Berabad-abad lalu, jauh sebelum kita mengenal prediksi cuaca Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), masyarakat Jawa sudah memiliki pengetahuan tentang sistem penanggalan dalam memprediksi perubahan musim. Namanya Pranoto Mongso. Namun, seiring zaman beranjak modern dan perubahan iklim yang semakin sulit diprediksi, ilmu titen dalam membaca gejala alam ini perlahan memudar dari ingatan.
BAGI generasi 80-an, mungkin sebagian masih akrab dengan istilah Jawa yang menyebut bahwa bulan Desember merupakan akronim dari gede-gedene sumber atau besar-besarnya sumber air. Sedangkan Januari memiliki arti hujan sehari-hari.
Setelah sekian lama perubahan iklim sulit diprediksi.
Intensitas hujan yang sangat tinggi pada Desember tahun ini seakan mengingatkan kembali kepada warisan pengetahuan tradisional yang telah lama dilupakan: Pranoto Mongso.
Secara harfiah, pranoto yang berarti aturan dan mongso memiliki arti waktu atau musim.
Ini merupakan ilmu titen yang menjadi patokan orang Jawa, khususnya kalangan petani dalam menentukan musim tanam.
Merujuk sejumlah literatur, sebelum ada kalender Jawa, masyarakat menggunakan sistem penanggalan Saka Hindu yang berdasarkan pergerakan matahari.
Baru pada pada tahun Saka Hindu 1554 atau bertepatan tahun 1633 M, Raja Mataram Sri Sultan Agung Prabu Hanyokrokusumo mengganti konsep dasar sistem penanggalan matahari menjadi sistem bulan seperti kalender hijriah.
Perubahan kalender Jawa dilakukan pada Jumat Legi tahun baru Saka 1555. Bertepatan 1 Muharram 1043 H atau 8 Juli 1633 M.
Pergantian sistem ini tidak mengganti hitungan tahun Saka, tapi meneruskannya.
Berikutnya, pada 1855 M, lantaran penanggalan bulan dianggap tidak memadai sebagai patokan petani dalam memulai musim tanam, sehingga bulan-bulan dalam pranoto mongso yang dibaca berdasar pergerakan matahari itu diperbaharui oleh Sri Paduka Mangkunegara IV.
Di era modern seperti sekarang, ilmu titen yang diwariskan oleh nenek moyang kita ini persis seperti halnya prediksi BMKG.
Hanya saja, BMKG menggunakan sains, sedangkan nenek moyang kita menggunakan ilmu titen berdasar peredaran matahari.
Artinya, jauh sebelum sains berkembang, masyarakat Jawa sudah memiliki pengetahuan dalam memprediksi iklim. Bahkan, mungkin jauh lebih detail.
Seperti halnya 12 bulan dalam setahun, pembagian musim dalam pranoto mongso juga dibagi menjadi 12 mongso.
Pertama, mongso suro.
Musim ini berlangsung selama kurang lebih 41 hari. Dari tanggal 22 Juni–1 Agustus.
Orang Jawa menyebutnya sebagai mongso terang. Ditandai dengan berakhirnya musim panen padi. Waktunya bebersih tunggak damen atau jerami untuk selanjutnya menanam palawija.
Keloro atau kedua disebut mongso karo.
Musim ini biasanya ditandai dengan lemah-lemah podha nelo atau kondisi lahan persawahan yang mulai kering.
Sehingga, tanaman yang cocok ditanam sebangsa palawija. Mongso ini berlangsung kurang lebih 23 hari. Tepatnya di bulan Agustus dari tanggal 2-24.
Ketiga, mangso ketelu.
Berlangsung dari tanggal 25 Agustus–17 September. Biasanya, sumber mata air mulai mengering.
Orang Jawa menyebutnya ketigo atau puncak musim kemarau. Sehingga banyak terjadi kekeringan.
Lahan persawahan dibiarkan bero atau kosong tanpa tanaman.
Berikutnya, mongso kepapat.
Berlangsung kurang lebih selama 25 hari.
Dari tanggal 18 September-12 Oktober. Ini merupakan mongso untuk mengawali musim tanam, sebab hujan perlahan turun, tapi dengan intensitas yang masih rendah.
Biasanya disebut musim laboh—berakhirnya musim kemarau.
Persiapan membajak sawah.
Ini merupakan awal musim hujan.
Orang Jawa menyebut wayahe njegor sawah (waktunya menggarap lahan).
Dimulai kisaran tanggal 13 Oktober-8 November. Pada musim ini, petani mulai melakukan pembibitan.
Nabur wineh (bibit padi).
Mongso keenem (enam).
Dimulai 9 November-21 Desember. Mongso ini baru saja kita lewati. Hujan mulai sering turun saban hari, dan petani mulai tandur (menanam benih padih).
Lanjut, mongso kepitu.
Musim ketujuh ini berlangsung cukup panjang.
Dari tanggal 22 Desember-2 Februari. Puncak musim penghujan. Orang Jawa menyebut gede-gedene sumber.
Di antara bencana yang bisa terjadi, banjir dan angin kencang (puting beliung). Persis seperti yang terjadi dalam beberapa hari terakhir ini.
Mongso kewolu (delapan).
Berlangsung rentang waktu 26 hari, tapi bisa berlangsung 27 hari dalam empat tahun sekali. Dimulai 3–28 Pebruari. Waktunya merawat padi yang mulai tumbuh besar. Kesembilan, orang Jawa menyebutnya mongso kesongo. Kurang lebih 25 hari. Tepat diawali 1 Maret–25 Maret. Padi-padi yang ditanam petani mulai berbulir.
Mongso kesedoso (sepuluh).
Rentang 26 Maret-18 April. Menunggu musim tanam. Biasanya, banyak hewan-hewan, seperti sapi dan kambing mulai bunting.
Kemudian, mongso dhesto.
Bahasa sansekerta ini memiliki arti sebelas. Diawali 19 April sampai 11 Mei.
Inilah waktu yang ditunggu-tunggu petani.
Waktunya panen padi.
Dan terakhir, orang Jawa menyebutnya mongso sodo.
Peralihan dari musim kemarau ke penghujan. Antara tanggal 12 Mei sampai 21 Juni.
Alam Sudah Rusak
Sujiman, salah satu generasi sepuh di Tuban yang masih memegang teguh ilmu pranoto mongso mengaku sudah kesulitan memprediksi perubahan iklim menggunakan ilmu titen berdasar peredaran matahari tersebut.
Dan semua itu disebabkan lantaran ulah tangan manusia modern yang banyak menyebabkan kerusakan bumi. Akibatnya, perubahan iklim semakin sulit diprediksi.
Sementara ilmu pranoto mongso merupakan ejawantah dari keseimbangan alam.
Artinya, ketika alam sudah tidak seimbang.
Maka sulit bagi alam untuk memberikan pesan kepada manusia untuk memprediksi perubahan musim.
Diungkapkan Sujiman, titik tolak alam mulai sulit diprediksi itu terjadi sekitar 20-25 tahun lalu. Semenjak saat itu, ilmu pranoto mongso yang dipelajari dari kakek-buyutnya seakan luntur.
Bukan karena sudah tidak hafal dengan ilmu-ilmu yang dipelajari dari kitab Primbon.
Melainkan alam yang sudah rusak.
Jangankan memprediksi pergantian musim atau bulan berdasarkan ilmu titen.
Turunnya hujan saban hari pun bisa diprediksi. Namun, bukan berarti mendahului takdir.
Melainkan tanda-tanda alam yang masih bisa dilihat.
‘’Dulu, alam memberikan pesan yang begitu jelas. Tapi sekarang sudah sulit. Ibarat kaca, alam ini sudah buram, sudah rusak, sehingga sulit dilihat (diprediksi, Red),” katanya dengan bahasa Jawa.
Selain tanda-tanda alam, perubahan musim juga bisa dikaitkan dengan prilaku hewan dan tumbuhan.
Namun, karena kerusakan alam itu pula, kini cukup sulit menemukan hewan dan tumbuhan yang membawa ‘pesan’ Illahi.
‘’Suara katak yang teot teblung setiap kali memasuki musim penghujan, sekarang sudah sangat jarang kita dengar. Jangkrik pun sudah jarang kita jumpai.
Alam yang kita tempat ini sudah rusak,” katanya.
Di usianya yang hampir menginjak 85 tahun, Sujiman mengaku resah dengan perkembangan teknologi yang membawa begitu banyak dampak kerusakan alam.
Dia pun semakin sulit membayangkan kondisi bumi dalam rentang 10-20 tahun ke depan.
‘’Mungkin semakin rusak,” ujarnya resah.
Dulu, kata dia, sewaktu bumi masih belum dirusak oleh manusia dengan dalih revolusi pertanian, pupuk kimia diproduksi massal hingga bercocok tanam dengan cara yang instan, lahan pertanian di pedesaan masih sangat subur.
Bermacam ekosistem rantai makanan begitu mudah ditemukan.
Namun, seiring penggunaan pupuk kimia yang ugal-ugalan dan ulah bengis para pemburu, kini begitu sulit menemukan ekosistem yang menjadi rantai makanan di lahan-lahan persawahan.
‘’Anak sekarang sudah tidak tahu apa itu yuyu, apa itu kol (keong sawah). Semua sudah musnah akibat penggunaan pupuk kimia yang ugal-ugalan. Padahal, keberadaan yuyu dan kol itu merupakan tanda sawah-sawah masih subur,” tutur kakek yang kini sudah memiliki sembilan cucu empat cicit itu.
Pun dengan bencana alam yang datang silih bertubi dalam beberapa tahun terakhir ini. Menurut Sujiman, semua itu tidak dari faktor akut kerusakan alam.
‘’Dulu juga ada banjir, tapi air jernih. Ketika banjir, anak-anak malah senang, bisa ciblon (renang).
Tapi sekarang banjirnya membawa lumpur.
Dan itu pun baru beberapa jam diguyur hujan. Ini kan jelas menunjukkan bahwa alam sudah rusak.
Hutan-hutan sudah banyak ditebang oleh manusia-manusia bebal dan rakus,” katanya.
Lebih lanjut dikatakan olehnya, kalaupun musim hujan tahun ini berlangsung di bulan November-Desember, itu belum bisa digeneralisir bahwa alam telah kembali pada tatanan awal—sebagaimana ‘ilmu titen’ pranoto mongso.
‘’Desember memang diyakini oleh orang Jawa sebagai mongso gede-gedene sumber. Tapi itu dulu, sekarang sudah tidak bisa,” katanya.
Wabakdu, jika manusia berharap alam kembali seperti semula—memberikan keberkahan kepada manusia, maka manusia harus bertobat: mengembalikan alam pada fungsinya. Alam jangan dipaksa untuk menuruti kerakusan manusia.
Biarkan alam berjalan sebagaimana yang ditugaskan Tuhan kepadanya. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama