Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Pranoto Mongso dan tanda Alam yang Sudah Rusak

Ahmad Atho’illah • Sabtu, 28 Desember 2024 | 18:30 WIB

Photo
Photo

 

Berabad-abad lalu, jauh sebelum kita mengenal prediksi cuaca Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), masyarakat Jawa sudah memiliki pengetahuan tentang sistem penanggalan dalam memprediksi perubahan musim. Namanya Pranoto Mongso. Namun, seiring zaman beranjak modern dan perubahan iklim yang semakin sulit diprediksi, ilmu titen dalam membaca gejala alam ini perlahan memudar dari ingatan.

 

BAGI generasi 80-an, mungkin sebagian masih akrab dengan istilah Jawa yang menyebut bahwa bulan Desember meru­pakan akro­nim dari gede-gedene sumber atau besar-besarnya sumber air. Sedangkan Ja­nuari memi­liki arti hujan sehari-hari.


Setelah sekian lama peru­bahan iklim sulit diprediksi.

Intensitas hujan yang sangat tinggi pada Desember tahun ini seakan mengingatkan kembali kepada warisan pe­ngetahuan tradisional yang telah lama dilupakan: Pranoto Mongso.


Secara harfiah, pranoto yang berarti aturan dan mongso memiliki arti waktu atau musim.

Ini merupakan ilmu titen yang menjadi patokan orang Jawa, khususnya ka­langan petani dalam me­nentukan musim tanam.


Merujuk sejumlah literatur, sebelum ada kalender Jawa, masya­rakat menggunakan sistem pe­nanggalan Saka Hindu yang ber­dasarkan pergerakan matahari.

 

Baru pada pada tahun Saka Hindu 1554 atau bertepatan tahun 1633 M, Raja Mataram Sri Sultan Agung Prabu Hanyokrokusumo mengganti konsep dasar sistem penangga­lan matahari menjadi sistem bulan seperti kalender hijriah.


Perubahan kalender Jawa dilakukan pada Jumat Legi tahun baru Saka 1555. Ber­tepatan 1 Muharram 1043 H atau 8 Juli 1633 M.

Pergantian sistem ini tidak mengganti hitungan tahun Saka, tapi meneruskannya.


Berikutnya, pada 1855 M, lantaran penanggalan bulan dianggap tidak memadai sebagai patokan petani dalam memulai musim tanam, se­hingga bulan-bulan dalam pranoto mongso yang dibaca berdasar pergerakan matahari itu diperbaharui oleh Sri Paduka Mangkunegara IV.


Di era modern seperti seka­rang, ilmu titen yang diwa­riskan oleh nenek moyang kita ini persis seperti halnya prediksi BMKG.

Hanya saja, BMKG menggunakan sains, se­dangkan nenek moyang kita menggu­nakan ilmu titen berdasar pe­redaran matahari.

Artinya, jauh sebelum sains berkembang, masya­rakat Jawa sudah memiliki penge­tahuan dalam mem­prediksi iklim. Bahkan, mungkin jauh lebih detail.


Seperti halnya 12 bulan dalam setahun, pembagian musim dalam pranoto mongso juga dibagi menjadi 12 mongso.

Pertama, mongso suro.

Musim ini berlangsung selama kurang lebih 41 hari. Dari tanggal 22 Juni–1 Agustus.

Orang Jawa menyebutnya sebagai mongso terang. Ditandai dengan be­r­akhirnya musim panen padi. Waktunya be­bersih tunggak damen atau jerami untuk selanjutnya menanam palawija.


Keloro atau kedua disebut mongso karo.

Musim ini bia­sanya ditandai dengan lemah-lemah podha nelo atau kondisi lahan persawahan yang mulai kering.

Sehingga, tanaman yang cocok ditanam sebangsa palawija. Mongso ini berlang­sung kurang lebih 23 hari. Tepatnya di bulan Agustus dari tanggal 2-24.

Ketiga, mangso ketelu.

Ber­langsung dari tanggal 25 Agus­tus–17 September. Bia­sanya, sumber mata air mulai mengering.

Orang Jawa me­nye­butnya ketigo atau puncak musim kemarau. Sehingga banyak terjadi kekeringan.

Lahan persawahan dibiarkan bero atau kosong tanpa tanaman.

Berikutnya, mongso kepapat.

Berlangsung kurang lebih selama 25 hari.

Dari tanggal 18 Sep­tember-12 Oktober. Ini merupakan mongso untuk mengawali musim tanam, sebab hujan perlahan turun, tapi dengan intensitas yang masih rendah.

Biasanya dise­but musim laboh—berakhirnya musim kema­rau.

Persiapan membajak sawah.
Ini meru­pakan awal musim hujan.

Orang Jawa menyebut wayahe njegor sawah (waktunya meng­garap lahan).

Dimulai kisaran tanggal 13 Oktober-8 November. Pada musim ini, petani mulai melakukan pembibitan.

Nabur wineh (bibit padi).

Mongso keenem (enam).

Dimulai 9 November-21 De­sember. Mongso ini baru saja kita lewati. Hujan mulai sering turun saban hari, dan petani mulai tandur (menanam benih padih).

Lanjut, mongso kepitu.

Musim ketujuh ini berlangsung cukup panjang.

Dari tanggal 22 Desember-2 Februari. Puncak musim penghujan. Orang Jawa menyebut gede-gedene sumber.

Di antara bencana yang bisa terjadi, banjir dan angin kencang (puting beliung). Persis seperti yang terjadi dalam beberapa hari terakhir ini.


Mongso kewolu (delapan).

Berlangsung rentang waktu 26 hari, tapi bisa berlangsung 27 hari dalam empat tahun sekali. Dimulai 3–28 Pebruari. Wak­tunya merawat padi yang mulai tumbuh besar. Kesem­bilan, orang Jawa menye­butnya mong­so kesongo. Kurang lebih 25 hari. Tepat diawali 1 Maret–25 Maret. Padi-padi yang ditanam petani mulai berbulir.


Mongso kesedoso (sepuluh).

Rentang 26 Maret-18 April. Me­nunggu musim tanam. Biasanya, banyak hewan-hewan, seperti sapi dan kambing mulai bunting.

Kemudian, mongso dhesto.

Bahasa sanse­kerta ini memiliki arti sebelas. Diawali 19 April sampai 11 Mei.

Inilah waktu yang ditunggu-tunggu petani.

Waktunya panen padi.

Dan terakhir, orang Jawa menyebutnya mongso sodo.

Peralihan dari musim kemarau ke penghujan. Antara tanggal 12 Mei sampai 21 Juni.

Alam Sudah Rusak
Sujiman, salah satu generasi sepuh di Tuban yang masih memegang teguh ilmu pranoto mongso mengaku sudah ke­sulitan memprediksi peru­bahan iklim menggunakan ilmu titen berdasar peredaran matahari tersebut.


Dan semua itu disebabkan lan­taran ulah tangan manusia modern yang banyak menye­babkan ke­rusakan bumi. Akibatnya, peru­bahan iklim semakin sulit dipre­diksi.

Se­mentara ilmu pranoto mongso merupakan ejawantah dari keseimbangan alam.

Artinya, ketika alam sudah tidak se­imbang.

Maka sulit bagi alam untuk memberikan pesan kepada ma­nusia untuk mem­pre­diksi pe­ru­bahan musim.


Diungkapkan Sujiman, titik tolak alam mulai sulit dipre­diksi itu terjadi sekitar 20-25 tahun lalu. Semenjak saat itu, ilmu pranoto mongso yang dipelajari dari kakek-buyutnya seakan luntur.

Bukan karena sudah tidak hafal dengan ilmu-ilmu yang dipelajari dari kitab Primbon.

Melainkan alam yang sudah rusak.


Jangankan memprediksi pergan­tian musim atau bulan ber­dasarkan ilmu titen.

Turunnya hujan saban hari pun bisa diprediksi. Namun, bukan berarti mendahului takdir.

Melainkan tanda-tanda alam yang masih bisa dilihat.

‘’Dulu, alam mem­berikan pesan yang begitu jelas. Tapi sekarang sudah sulit. Ibarat kaca, alam ini sudah buram, sudah rusak, sehingga sulit dilihat (diprediksi, Red),” katanya de­ngan bahasa Jawa.


Selain tanda-tanda alam, peru­bahan musim juga bisa dikaitkan dengan prilaku hewan dan tum­buhan.

Na­mun, karena kerusakan alam itu pula, kini cukup sulit me­nemukan hewan dan tum­buhan yang membawa ‘pesan’ Illahi.

‘’Suara katak yang teot teblung setiap kali memasuki musim penghujan, sekarang sudah sangat jarang kita dengar. Jangkrik pun sudah jarang kita jumpai.

Alam yang kita tempat ini sudah rusak,” katanya.


Di usianya yang hampir mengin­jak 85 tahun, Sujiman mengaku resah dengan perkembangan teknologi yang membawa begitu banyak dampak kerusakan alam.

Dia pun semakin sulit memba­yangkan kondisi bumi dalam rentang 10-20 tahun ke depan.

‘’Mungkin semakin rusak,” ujarnya resah.


Dulu, kata dia, sewaktu bumi masih belum dirusak oleh manusia dengan dalih revolusi pertanian, pupuk kimia diproduksi massal hingga bercocok tanam dengan cara yang instan, lahan pertanian di pedesaan masih sangat subur.

Bermacam ekosistem rantai makanan begitu mudah ditemukan.


Namun, seiring penggunaan pupuk kimia yang ugal-ugalan dan ulah bengis para pemburu, kini begitu sulit menemukan ekosistem yang menjadi rantai makanan di lahan-lahan per­sawahan.

‘’Anak sekarang sudah tidak tahu apa itu yuyu, apa itu kol (keong sawah). Semua sudah musnah akibat penggunaan pupuk kimia yang ugal-ugalan. Padahal, keberadaan yuyu dan kol itu merupakan tanda sawah-sawah masih subur,” tutur kakek yang kini sudah memiliki sembilan cucu empat cicit itu.


Pun dengan bencana alam yang datang silih bertubi dalam beberapa tahun terakhir ini. Menurut Sujiman, semua itu tidak dari faktor akut kerusakan alam.

‘’Dulu juga ada banjir, tapi air jernih. Ketika banjir, anak-anak malah senang, bisa ciblon (renang).

Tapi sekarang banjirnya mem­bawa lumpur.

Dan itu pun baru beberapa jam diguyur hujan. Ini kan jelas menun­jukkan bahwa alam sudah rusak.

Hutan-hutan sudah banyak ditebang oleh manusia-manusia bebal dan rakus,” katanya.


Lebih lanjut dikatakan olehnya, kalaupun musim hujan tahun ini berlangsung di bulan November-Desember, itu belum bisa dige­neralisir bahwa alam telah kembali pada tatanan awal—se­bagaimana ‘ilmu titen’ pranoto mongso.

‘’Desember memang diyakini oleh orang Jawa sebagai mongso gede-gedene sumber. Tapi itu dulu, sekarang sudah tidak bisa,” katanya.


Wabakdu, jika manusia ber­harap alam kembali seperti semula—memberikan keberkahan kepada manusia, maka manusia harus bertobat: mengembalikan alam pada fungsinya. Alam jangan di­paksa untuk menuruti kera­kusan manusia.

Biarkan alam berjalan sebagaimana yang ditugaskan Tuhan kepadanya. (*)

Editor : Yudha Satria Aditama
#BMKG #alam #musim #pranoto mongso #jawa #hitungan jawa