aku berujar, “Aduh…” seolah betisku masih merasakan “pelajaran” dari gagang sapu nenek yang tinggal setengah karena sering memukul betis kanan, dan sesekali yang sebelah kiri. Bagi nenek, sapu bukan hanya alat pembersih, tapi alat disiplin.

Setiap kali aku alpa dengan tugas, gagang sapu itu akan segera beraksi. Nenekku selalu mengatakan, bahwa kaki seorang laki-laki haruslah keras.
“Nek kenek sapu wae wis nggremeng, piye carane kowe iso ngadhepi kerase urip,” ucapnya
15 tahun lalu.

Sulastri—nenekku ada­lah seorang yang keras. Sifat itu bukan karena keinginan semata, tetapi warisan dari masa hidupnya yang keras pula. Sebagai istri tentara di era kolonial, disiplin dan ketegasan seperti sudah menjadi napas sehari-harinya. Tak hanya itu, nenekku juga seorang kepala sekolah yang dikenal tegas.

Wajahnya dengan garis-garis tegas dan tatapan lurus ke depan menyiratkan keteguhan hati yang tak dapat ditawar. Tak ada kompromi di mata nenek. Satu-satunya yang ia kenal adalah ketepatan dan keteraturan.

Satu hal yang kuingat, setiap hari, kami bangun sebelum matahari muncul. Tepat pukul lima, nenek sudah membangunkanku untuk salat Subuh. Tak boleh ada kata “nanti” atau “sebentar,” bahkan hanya untuk menggosok-gosok mata. “Wong lanang ndak oleh males!” kata-nya dengan suara yang menggema di kamar. Selesai salat, aku diha­ruskan merapikan tempat tidur, menyapu latar depan, dan membantu membereskan rumah. Jam enam pagi, aku su­dah siap mengenakan seragam sekolah, mes­kipun sekolah baru dimulai pukul tujuh.

Kebiasaan ini mem­buatku selalu tepat waktu, sebuah kebiasaan yang melekat hingga kini.
Aku tahu betul, dulu aku sering mengeluh tiap kali ia mengomel. Bagiku, waktu itu, nenek seolah tak pernah puas. Selalu saja ada yang salah, se­lalu saja ada yang harus diperbaiki.

Apakah itu botol air minum yang belum terisi, dua lembar daun kering yang belum terangkut pengki, atau meja yang belum di­rapikan dengan benar. Baginya, setiap hal punya tempat dan porsinya sendiri. Kebiasaan ini memang terasa menyiksa di masa kecilku.

Namun, saat ini aku baru me­nyadari manfaat dari semua tempaan itu. Saat harus menghadapi orang-orang dalam ber­bagai lapisan sosial masyarakat, ketegasan dan disiplin yang dulu kurasa berlebihan justru menjadi tameng dan landasan hidupku.

Hal lain yang masih kuingat adalah saat nenek sering berkata dengan nada penuh keyakinan, “Yen kowe ora dadi tentara, paling ora dadia wong lanang sing nduwe mental wesi,” ucapannya yang sering terngiang sampai hari ini. Sayangnya, takdir berkata lain. Jalan untuk menjadi tentara tertutup bagiku. Meski begitu, pengaruh nenek tak pernah hilang. Apa yang dia tanamkan masih terasa kental dalam hidupku.

Terkadang, aku membayangkan ba­gaimana jika murid-murid nenek yang dulu pernah dia ajar, mungkin sekarang berada di posisi penting, mungkin bahkan menjadi menteri yang sekarang sedang mengikuti pembekalan. Pasti mereka punya fondasi disiplin yang kuat, seperti sosok guru “Oemar Bakrie” yang dinyanyikan Iwan Fals dalam lagunya.

Bahkan dewasa ini, sosok guru tegas seperti nenek sudah jarang dijumpai. Entah karena sulit ditemukan atau karena memang enggan menjadi sosok yang keras. Karena itulah, aku memahami mengapa generasi sekarang tampak lebih “lembek”—cepat mengeluh saat ditegur sedikit saja, bahkan lebih parahnya lagi, berani melaporkan guru ke pihak berwenang.

Kehidupan modern telah mengubah cara pandang banyak orang, terutama dalam mendidik anak-anaknya. Berbeda dengan masa nenekku, orang tua kini lebih lunak. Mereka takut anak-anaknya terluka atau kecewa, sehingga cenderung memanjakan daripada mendidik dengan tegas. Disiplin dianggap sebagai sesuatu yang terlalu keras, padahal justru disiplin itulah yang menjadi fondasi ketahanan mental.

Aku bertanya-tanya, jika pola pendidikan disiplin yang keras seperti yang nenek berikan mulai terabaikan, apa yang akan terjadi pada generasi mendatang? Bagaimana kita bisa mencapai Indonesia Emas 2045 jika generasi muda tak dibekali mental tangguh? Di masa nenekku, guru adalah simbol yang diagungkan. Seorang guru dihormati layaknya prajurit yang bertempur di medan perang, mereka berjuang di setiap ruang-ruang kelas dengan tekad menggembleng generasi penerus bangsa. Tetapi kini, sosok guru sering kali tak mendapatkan apresiasi yang layak.

Sikap menghargai guru perlahan-lahan terkikis. Ketika aku melihat bagaimana orang tua di zaman sekarang lebih sering menyalahkan guru daripada menghargainya, aku merasa takut. Banyak anak muda yang, tanpa berpikir panjang, menyalahkan guru atas kegagalan mereka sendiri. Padahal, jika mereka mau merenung sejenak, guru-lah yang dengan sabar membimbing mereka meski menghadapi segala macam tantangan. Aku selalu khawatir, akan tiba masa sebelum tahun 2045, ketika guru hanya dianggap sebagai “pengajar” tanpa nilai keteladanan.

Nenek Sulastri selalu bilang, “Kowe kudu nduwe disiplin, awit wong sing ringkih gampang dibelokke karo godaan donya.” Kata-katanya membuatku semakin sadar akan pentingnya membentuk mental yang kuat. Tapi bagaimana dengan anak-anak muda yang saat ini tumbuh tanpa bekal disiplin itu? Apa yang akan terjadi pada masa depan mereka jika terus-menerus diberi kemudahan tanpa ujian? Rasanya, cita-cita Indonesia Emas 2045 hanya akan menjadi utopia jika generasi mendatang tidak lagi menghormati mereka yang membimbingnya.

Aku tak ingin pesimis, namun kenyataannya, apa yang kudengar dan kulihat di lingkungan sekitarku sering kali membuatku ragu. Generasi saat ini nyatanya mudah terpengaruh, mudah terjebak dalam kenyamanan, dan tak lagi menghormati guru—dan kita berharap kepada mereka untuk mengantar Indonesia menuju puncak kejayaan tepat di 1 abad kemerdekaannya?

15 tahun lalu saat menjelang tutup usia, nenek sudah tidak sekeras dulu. Usianya yang senja membuatnya lebih pendiam, lebih sering melamun menatap dunia luar dari jendela. Meskipun sayup, tatapan matanya kembali tajam. Meski tubuhnya lemah, pikirannya tetap keras.

Dengan suara lirih, nenek berpesan padaku, “Mbesuk, wulangen anak-anakmu kaya
aku mulang kowe. Teknologi bisa digawe, nanging mental baja mung bisa dibentuk.”
Kalimatnya itu mem­buatku termenung lama. Bayangan Indo­nesia Emas 2045 yang penuh kemajuan terlihat semakin kabur di pelupuk mataku. Tanpa disiplin, tanpa rasa hormat pada guru, dan tanpa mental baja, membuatku kembali bertanya.

“Wah, bakal menjadi seperti apa ya?”

Editor : Yudha Satria Aditama
#nenek #disiplin #presiden #tentara